Sashka Fanfic's

“Let’s live while doing things we like.” -Sehun

[Freelance] Between Love and Materials (#2)

6 Comments

B4ruIPUCEAA8dk3

Tittle : Between Love and Materials (#2)

Author : Limei Pingkeu ( @MariaPingkeu )

Length : Three ficlet

Genre : Romance, sad

Rating : General

Main cast : Kim Jongin, Park Minmi (OC)

Disclaimer : Cerita ini hasil dari pemikiran ku semata, dan untuk Kim Jongin hanya sepenuhnya milik orang tuanya, aku hanya meminjam nama dia sebagai tokoh utama di FF ku ini,,,. Don’t Co-Pas Please !!!! ^ ^

^ HAPPY READING ^

 

[Preview]

 

Di Narae Hostel, para penghuninya menggunakan mesin cuci di tempat pencucian baju yang sama. Minmi dan Jongin secara bersamaan dalam waktu yang berseling sebentar saja, saling mencuci baju di tempat yang sama. Minmi terlebih dahulu selesai mencuci baju, kemudian Jongin datang. Tak lama, mereka melewati tangga yang sama pula. Apakah mereka akan saling bertemu??

 

 

Ooo0ooO

Di dalam mesin cuci, Jongin menemukan bra. Ia mengerutkan kening, lalu menggantung bra tersebut di jemuran. Tanpa tahu kalau bra yang baru saja digantungnya itu adalah milik Minmi. Hihi. Ketika Minmi menyadari bahwa satu branya tertinggal, ia bergegas mengambilnya tanpa sama sekali menyadari keberadaan Jongin.

 

Ooo0ooO

{Part 2}

Sahabat Minmi protes tentang sikapnya yang tidak menerima Jongin, “Kenapa kau seperti itu? Kau tau kan kalau orang-orang yang diundang di acara itu hanya konglongmerat dan beberapa boss perusahaan terkenal. Bahkan kita sebenarnya tidak memiliki kualifikasi untuk acara mewah itu. Dan kau bilang kalau kau tidak bisa menerima pria itu karena pria itu terlalu sempurna? Kau ini bagaimana?” Sahabat Minmi berpidato panjang lebar.

Tak lama setelah percakapan mereka, pimpinan perusahaan datang untuk mengabarkan bahwa, “Pengiriman besar-besaran akan dilakukan. Dan tidak lama lagi semua tunggakan upah kalian akan dibayarkan secepatnya.” Minmi dan semua pegawai kantor bersorak gembira. minmi tertawa lepas, harapannya untuk keluar dari hostel sempit itu akan terwujud. Dan ia tidak perlu lagi berbohong pada Jongin tentang tempat tinggalnya, karena bila upahnya sudah dibayarkan maka ia bisa kembali membayar flat mewahnya.

Orang yang tengah dipikirkan Minmi ternyata menerima telepati yang dikirimnya. Karena di saat itu juga, Jongin menelponnya tanpa diminta.

 

Ooo0ooO

 

Jongin menunggu Minmi di sebuah restaurant. Di seberang jalan, Jongin melihat kedatangan Minmi, begitu juga Minmi yang melihat Jongin sedang duduk di dekat jendela sambil memperhatikannya. Mereka saling memberi salam dan tersenyum. Saat lampu hijau menyala, minmi menyebrangi jalan. Namun, seketika ada sebuah motor yang melaju sangat cepat dan hampir menabrak Minmi, beruntungnya Minmi tidak apa-apa.

Karena terkejut melihat motor yang hampir menyerempet Minmi, dengan bergegas Jongin berdiri dari duduknya. Hendak menolong minmi, tapi ketika melihat Minmi baik-baik saja, Jongin bisa kembali bernafas lega. Namun, nafasnya kembali tertahan saat menyadari celananya basah kuyup. Tanpa sengaja tadi saat ia berdiri, ia memukul meja hingga membuat air di dalam gelas jatuh tepat ke celananya. Basah seperti bekas ompol.

Jongin merasa tidak nyaman, sedangkan Minmi berusaha agar suasana tidak berubah kaku. “Cuacanya sangat cerah. Bagaimana kalau kita berjalan-jalan di luar?” ajak minmi. “Tidak,” jawab Jongin tanpa sanggup menatap Minmi. “Aku tau tempat makan yang enak di sekitar sini. Bagaimana kalau kita ke tempat itu?” ajak Minmi lagi. Jongin menggelengkan kepalanya, “tidak.”

Merasa serba salah, Minmi memutuskan untuk pergi, “Ah kalau begitu. Aku lupa kalau aku ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Aku harus pergi sekarang,” kata Minmi. Ia berdiri, Jongin segera menahannya. Jongin meraih tangan Minmi, lalu memohon, “Jangan pergi. Aku mohon,” pintanya.

Celana Jongin yang basah akhirnya diketahui oleh Minmi. Dengan sekuat tenaga Minmi berusaha untuk tidak tertawa, “Kau tidak…” kata-kata Minmi tertahan, Jongin tidak benar-benar mengompol kan? Pikir Minmi.

“Apa yang kau pikirkan? Bukan seperti itu,” jawab Jongin dengan wajah penuh malu. “Benarkah?” kali ini tawa Minmi tidak bisa dibendung. Ia tergelak, hingga membuat wajah Minmi memerah. “Jangan tertawa,” pinta Jongin malu-malu.

 

Ooo0ooO

 

“Kau waktu itu berkata bahwa pertemuan kita ini mungkin sudah ditakdirkan. Aku juga merasa seperti itu,” ungkap Minmi saat ia berjalan disamping Jongin. “Aku… aku bahkan tidak memiliki kekuatan atau keberanian untuk mendapatkanmu. Jadi aku ingin sekali mempercayai hal itu, bahwa kita ditakdirkan untuk bertemu. Aku berkata pada diriku sendiri, bahwa tidak apa mempercayai sesuatu yang kau rasa tidak mungkin,” jawab Jongin, ia berjalan cepat karena gugup.

“Apa kau sungguh-sungguh?” tanya Minmi seraya menyamai langkah Jongin. “Hey.. apa kau…” Minmi menunjuk ke pedagang gulali. “Apa kau ingin gulali?” Minmi melengkapi kata-katanya, saat melihat wajah Jongin yang mulai cemas. Keduanya lalu tersenyum.

“Mengapa kau sangat pintar matematika?” Minmi bertanya. “Kalau kau menyukai matematika kau pasti akan menguasainya,” jawab Jongin. “Ah, tidak mungkin. Matematika itu sangat susah,” balas Minmi. “Apa kau buruk dalam matematika?” Jongin menggoda. “Iya. Aku sangat sangaaat buruk dalam matematika,” sahut Minmi dengan mengerenyitkan hidungnya.

 

Ooo0ooO

 

Keduanya selalu menyempatkan diri untuk bertemu. Minmi yang tengah disibukkan oleh urusan perusahaannya dalam mengirimkan stock barang, selalu merasa bebannya sedikit berkurang bila telah bertemu dengan Jongin. Sama halnya dengan Jongin, ia memutuskan untuk mengambil jam tambahan, jadwal mengajarnya semakin memadat tapi ia akan selalu merasa teduh bila telah bertemu dengan Minmi.

“Aku selalu sendirian. Ibu selalu sibuk bekerja dan pulang sangat larut. Tidak ada yang memperhatikanku saat itu,” ungkap Jongin. Minmi tersenyum, ia mengambil capnya lalu membubuhkannya di telapak tangan Jongin dengan cap bertuliskan ‘well done’.

Dengan ceria, Minmi berusaha untuk menyemangati Jongin, “Kau sudah bekerja sangat keras hari ini. Mulai saat ini, aku akan selalu ada di sini. Memperhatikanmu dan menyemangatimu. Walau terkadang… Ada hal-hal yang berjalan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, walau sudah sekeras apapun usaha yang kita lakukan. Di saat seperti itu, yang harus dilakukan adalah menyemangati diri kita sendiri. ‘Well done, it’s okay’ kau sudah melakukan yang terbaik,” ungkap Minmi.

“Ini sebagai hadiah,” Minmi memberikan stempel itu pada Jongin. Di saat itu pula, Jongin merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia karena ia memiliki Minmi di sampingnya. Namun keduanya masih hidup dalam kebohongan, belum ada dari mereka yang mau berkata jujur tentang kondisi kehidupan mereka masing-masing. Kebohongan yang bila terungkap akan membuat keduanya jatuh ke jurang hitam yang paling dalam. Hingga yang tersisa hanya rasa sakit yang sulit untuk diobati.

Pantai. Tempat berkencan mereka kali ini adalah pantai. Demi Minmi, Jongin mematikan ponselnya. Ia tidak ingin urusannya menganggunya saat ini. Keduanya berjalan beriringan. Memain-mainkan pasir dengan kaki mereka lalu tertawa bersama.

Jongin menatap Minmi, ia mengatakan dengan tulus, “Bila saatnya sudah tiba. Aku akan mengatakan segalanya padamu. Aku akan mengakui segalanya, nanti,” ungkap Jongin, seolah ingin mengungkap kebohongannya sendiri. “Ada apa?” tanya Minmi, apa yang sebenarnya ingin Jongin katakan?

“Aku ingin mengatakan dan mengakui sesuatu.. bahwa sesungguhnya aku sangat mencintaimu. Betapa aku ingin menjadikanmu my wife,” balas Jongin. Kemudian, Jongin mendekatkan wajahnya ke hadapan Minmi. Mengecup bibir Minmi lembut, deru ombak dan senja membuat segalanya terlihat sempurna.

 

Ooo0ooO

 

Pada Siang hari disaat Jongin sedang menikmati waktu istirahatnya, Jongin menemukan sesuatu. Sedikit demi sedikit kebohongan itu terungkap. Di pinggir jalan, Minmi berjalan pelan. Ia hendak menuju hostel Narae, tempatnya tinggal. Tak di sangka, Jongin yang tengah menikmati mie ramen, dari etalase mart tempatnya makan siang, terlihat Minmi yang berjalan seorang diri. Lantas Jongin mengikuti Minmi, ia hendak memanggil Minmi namun tertahan saat melihat Minmi menaiki sebuah bis.

Dengan mobilnya, Jongin mengikuti Minmi. Bus itu menurunkan Minmi di sebuah halte yang tidak asing lagi bagi Jongin. Kecurigaan Jongin semakin menjadi, kala Minmi memasuki Hostel Narae yang tak lain adalah tempat tinggalnya. Awalnya, Jongin berpikir kalau Minmi sudah mengetahui kebohongannya. Ia berpikir kalau Minmi datang ke hostel narae hanya untuk melabraknya. Tapi…

Minmi terus berjalan tertunduk. Sama sekali tak sadar, diam-diam ia tengah dibuntuti oleh Jongin. Saat langkahnya memasuki hostel, pemilik bangunan memanggilnya, “Nona.. ini surat-suratmu,” ucap pemilik bangunan seraya memberikan tumpukan surat-surat tagihan pada Minmi.

Di saat itu, Jongin menyadari. Kalau Minmi menetap di hostel yang sama dengannya, Narae Hostel. Nafas Jongin tertahan, lidahnya kelu, seketika ia membeku. Jongin berusaha agar Minmi tidak mengetahui keberadaannya. Ia membalikkan tubuhnya, hanya pungung Jongin yang menghadap Minmi.

Namun, pemilik bangunan segera menyapa dengan sopan pada Jongin. “Pak guru!! Itu benar kan pak guru!” panggil pemilik bangunan. Beberapa kali dipanggil, Jongin tetap tidak bergeming. Ia khawatir. “Pak guru! Ada banyak surat untukmu juga. Tunggu sebentar, pak guru!” pemilik bangunan kembali memanggil Jongin.

Minmi sesaat memperhatikan punggung Jongin, terlihat sangat familiar. Jadi ia pun menunggu pemilik dari punggung itu untuk menoleh.

Terpaksa. Jongin memalingkan wajahnya, menghadap Minmi. Menatap manik-manik mata Minmi dengan penuh penyesalan, kekhawatiran dan rasa tidak ingin kehilangan membuat matanya berkaca-kaca. Minmi pun tak tahu harus berbuat apa. Tubuhnya seketika kehilangan keseimbangan. Sebagian surat-surat yang di pegangnya berjatuhan di anak tangga.

 

 

 

TBC,,,,

 

 

Note : Jeongmal Mianhe klo part 2 ini kependekan karena pikiran ku ga bisa terlalu focus pada ff ini, jadi hanya segini yang bisa aku kasih ke kalian,,,, mian, mian, mian, pasti kelanjutannya makin aneh y?!… aku harap kalian memberikan komentar tentang FF ku ini, baik buruknya aku terima kok,,,  DON’T BE SIDER PLEASE!!!! ^ ^

Untuk part selanjutnya bakalan end y?! karna aku buatnya hanya sampai part 3 aja,, Jeongmal gomawo yang sudan baca dank omen ff ku,, hhehhe J

Advertisements

Author: Sashka

Jongin's wife. Teleporters // Whirlwinds // Pyromaniac.

6 thoughts on “[Freelance] Between Love and Materials (#2)

  1. ketahuan dech kebohongan mereka masing” tinggal nunggu reaksinya aja apa bakal saling membenci atau malah menerima

  2. Aduh kenapa part ini pendek si eonni 😦 tapi gpp tetep seru buat di ikutin di tunggu chap selanjutnya 🙂

    • hhehhe mian klo kependekan
      ceritanya,
      ok, di tunggu aja y de chap
      selanjutnya,,,makasih bgt y de
      udh baca, nanti klo chap 3 udh
      selesei dan di publis, eonni
      langsung kasih tau kamu de,,,
      hhehhe 😀

  3. hhehhe mian klo kependekan ceritanya,
    ok, di tunggu aja y de chap selanjutnya,,,makasih bgt y de udh baca, nanti klo chap 3 udh selesei dan di publis, eonni langsung kasih tau kamu de,,, hhehhe 😀

  4. Chingu part 2 ini alurnya kecepatan dan pendek yaw jadi aku gak bisa tau gimana awal mula jongin dan minmi bisa deket
    wah dan ini kebohongan mereka mulai terungkap satu sama laennya,,,,
    ok deh aku ta ijin baca part 3 ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s