Sashka Fanfic's

“Let’s live while doing things we like.” -Sehun

[Freelancer] Between Love and Materials (#3) END

1 Comment

PhotoGrid_1418793585022

Tittle : Between Love and Materials (#3)-End

Author : Limei Pingkeu ( @MariaPingkeu )

Length : Three ficlet

Genre : Romance, Hurt, sad and Angst

Rating : General

Main cast : Kim Jongin, Park Minmi (OC)

Disclaimer : Cerita ini hasil dari pemikiran ku semata, dan untuk Kim Jongin hanya sepenuhnya milik orang tuanya, aku hanya meminjam nama dia sebagai tokoh utama di FF ku ini,,,. Don’t Co-Pas Please !!!! ^ ^

Tolong jangan Abaikan Note dibawah y?? ^ ^ Gomawo

^ HAPPY READING ^

 

[Preview]

 

Minmi sesaat memperhatikan punggung Jongin, terlihat sangat familiar. Jadi ia pun menunggu pemilik dari punggung itu untuk menoleh.

Terpaksa. Jongin memalingkan wajahnya, menghadap Minmi. Menatap manik-manik mata Minmi dengan penuh penyesalan, kekhawatiran dan rasa tidak ingin kehilangan membuat matanya berkaca-kaca. Minmi pun tak tahu harus berbuat apa. Tubuhnya seketika kehilangan keseimbangan. Sebagian surat-surat yang di pegangnya berjatuhan di anak tangga.

Minmi dan Jongin berdiri mematung di tempatnya masing-masing. Minmi melangkah cepat menghindari Jongin. Ia berlari untuk bersembunyi di dalam kamarnya, menangisi semua hal yang baru saja terjadi.

 

Ooo0ooO

 

{Part 3}

 

Jongin mengejarnya, ia menggedor-gedor kamar Minmi dengan keras, “Minmi-ah aku mohon keluarlah. Keluarlah. Kita bisa membicarakan ini. Kita harus membicarakannya. Minmi-ah, aku mohon. Keluarlah, dengarkan penjelasanku,” Jongin memohon dengan suara parau.

Seorang ahjusshi yang tengah mabuk mendatangi Jongin, ia melantur, “Mengapa kau menggedor-gedor pintu kamarku?” ungkap ahjusshi tersebut. Bila dilandaskan dengan materi, semuanya akan lenyap tanpa disadari. Seperti sang ahjusshi. Ia berada di Korea untuk bekerja, menafkahi kehidupan istri dan anak-anaknya yang tinggal di Amerika. Tahun demi tahun berlalu, keluarganya tak pernah datang menjenguknya. Terlebih saat mengetahui kalau perusahaan miliknya sudah bangkrut. Ahjusshi hidup seorang diri, ia merindukan istri dan anaknya, namun tidak ada yang bisa diandalkan ketika kekayaannya menghilang.

Ahjusshi semakin berbicara seenaknya, pemilik bangunan berusaha keras agar Ahjushi tidak berbuat onar. “Aku sudah bilang, ini adalah koridor untuk perempuan. Dan itu bukan kamarmu,” Pemilik bangunan memberitahu. Ahjusshi tertawa keras, ia mengejek Jongin, “Lihat.. Lihat.. di hostel kumuh seperti ini. Ada dua orang yang saling jatuh cinta. Sangat lucu. Dua orang miskin bertemu dan saling jatuh cinta,” ungkap Ahjusshi yang sudah terpengaruhi oleh minuman keras.

Jongin berubah geram, ia lantas memukul Ahjusshi sampai tubuhnya oleng. Apa yang Ahjusshi katakan benar-benar menyinggung perasaan Jongin. Di dalam kamar, Miinmi hanya mendengarkan.

Namun akhirnya, ia memutuskan untuk keluar dari dalam kamar dan membicarakannya dengan Jongin.

 

Ooo0ooO

 

“Harus membayar lebih untuk ruang kamar berjendela. Aku selalu berpikir kalau aku tinggal di hostel ini hanya untuk sementara. Sebulan saja. Tapi kenyataannya berbeda, aku harus tinggal di hostel itu lebih lama. Aku bahkan tidak memiliki jendela di dalam kamarku yang sempit,” ucap Minmi.

Minmi melanjutkan kata-katanya, “Mengetahui bahwa kau dan aku tinggal di hostel yang sama, itu benar-benar memuakkan dan menyesakkan. Aku pikir kita harus memutuskan hubungan kita.” Tak ada alasan baginya untuk tetap berada di samping Jongin. Tapi hati Minmi berkata lain, ia masih menyayangi Jongin. Ia hanya tidak ingin membebani kehidupan Jongin. Itu saja.

Tangan Jongin meraih tangan Minmi, mencegahnya untuk pergi. Ia tidak sanggup kehilangan Minmi, sebisa mungkin ia memberikan penjelasan. “Kita bisa menghadapinya bersama. Aku bukan seorang pecundang. Aku bisa melakukan lebih untukmu. Aku hanyaa.. Saat ini aku harus menanggung pengobatan ibuku. Jadi.. bisakah kau menungguku,” Jongin memohon.

“Sampai kapan? Sampai kapan aku harus menunggu? Sampai ibumu meninggal? Satu tahun, satu bulan?! Kau bahkan tidak bisa menjawabnya. Semua itu mungkin membutuhkan waktu lebih lama. 5 tahun atau 10 tahun. Kau ingin aku menunggu selama itu?!” bentak Minmi. Air matanya tak kunjung surut. Minmi melanjutkan kata-katanya yang menyakitkan Jongin. “Kau tau, bila seseorang membagi rasa sedihnya pada orang lain maka beban akan terasa ringan. Namun bila dua orang miskin saling berbagi maka beban akan semakin bertambah.”

“Akhir-akhir ini aku berpikir bahwa aku telah sangat jatuh dan bangkrut. Dan aku berpikir bahwa aku telah menemukan seorang yang bisa aku cintai, seseorang yang mapan yang bisa mengangkatku. Aku mencintai Jongin yang memiliki penghasilan besar, bukan Jongin yang harus membayarkan biaya rumah sakit ibunya. Ini aku. Seperti ini pemikiranku. Aku benar-benar buruk! Apa kau masih bisa berkata kalau kau mencintaku yang seperti ini?” Minmi menyalahkan dirinya sendiri.

Tanpa ragu Jongin menjawab, “Ya! Aku mencintaimu apa adanya. Aku mencintaimu. Selama hidupku, aku tidak menginginkan apapun. Kali ini aku benar-benar menginginkamu. Kau yang pertama, Minmi. Kau tau, betapa sulitnya aku. Aku  pikir aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku benar-benar gila. Aku takut kehilanganmu. Kau tahu, aku selalu berdoa agar ibuku kembali siuman. Tapi saat kau hadir, tanpa sadar aku memohon pada ibuku. Ibu, belum cukupkah yang aku lakukan. Ibu, tidak bisakah aku merasakan bahagia. Ibu, aku mohon pergilah sebelum gadis yang aku cintai pergi.”

“Aku tidak bisa mendengar semua itu,” teriak Minmi. “Aku mohon. Hubungan kita sampai di sini saja.” Minmi pergi meninggalkan hati Jongin yang remuk berkeping-keping.

 

 

Ooo0ooO

 

 

Jongin mabuk. Di bawah pengaruh alcohol ia tidak bisa berpikir jernih. Dalam gelap, ia masuk ke ruang inap tempat ibunya di rawat.

Jongin marah, sangat marah. Ia menggenggam selang alat bantu pernafasan ibunya. Ia menggenggamnya kuat, tekad buruknya untuk menarik selang itu sudah bulat. Ia kehilangan Minmi karena ibunya, ia kehilangan Minmi. Minmi nya sudah pergi.

Lalu semua niat buruk itu ia urungkan. Seketika semuanya memburam, Jongin tidak lagi sanggup berdiri. Pelupuk matanya basah. Ia menangis sejadi-jadinya, seraya menggegam tangan ibunya erat. Ia sudah kehilangan Minmi, ia tidak sanggup kehilangan ibunya.

Keesokan harinya, Jongin menjual mobilnya. Ia menyewa satu rumah selama 2 tahun. Rumah yang akan ia berikan pada Minmi. Satu-satunya hal yang bisa Jongin lakukan agar Minmi bisa tetap berada di sampingnya. Menunggunya.

 

Ooo0ooO

 

Minmi memutuskan untuk kembali ke rumah ibunya. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Jongin.

Keduanya berbicara. “Apapun yang aku lakukan, hal itu mungkin tidak akan bisa mencegah kepergianmu. Yang harus aku lakukan saat  ini adalah membiarkanmu pergi,” ungkap Jongin.

“Ini..” Jongin memberikan secarik kertas berisi alamat rumah yang baru saja di sewanya untuk Minmi. “Ini… Ini akan menjadi rumahmu selama 2 tahun. Aku tidak melakukan hal ini untukmu. Aku hanyaa… Sungguh aku masih belum bisa merelakan kepergianmu tanpa melakukan apapun. Jika aku tidak melakukan hal ini, aku rasa aku akan menyesal seumur hidupku. Bagiku, kehadiranmu adalah kado terindah yang pernah aku dapatkan sepanjang hidupku. Terima kasih,” lirih Jongin.

“Di masa yang akan datang. Aku akan menyadari, bahwa masa terindah dalam hidupku adalah ketika bertemu denganmu dan jatuh cinta padamu,” Dibalik senyum tulus Jongin, tersembunyi hati yang tercabik. Ia ingin mendekap Minmi dan memohonnya agar tidak pergi, tapi mustahil untuk dilakukan.

Setelah bertemu dan bicara dengan Minmi, Jongin segera kembali ke kamar hostel, dia hanya bisa menangisi kepergian Minmi nya yang tercinta. Punggungnya di rebahkan pada papan pintu. Jongin mengambil stempel yang Minmi berikan untuknya. Ia mengecap telapak tangannya sendiri, lalu berkata lirih, “Well done. Tidak apa-apa. Tidak apa-apa.” Lagi-lagi, Jongin menutupi rasa sakitnya dengan tersenyum.

Ia mungkin akan menyesal mengapa dirinya tidak bisa mencegah kepergian Minmi. Tapi untuk saat ini, membiarkan Minmi pergi adalah hal yang terbaik. Ia tidak ingin membebani hidup Minmi. Ia tidak ingin membuat Minmi menderita karena menunggunya menjadi mapan. Ia hanya ingin melihat Minmi bahagia.

Disamping itu, Minmi tak mengetahui kalau pertemuannya saat ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Jongin. Pertemuan terakhirnya?. Sungguh, saat Jongin mengatakan kalau ia tidak bisa hidup tanpa Minmi, kehidupanlah yang mengambil Jongin pergi. Bertepatan dengan kepergian Minmi, hostel Narae tiba-tiba terbakar. Ahjusshi yang dicampakkan oleh keluarganya yang berada di Amerika, membakar diri hingga apinya melahap seluruh bangunan. Jongin tidak tertolong. Ia pergi.. Pergi untuk selama-lamanya.

Penyesalan terdalam yang Minmi dapatkan. Firasat buruk menghujam batin Minmi. Ia menangis tersedu tanpa tahu penyebabnya. Ia menangis, seolah olah mengetahui kalau Jongin sudah tiada. Padahal pada kenyataannya, ia sama sekali belum mendengar mengenai kebakaran yang terjadi di Hostel Narae tersebut. Dan pada akhirnya, yang tersisa hanya penyesalan. Rasa yang pantas Minmi dapatkan, karena telah mencampakkan cinta tulus Jongin.

 

 

Ooo0ooO

 

 

2 tahun kemudian.

 

Rumah yang telah disewa Jongin selama 2 tahun, baru dikunjungi Minmi di hari-hari terakhir masa sewa habis. Ia masuk ke dalam rumah, lalu mendapati sebuah jendela kecil.

Dari jendela kecil itu, Minmi bisa menatap langit musim dingin yang berbintang. Ia tersenyum, air matanya jatuh beruntun. Ia merindukan Jongin, ia merindukan bintangnya yang sudah pergi jauh.

 

 

END…

 

Hurt, isn’t it?? So hurt…

Well, terkadang sulit untuk memutuskan apakah ia priamu atau bukan, kalau standar kehidupan menuntutmu lebih.

 

Note : Mianhe (bungkuk badan 90 derajat), kalau part end-nya ga sesuai dengan keinginan atau pemikiran kalian, Jeongmal Mianhe klo aku buat Jongin meninggal pada akhirnya. Jujur sebenernya aku juga ga mau, tapi pemikiran ku yang berkata lain. 😦  Tapi apakah feel nya dapat dan sampai ke kalian?? Aku harap kalian bisa dapat feel nya,,, sekali lagi aku minta maaf banget cerita yang baru pertama kali aku buat ini aneh dan jelek, serta alur yang berantakan dan kecepetan karna ini hanya 3 ficlet aja,,,, And Thank You so much bagi kalian yang udah baca dan komen serta mengikuti FF ku ini,. hhehhe

Tunggu FF ku selanjutnya y??? ^_^ J

Advertisements

Author: Sashka

Jongin's wife. Teleporters // Whirlwinds // Pyromaniac.

One thought on “[Freelancer] Between Love and Materials (#3) END

  1. ya kenapa uri kkaman meninggal, kasian banget sih kamu jongin udah gak bisa mendapatkan minmi dan sekarang kamu udah gak ada di dunia ini
    minmi juga seharusnya bisa melihat hal laen selain uang, jadi begini sekarang dia kehilangan orang yang dicintainya
    bagus chingu FFmu tapi aku sedih ngebaca endingya yang sad ending padahal aku berharap minmi bisa nerima kkaman dengan apa adanya dan mereka bisa bahagia bersama
    ok deh aku tunggu FF kamu yang laen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s