Sashka Fanfic's

“Let’s live while doing things we like.” -Sehun

Fairy (Chapter 2)

Leave a comment

Fairy

Tittle : Fairy

Genre : Fantasy || Romance || Comedy(maybe)

Rating : PG-17

Author : Sashka

Length : Chaptered

Main Cast : Kim Eunsa || Oh Sehun

Sumarry : Aku gagal.

“Luhan, bagaimana bisa aku jadi manusia?” Tanya Eunsa manja kepada Luhan. Luhan hanya menatapnya datar, ia juga bingung kenapa ini bisa terjadi.

“Molla! Lagian juga kau sendirikan yang menginginkan menjadi manusia untuk bisa merasakan cinta.” Ujar Luhan yang mendapatkan tatapan death – glare dari Eunsa.

“Kenapa kau jadi gini, sih? Arrrggghhh! Pokoknya kau harus cari tahu kenapa aku bisa jadi manusia, Luhan! Arraseo?” Eunsa pun menatap Luhan penuh harapan. Luhan mengacak rambut Eunsa lalu berpamitan untuk pergi.

Seketika Eunsa baru ingat kalau Sehun menyuruhnya untuk tidak pergi kemana – mana. Ia berlari ketempat awal –tempat dimana Sehun menyuruhnya menunggu. “Aishhh kenapa aku bisa jadi begini sih!” Gerutuk Eunsa saat berlari. Samar – samar ia mendengar seseorang meneriakki namanya.

“Sehun! Aku disini!” Teriak Eunsa terengah – engah. Sehun pun menghampiri Eunsa yang masih mengatur pernapasannya. Tatapannya seperti tatapan khawatir. “Kau kemana saja? Sudahku bilang tunggu sana saja.” Ujar Sehun khawatir.

Bunyi yang asing terdengar dari perut Eunsa. Eunsa tersenyum konyol kearah Sehun. “Sepertinya aku butuh makan, heheh.” Ujarnya diselangi kekehan konyolnya itu. Eunsa pun mengekor dibelakang Sehun.

Luhan mencoba pergi ke perpustakaan peri. Tidak tahu sudah berapa buku yang ia baca, demi mengembalikkan Eunsa. Lama ia membalik halaman demi halaman. Kini ia berhenti saat melihat penuturan dalam buku itu.
Tertulis bahwa; Seorang peri akan berubah menjadi manusia, saat ia jatuh cinta kepada manusia termasuk jatuh cinta kepada sesama peri. Cara kembali menjadi peri adalah mati. Ketika sudah berubah menjadi manusia, dan ingin kembali adalah dengan cara mati atau bunuh diri. Dan tak lama ia akan ditentukan oleh takdir menjadi manusia atau kembali menjadi peri. Luhan pun menutup buku itu. Gawat! Bagaimana kalau Eunsa ditakdirkan menjadi manusia? Aku harus berpisah dengan sahabat kecilku? Ani!, batin Luhan.

Tak lama ada panggilan masuk kedalam buku tebal Luhan. Panggilan cinta seorang manusia. Dan saat dibuka, orang itu adalah Eunsa dan pria itu. “Bagaimana bisa aku harus menjadi mereka menjadi cinta? Apa Eunsa benar – benar mencintai pria itu? Molla!” Luhan mengacak rambutnya frustasi.

“Berapa hari kau tidak makan, eoh?” Tanya Sehun menatap yeoja didepannya tidak percaya. Bagaimana tidak, yeoja didepannya itu sudah menghabiskan 3 mangkok ramen dan memesannya lagi. “Hehehe” Eunsa hanya menjawabnya dengan kekehan saja.

“Wajah yang menarik. Mata yang indah, bibir yang mungil, kulit yang mulus, dan hati yang baik. Sempurna. YA! Oh Sehun apa yang kau pikirkan, eoh? Lupakan! Lupakan!” Batin Sehun yang tetap menatap Eunsa.

Eunsa merasa risih saat merasa Sehun memperhatikannya. “Kenapa?” Tanya Eunsa yang membalas tatapan Sehun. Aishhh tatapannya, mempesona. Sempurna. Batin Eunsa. “Ani.” Balas Sehun memalingkan wajahnya.

Selesai mereka pun pulang. Hari sudah malam. Saat pulang, Eunsa tidak langsung mandi dan tidur. Ia duduk disofa dan menyalahkan tv. Berbeda dengan Sehun yang pergi kedapur dan menuangkan air kedalam gelas lalu menenguknya habis.

“Sehun! Kenapa film ini aneh sekali?” Tanya Eunsa yang kini sedang menonton anime. Sehun yang baru keluar dari kamar terkejut dan langsung berlari kearah sofa. “YA! MATIKAN!” Teriak Sehun menyuruh Eunsa mematikkan tv.

Wae?” Tanya Eunsa polos. Tentu saja Sehun menyuruhnya mematikan tv. Eunsa menonton film anime untuk orang DEWASA. “Kau tidak boleh menonton film itu! Itu untuk orang yang diatas 18 tahun.” Tutur Sehun.

“Tapi umurku 500. Jadi, tidak apa – apa?” Lagi – lagi Sehun salah bicara. Dia lupa kalau Eunsa berumur 500 tahun. “Maksudku untuk orang dewasa dan orang yang bepikiran dewasa.” Lanjutnya , dan Eunsa hanya ber-oh-ria.

“Baiklah. Cepat tidur! Besok kau harus bangun pagi hari.” Ujar Sehun lalu masuk kedalam kamarnya.

Eunsa POV

Saat malam hari ini aku juga belum tidur. Alasannya adalah, aku bertemu dengan Luhan. “Jadi bagaimana, Lu?” Tanyaku penasaran. Aaa aku penasaran sekali~

“Kau harus mati.” Aku mengerjapkan mataku berkali-kali. Apa aku harus mati? Lalu pergi dari dunia ini begitu saja? Menyebalkan! “Tunggu dulu. Setelah kau mati, takdir akan menentukanmu menjadi peri atau manusia.” Aku menatap Luhan penuh harapan.

“Berarti aku bisa kembali?” Tanyaku dengan puppy eyes andalanku. “Tergantung takdirmu, manusia.” Ejekkannya itu membuatku muak. Lantas aku memukul lengannya dengan cukup keras.

“Baiklah. Aku pergi, manusia.” Ejeknya diselingi kekehan konyol yang tak berguna itu. “Awas kau, Lu!” Ancamku, dia menjulurkan lidahnya lalu pergi dari hadapanku. Aku menghela nafasku kasar. Aku ingin kembali, tapi aku menjadi manusia karena pria itu. Aishhh membuat pusing!

Aku terbangun dari tidurku. Tidurku sangatlah nyenyak. Aku baru merasakan yang namanya mengantuk, lalu lelah, lapar dan masih banyak lagi. Lebih enak menjadi peri, tapi tidak enak juga sih. Serba salah hidup ini.

Saat aku keluar, aku melihat Sehun dengan rambut yang berantakkan. Dan.. Wajah bangun tidurnya. Tampan. Aishhh! Pikiranmu aneh sekali, Eunsa!

“Kau sudah bangun?” Tanyanya dengan nada serak khas bangun tidur. “Ne..” Aku menghampirinya yang sedang menuangkan air. Aku langsung mrngambil gelas itu, dan menenguknya habis. Terlihat diwajahny, bahwa ia kesal dengan kelakuanku.

“Gomawo.” Ujarku meninggalkan dapur. Aku mendengar Sehun bergumam tidak jelas. Dan memanggilku. “Eunsa!” Teriaknya.

“Ne?” Sahutku menatapnya. “Cepat mandi! Kau ikut aku hari ini.” Aku mengangguk pasti, lalu segera masuk kedalam kamar mandi. Segar.

Sejak tadi, aku tidak tahu kemana. Saatku tanya, dia hanya diam dan tetap fokus menyetir. Menyebalkan! “Sampai!” Ujarnya membuatku terkejut. Tentu saja, sejak tadi hening dan tiba – tiba dia mengeluarkan suara. Membuatku takut saja namja ini. Aku hanya mengekor dibelakangnya. Saat dia berhenti, aku menabrak badannya yang lebih besar dariku.

“Tunggu disini, oke? Ingat! Jangan pergi kemana – mana! Aku akan kembali, oke?” Ujarnya lalu berjalan meninggalkanku disini sendirian. Aku hanya duduk disini dan memperhatikan orang – orang yang lewat didepanku. Mereka semua melihatku dengan tatapan aneh. Saat itu juga, aku melihat kecil menangis.

“Adik kecil! Kemarilah..” Aku memanggilnya dan dia menghampiriku sembari menangis. “Kau kenapa, tampan?” Tanyaku menghapus air matanya itu.

“Ahjumma, es klimku jatuh. Eommaku sedang bekelja. Hiks..” Ujarnya anak kecil itu sambil menangis. Aku tetap berusaha menghapus air matanya.

“Es krim? Apa itu?” Tanyaku. Tentu, aku tidak tahu es krim apa, dan bentuknya seperti apa.

“Ahjumma tidak tahu es klim?” Tanyanya berhenti menangis.

“Tidak.”

Anak kecil itu sekarang malah mengerecutkan bibirnya. Kyeotaa~

“Sekarang kau duduk saja ya disini.” Dia hanya mengangguk, lalu duduk disampingku.

Akhirnya, ibunya anak kecil itu datang menghampiriku. Anak itu bawel sekali. Untung saja aku belum dewasa, jadi belum mempunyai keturunan. Tentu, dikaum kami juga ada hal ‘itu’. Tapi, tanpa rasa cinta sama sekali. Hanya untuk keturunan saja.

Tak lama dari itu. Sehun datang menghampiriku. “Kenapa kau lama sekali?” Tanyaku pada Sehun yang kini ada didepanku.

Mian.” Ucapnya lalu menarik tanganku. “Ayo, kita pergi dari sini.” Dia terus menarik tanganku, dan membawa ke mobilnya.

Aku melihat wajah Sehun seperti menahan marah. Dia kenapa coba? Ahh mungkin dia patah hati lagi. Menyedihkan sekali hidupnya. Ck.. Menjadi manusia tidak seperti apa yang aku pikirkan. Kadang menyenangkan, kadang tidak.

“Aku akan membawamu pulang. Dan nanti aku akan pulang malam. Jadi, kau kunci pintu saja.” Ujarnya, aku hanya mengangguk mengerti tentunya.

Setelah sampai, aku langsung masuk kedalam dan duduk disofa. Huaaaa melelahkan sekali. Padahal aku tidak melakukan apapun, tapi lelah sekali tubuh ini. “AAAA!”

“Kau mengejutkanku, Lu.” Aku mengelus dadaku karena terkejut atas kehadiran Luhan tiba – tiba ini. “Ada apa, Lu? Apa ada hal penting?” Tanyaku dengan penuh penasaran.

Ani. Aku hanya ini melihat apa yang manusia lakukan. HAHA” Ejekkan itu sungguh membuatku muak. “Cih.. Lihat saja kau, Luhan! Aku berdoa semoga kau menjadi manusia juga, dan merasakan apa yang aku rasakan!”

Ia membulatkan matanya. “TIDAK!! Aku tidak mau, Eunsa!” Teriaknya

“Tapi–”

“Tapi, aku suka melihat seorang manusia Eunsa. Dia membuatku ingin melihatnya terus.” Ujarnya, aku membulatkan mataku. Aku tidak mau sahabatku menjadi manusia sepertiku. “ANDWEEE!!!” Teriakku.

“Kau tidak boleh menyukai seseorang! Atau… kau menjadi sepertiku!”

“Tapi, cepat atau lambat, itu akan terjadi.” Ia menundukkan kepalanya, terlihat bahwa wajahnya itu sedih. Aku mengusap bahunya, untuk menenangkan dirinya.

“Eunsa.. Kau baik – baik saja?” Luhan menatapku khawatir, aku menganggukkan kepalaku. Lalu semuanya buram, dan semua yang aku lihat gelap.

 

-TBC-

 

Note : Terimakasih yang sudah baca ff gajeku ini. Sorry update ini lama banget. Soalnya emang begitulah, sibuk sama kurikulum 2013. Sama aku juga mau ngasih tau, ffku yang judulnya ‘The Erratic’ kayanya updatenya lama juga deh, yang pasti karena aku sibuk sama sekolah dan grgr kurikulum baru ini.

Advertisements

Author: Sashka

Jongin's wife. Teleporters // Whirlwinds // Pyromaniac.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s