Sashka Fanfic's

“Let’s live while doing things we like.” -Sehun

Happy Ending

Leave a comment

Happyending

Tittle : Happy Ending

Author : Sashka

Genre : Sad | Romance | Married Life

Main cast : Cho Yoonhee | Kris Wu

Rating : PG – 17

Lenght : Oneshoot

Disclaimer : Cerita milik saya. Cast milik Tuhan yang maha esa, kecuali OC milik saya. No Plagiat!

 

Beginilah kehidupanku. Bersembunyi dan menghindar. Kehidupan seperti ini sudah hampirku jalani selama 8 bulan, setelah dia memperlakukanku seperti itu. Dia itu adalah suamiku –Kris Wu. Terkadang dulu, dia suka memukulku karena aku pergi tanpa memberi tahunya, meniduriku karena aku berbicara dengan pria lain, atau memarahiku karena aku bertanya sesuatu padanya.

Karena itulah aku pergi dari kehidupannya. Dan anehnya kami sampai sekarang belum juga bercerai. Lagi pula semenjak aku pergi dari rumah, ia tidak pernah mencariku lagi. Sakit. Itulah yang aku rasakan. Betapa sakitnya hati ini saat aku melihatnya dengan wanita lain. Kami menikah dengan embel – embel perjodohan sialan.

Eommanya dengan eommaku berteman dekat, sehingga kami dijodohkan. Dan bodohnya, aku tidak menolak perjodohan ini. Begitu juga dengannya. Jika aku bisa kembali ke waktu itu, aku akan menolak ini semua. Dan ini semua tidak akan terjadi sama sekali. Begitu juga dengan jiwa yang ada didalam perutku. Dia tidak akan merasakan sakitnya kehidupan ini.

Beberapa bulan yang lalu, aku melihatnya pergi ke club. Kuikuti dia, sampai aku melihat dia bercumbu mesra dengan wanita malam itu. Saat itu aku berusaha menahan air mataku untuk tidak menangis, tapi apa daya air mataku mengalir dengan deras.

Saat ini aku berada di Apartement sederhanaku. Apartement yang kubeli pakai uang jerih payahku. Sialnya, Apartement ini lumayan dekat dengan Apartement yang kutinggali dulu bersama Kris. Sebenarnya aku bisa membeli Apartement didaerah lain. Tapi, disini harganya lebih murah.

Dan lebih parahnya, aku suka melihat Kris sedang berada di toko dekat Apartement. Kini, aku berjalan keluar untuk mencari makanan. Akibat ngidam. Selama aku ngidam, tidak ada yang membelikanku makanan saat tengah malam. Alhasil, aku harus keluar rumah sendiri.

Sungguh, aku lelah seperti ini. Aku ingin kehidupan yang normal. Intinya, aku mau kehidupanku menjadi happy ending, jangan sad ending.

Hari yang kutunggu – tunggu pun tiba. Kelahiran. Itulah yang selama ini kutunggu – tunggu. Betapa senangnya diriku, saat suster mengatakan bayiku laki – laki.

3 MINGGU KEMUDIAN..

Aku bekerja diclub malam untuk anakku, Cho Jihu. Kenapa aku tidak menggunakan marga suamiku? Karena aku yang membesarkannya seorang diri.

Bosku memanggilku, menyuruh mengantarkan makanan keruang VIP. Saat aku masuk. Glep! Dia, Kris sedang menatapku tajam. Aku bimbang, harus menaruh makanan ini atau lari keluar. Okay, aku menaruh makanan itu dan langsung buru – buru keluar.

Tapi, Kris sudah menahanku duluan. “Berhentilah menghindar, Yoonhe.” Ujarnya lembut, dan ini pertama kalinya aku mendengar suara lembutnya dia.

“Jangan pergi lagi. Kumohon, Yoonhe. Pulanglah kerumah.” Kulihat wajahnya pun bersedih. Tak bisa kutahan lagi, aku menangis sejadinya. Dia pun memelukku dengan erat, lalu membisikkan sesuatu, “Aku merindukanmu, Yoonhe.” Aku tersenyum dalan pelukkannya. Ternyata, kehidupanku tidak semenyedihkan yang aku kira.

Setelah pulang kerja, aku merapihkan barang – barangku. Dan aku mencoba keluar melihat suasana. Kris, kulihat dia menatapku sambil bersandar dimobilnya, lalu menghampiriku. “Sudah selesaikan? Mari pulang.” Dia sudah menarik tanganku, dengan cepat aku menghempaskannya.

Aku melupakan Jihu didalam. Aku harus kembali. “Kenapa? Kau tidak mau pulang?” Tanyanya dengan wajah sedihnya. “Ani, aku harus kedalam dulu, nanti aku akan kembali.” Bodohnya diriku. Aku tidak bisa menolaknya, dan seharusnya aku tidak bilang akan kembali padanya.

Aku pun berlari kedalam. Melihat Jihu–ku tersayang sedang tidur digendongan temanku. “Dia sangatlah lucu, Yoonhe. Aku ingin cepat – cepat punya anak.” Aku tersenyum mendengar temanku menyukai Jihu. Aku pun mengambil Jihu dan berpamitan untuk pulang.

Kulihat Kris mengerutkan alisnya. “Anak siapa dia?” Tanyanya masih dengan alis yang berkerut. “A.. A-anak kita, oppa.” Jawabku. Kalian tahu, aku berfikir dia akan memarahiku atau lainnya. Tapinya tidak, dia mengendong Jihu. “Siapa namanya?” Omg! Aku menamakannya dengan margaku. “Namanya Cho Jihu.”

Dia pun menatapku bingung. “Bagaimana bisa marga namamu. Tidak, namanya Wu Jihu. Itu lebih baik.” Ujarnya sembari tersenyum. “Dan satu lagi, saat sampai di Apartement kau harus mendapat hukuman dariku.” Ujarnya kembali memberi Jihu, lalu masuk kedalam mobil.

Perasaanku tidak enak. Aku pun masuk kedalam mobil, dan menjadi pikiranku adalah barang – barangku di Apartementku. Aku pun menatap keluar jendela mobil. Sampai kapan aku tidak bisa menolak dan selalu pasrah? Aku lelah dengan ini semua, batinku.

Saat sampai di Apartement, aku langsung menaruh Jihu dikamar tamu. Ya, Kris menyuruhku untuk mentidurinya disana saja. Hampir setengah jam aku berusaha membuat Jihu tidur, sampai akhirnya di terlelap juga. Lalu, aku meninggalkan kamar itu dengan pelan.

Baru saja aku menutup pintu, Kris sudah ada didepanku. “Kau harus kuberi pelajaran, Yoonhe.” Dia pun menarik tanganku secara kasar. Aku tidak menolak, pasrah. Dia pun menutup pintu kamar, lalu mendorongku kedinding. Punggungku terasa amat sakit.

“Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau hamil, eoh?” Aku hanya menunduk. Aku juga tidak memberi tahunya karna sebuah alasan. Aku berfikir kalau ia tidak akan mengganggap bayi yang ada diperutku. Dan tidak mau melihatnya bercumbu mesra saat aku sedang hamil.

“Jawab aku, Yoonhee.” Diam. Itulah yang aku lakukan sekarang. Aku hanya diam sejak tadi. Intinya, aku pasrah jika ia akan memukulku atau lainnya. Aku sedang tidak ingin bertengkar dengannya membuatku sakit.

“Baiklah kalau kau tidak mau menjawab.” Dia pun langsung mencium bibirku. Dan tidakku sadari, sekarang dia sudah menindihku diatas kasur. Dan berlanjut sampai hal ‘itu’. Kalian pasti mengerti maksudku kan?

Aku berusaha membuka mataku saat mendengar suara tangisan Jihu dari kamar sebelah. Kulihat ini sudah pagi, dan dia masih tidur dengan lelap. Aku pun memakai baju yang ada dilantai, lalu menenangkan Jihu. Dan sialnya saat aku sedang menenangkannya, waktu masih menunjukkan 6 pagi.

Akhirnya Jihu tertidur. Aku pun membuat sarapan untuknya, sekaligus untukku. Saat sedang memasak, aku merasa ada yang memelukku dari belakang, dan aku tahu itu siapa. Kris, dialah pelakunya. “Eumm oppa, a-aku se-sedang memasak.” Ujarku dengan terbata – bata. “Lanjutkan sajalah pekerjaanmu.”

Kau memberikanku harapan palsu.

Aku mengira kau benar – benar melakukan ini semua.

Tahunya aku salah besar.

Kau tidak benar – benar melakukan ini.

Dan kau sama sekali tidak  membalas cintaku.

Sepi. Apartement ini serasa sepi sekali, walaupun dulu aku memang selalu seperti ini. Aku hanya duduk diruang tengah sembari menggendong Jihu yang sedang tidur. Aku melihat jam dan menunjukkan pukul 5 sore. Terkadang Kris akan pulang jam segini, lalu kembali pergi lagi ke club. 

CLEKK..

Kris. Dia pulang kerumah dengan waktu yang cepat. Ia pun melewatkanku dan sama sekali tidak menoleh kepadaku. Aku memaksa diri untuk tersenyum padanya, tidak! Maksudku punggungnya. Jihu terbangun, dan aku harus membuatkannya susu. Di dapur aku berpapasan dengan Kris. Dia hanya menatapku datar, saat aku melewatinya, dia menahan tanganku.

Ck, kau takut denganku Yoonhe? Aku ini suamimu, bukan monter yang perlu kau takutkan!” Bentaknya sembari mengencangkan genggamannya pada tanganku. “Awhh.. Oppa lepaskan, ini sakit.” Seharusnya dari dulu aku melawannya. Menendangnya, membalas perbuatannya, atau membunuhnya mungkin?

Tapi aku tidak bisa melakukan itu semua. Menyedihkan. Aku hanya yeoja pengecut yang hanya berani dibelakang. Dia menatapku kesal, lalu melepaskan genggamannya itu. Tidak ku sia-siakan. Aku memberi susu pada Jihu.

Sebenarnya maumu apa, Kris? Kau ingin aku menjadi pajanganmu lagi? Kali ini aku sungguh sakit. Aku tidak tahan mendengar desahanmu dengan wanita-wanita itu setiap malam. Apalagi saat kalian melakukannya didapur, aku tidak bisa mengambil air minum dan membuat susu untuk Jihu.

Dan sekarang aku mendengar itu lagi. Menutup telinga rapat – rapat dan berusaha tidak ada yang terjadi. Sampai terdengar pintu terbuka, aku menoleh kearah itu. Kris menghampiriku, lalu bersujud didepanku. Aku tidak mengerti maksudnya, dan hanya mengerutkan keningku.

“Maafkan aku, Yoonhe.” Lirihnya. Lalu mengangkat wajahnya, menatap wajahku dengan intens. “Kau maukan memaafkanku, Yoonhe?” Aku mengangguk pasti. Setiap orang itu pasti punya kesempatan kedua. Hanya saja kesempatan itu akan berarti jika dia tidak menyia-nyiakannya.

Bibirnya pun mengecup bibirku lembut, beda dari sebelum-belumnya. Yang masih aku ragukan adalah, apakah dia sungguh – sungguh? Aku takut dia hanya bermain – main denganku lagi. Belum lagi, dia baru saja melakukan itu dengan wanita lain.

Gomawo~ Kita ulang dari awal, mau kan?” Aku tersenyum, lalu mengangguk lagi. Sampai kegiatan kami berlanjut diatas kasur. Aku percaya, awalnya menyedihkan dan akhirnya akan menyenangkan. Hidup itu setengah menyedihkan dan setengah menyenangkan. Itu lah hidup, harus adil.

Kegiatan kami berhenti saat Jihu menangis dengan kerasnya. Awalnya, Kris terus melakukannya sampai aku memukul kepalanya. Dan aku berakhir dikamar Jihu, menenangkan darah dagingku. Setiap melihat wajahnya, aku hanya ingin tersenyum. Wajahnya mirip sekali dengan Kris. Rambutnya dan hidungnya yang mirip denganku, dan semuanya mirip Kris.

Selesai, aku kembali kekamar. Kulihat Kris sedang tertidur, akupun ikut tidur disebelahnya. Membelakanginya karena takut menatap wajahnya. Tiba – tiba tangan besarnya memelukku dari belakang. “Jangan tidur membelakangiku.” Dia pun membalikkan tubuhku menghadapnya. Dia tersenyum sembari mengelus rambutku.

Mengecup keningku dengan lembut. “Maafkan aku Yoonhe. Maaf..” Ujarnya disela – sela ia mengecup puncak kepalaku. Dia memelukku dengan erat, aku membalas pelukkannya. “Maafkan aku karna selalu kasar padamu. Maaf aku selalu meniduri wanita lain. Maaf aku tidak tahu kalau kau mengandung anakku. Maaf aku belum bisa menjadi suami yang baik. Maaf untuk segala – galanya. Sungguh, kali ini aku serius.”

Dia kembali mencium bibirku. Jika dia melakukan selembut ini, aku akan makin jatuh cinta padanya. “Bagaimana kalau besok kita kerumah Eomma? Beritahu dia Jihu.” Tanyanya menatapku untuk mencari jawaban. “Baiklah.” Singkat dan jelas itulah aku. Setelah itu kami kembali tidur dengan dia memelukku seperti tidak boleh pergi.

Hari ini aku berkunjung kerumah Eommonim. Aku senang melihat Eommonim, Jihu, dan Kris tertawa bersama, bermain bersama, dan banyak hal yang mereka lakukan. Sampai di Apartement Kris terus menggendong Jihu, dia mentiduri Jihu dikamarnya selagi aku mandi.

Benar. Kris benar – benar berubah belakangan ini. Dia lebih sering pulang kerja cepat. Mengajakku dan Jihu berjalan – jalan saat hari libur. Dan dia selalu lembut terhadapku, dia juga sering bermanja – manjaan denganku. Dan itu membuat wajahku merah merona.

Ternyata kehidupanku tidak berakhir dengan menyedihkan. Sekarang aku mengerti. Hidup itu pasti akan ada menyedihkannya dan menyenangkannya. Kedua – duanya itu harus seimbang, agar tidak terjadi iri yang tidak mempunyai kehidupan menyenangkan ingin senang dan begitu sebaliknya.

Tuhan itu adil. Tuhan sudah mempersiapkan takdirku yang awalnya menyedihkan bagiku dan berubah menjadi menyangkan. Aku senang hidup seperti ini. Walaupun awalnya menyedihkan. Tapi bukanya ada pepatah yang mengatakan; “bersakit – sakit dahulu, bersenang – senang kemudian.”

The End.

#Epilog

“Yoonhe! Tolong aku! Jihyun menghancurkan presentasiku!” Teriak namja yang sedang berusaha menjauhkan anak perempuannya yang berumur satu tahun itu.

Yoonhe pun berlari kearah sumber itu. Dan menggendong Jihyun, “Oppa, kenapa kau tidak berusaha menggendongnya? Dan malah menarik kakinya?”

“Jihyun menyeramkan. Kalau begitu aku lebih suka anak laki – laki daripada perempuan!”

Jihu memdobrak pintu, sontak Yoonhe dan Kris menoleh kearah suara itu. Betapa terkejut keduanya, saat melihat Jihu kotor dengan tubuh yang berlumuran lumpur.

“Jihu kenapa kau kotor sekali?”

“Jihu bermain ditaman Eomma. Menyenangkan lohh.”

“Aishh! Kalau begitu kutarik omonganku. Jihu sama menyeramkannya dengan Jihyun.” Ujarnya keluar dari ruangan kerjanya.

Jihu dan Yoonhe hanya menatap bingung. “Eomma, Appa kenapa?”

Molla.

Menjadi seorang appa dengan dua anak. 1 namja dan 1 lagi yeoja itu tidak gampang dengan apa yang ada dipikirannya. Ia berfikir, bagaimana bisa Yoonhee tahan merawat dua anaknya itu yang sangat nakal? Tentu saja tahan, jelas Yoonhee itu adalah Eommanya mereka. Dan sudah pantasnya merawat kedua anaknya itu.

“Oppa, sebaiknya jangan seperti itu dengan Jihu dan Jihyun.”

“Baiklah. Aku tidak akan seperti itu lagi, tapi dengan satu syarat.”

“Apa?”

“Puaskan aku nanti malam.” Bisik Kris dan lari menjauh dari Yoonhee.

“OPPAAAA!!”

Note :  Sedih banget nih, The erratic sama Fairy bakalan lama aku update. Maaf yaa soalnya aku lagi sibuk banget sama sekolah. Belom lagi pr banyak. Dan k13 itu harus belajar kelompok mulu, jadinya aku gabegitu banyak waktu buat nulis. Maaf banget yaa~ Dan makasih banget yang mau nungguin 🙂 GOMAWO~

Advertisements

Author: Sashka

Jongin's wife. Teleporters // Whirlwinds // Pyromaniac.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s