Sashka Fanfic's

“Let’s live while doing things we like.” -Sehun

[Twoshoot] Gone Not Around Any Longer {Part 1}

4 Comments

gn

Tittle : Gone Not Around Any Longer // Author : Sashka (@sashagani) // Genre : Romance, Sad, Angst // Cast : Oh Sehun (EXO) , Kim Eunsa (OC) // Length : Twoshoot // Rate : PG-15

Disclaimer : Cerita milik saya. Cast milik Tuhan yang maha esa, kecuali OC hasil pemikiran saja sendiri saya. No Plagiat!

Suara langkah kaki bergema disepanjang koridor lantai paling atas dari gedung ini. Suara langkah kaki berhenti tepat diujung koridor–lift. Ia masuk ke dalam lift, lalu menekan lantai 1. Hening. Tak ada suara apapun di dalam lift tersebut.

Ting.. Pintu lift terbuka saat berada di lantai 4, sontak orang yang ingin masuk ke dalam lift itu langsung membungkuk hormat pada pria yang berada di dalam lift. Hanya berdehem untuk menyadarkan orang tersebut untuk cepat masuk ke dalam lift. Sama seperti tadi, lift ini begitu hening. Tak ada percakapan diantara mereka. Sama-sama terdiam.

Ting.. Pintu lift kembali terbuka, mereka berdua pun keluar dan berpencar–karena memang mereka tak memiliki tujuan yang sama. Ia pun berjalan dengan angkuh, memancarkan aura gelap ke sekitarnya. Semua orang membungkuk hormat, tak semuanya, lebih tepatnya para pegawai disana yang membungkuk hormat.

Satu buah mobil sudah menunggu kedatangan nya sejak tadi, saat melihat diri nya yang sudaj mendekat. Supir mobil itu langsung membukakan pintu mobil untuknya. Dan tak ada kata terima kasih yang terucap dari bibir nya. Ia hanya masuk ke dalam, dan duduk dengan angkuh.

“Kita ke pulang!” Perintah nya pada sang supir yang baru saja masuk ke dalam mobil. Sang supir hanya mengangguk dan melaju kan mobil nya menuju kediaman tuan nya yang kini sedang duduk dengan angkuh di kursi penumpang.

.

Oh Sehun, ya, itulah nama nya. Nama itu mungkin sudah tak asing bagi kalian semua. Mendengar nama nya saja sudah tak asing bagi kalian. Apalagi saat kalian melihat wajah nya. Wajah nya sering muncul di koran atau majalah karena kepintaran, kekayaan, kesuksesan, dan ketampanan nya ini.

Ia memiliki sebuah perusahaan besar di Korea Selatan. Perusahaan itu adalah warisan dari Ayah nya. Tapi dulu perusahaan ini tidak sebesar seperti sekarang. Malah perusahaan Ayah nya ini diambang ke bangkrutan. Ditambah Ayah nya yang tiba-tiba menjadi sakit-sakitan, dan itu semua mengharuskan diri nya untuk menggantikan posisi Ayah nya di perusahaan. Dia bangkit dari ketepurukkan nya itu. Dia membesarkan nama perusahaan Ayahnya–hingga sekarang.

Banyak sekali kolega bisnis ingin bekerja sama dengan nya. Dan itu butuh seleksi. Dengan kata lain, ia memilih perusahaan yang sangat menguntungkan untuk perusahaan nya. Perusahaan yang rendah sangat sulit untuk bekerja sama dengan nya. Benar-benar.

Kepintaran? Bahkan ia sangat pintar. Saat semasa sekolah dulu, ia selalu berada di peringkat pertama. Tapi terkadang ia juga berada diperingkat ke dua atau ke tiga. Setidaknya ia ada diperingkat tiga besar. Lulusan terbaik saat masa kuliah dulu. Nilai nya selalu memuaskan. Dan ia bangga akan hal itu.

Tampan? Jangan tanyakan ini. Semua orang juga tahu kalau ia tampan, malah sangat tampan. Orang yang pertama kali melihat nya pun juga akan bilang seperti itu. Rahang yang tegas, bibir yang menggoda, dan tatapan yang meluluhkan hati. Benar-benar sempurna sekali hidup nya. Bagaikan seorang pangeran dari negeri dongeng. Tapi sayang, dia bukan dari negeri dongeng. Dia nyata.

.

Terdengar suara helaan nafas dari bibirnya. Tak ada yang ia lakukan sejak tadi, selain berguling kesana kemari. Ia butuh istirahat, tapi ia sendiri tak bisa tidur. Dan ini semua membuatnya kesal. Mengubah posisi tidurnya menjadi menghadap ke arah balkon kamar.

Ia bangkit dari tempat tidur. Berjalan keluar kamar menuju dapur. Rencana nya ia ingin membuat cokelat panas, lalu duduk di balkon kamar. Memperhatikan bintang-bintang yang bergantungan di langit malam.

Dengan langkah yang malas, ia berjalan ke arah dapur. Disana ada seorang wanita paruh baya yang sibuk memasukkan bahan makanan ke dalam kulkas, sampai tak menyadari kehadiran nya disana. “Ahjumma..” Panggil nya, yang dipanggil pun menoleh lalu tersenyum khas seorang wanita tua. “Ada apa, Hun?”

“Aku ingin cokelat panas.” Ujar nya dengan nada yang manja. Dan tak ada yang pernah mendengar nada suara ini, selain Jung Ahjumma. Pengasuh nya sejak ia kecil. Ia sudah menganggap nya seperti ibu nya sendiri. Dan memang ia sudah tak memiliki seorang ibu lagi, karena ibu nya meninggal sejak ia berumur sepuluh tahun.

“Baiklah. Ahjumma akan membuatkan nya. Kau tunggu saja di kamar, Ahjumma akan membawakan nya untukmu.” Sehun pun menurut, lalu berjalan masuk ke dalam kamar nya.

Seperti apa yang disuruh Jung Ahjumma, Sehun menunggu nya di dalam kamar. Ia hanya menatap layar ponsel nya, tak melakukan apapun. Ia juga tidak tahu kenapa ia hanya diam saja. Kenapa dia tidak gunakan untuk memeriksa saham nya saja? Tidak! Tidak! Ia malas untuk melihatnya. Ia sudah terlalu pusing dikantor, dan sekarang ia butuh istirahat. Hanya istirahat.

Tokk tokk..

Clekk.. Jung Ahjumma masuk ke dalam kamar nya dengan satu cangkir cokelat panas untuk nya. Senang wajah yang senang, ia mengambil alih cangkir itu. “Terima kasih, Ahjumma.” Ia tersenyum. Senyuman yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun. Hanya orang terdekat yang bisa melihat nya. “Kalau begitu, Ahjumma sekalian pamit pulang. Ini sudah hampir jam 7, suami Ahjumma pasti sudah pulang. Selamat malam, Hun. Ahjumma pamit, ya.”

Cleekk.. Jung Ahjumma meninggalkan Sehun sendiri di dalam kamar nya. Dan Sehun merasakan bahwa ia kesepian sekarang. Tak ada yang bisa ia ajak bicara. Dengan secangkir cokelat panas ditangannya, ia berjalan menuju balkon kamar nya. Duduk disana sembari mengadahkan kepala ke atas, memperhatikan satu per satu bintang disana, yang tidak diketahui berapa jumlah nya.

Kedua sudut bibir nya terangkat membuat lengkungan senyum. Ia menenguk cokelat panas nya dengan perlahan, lalu kembali mengadahkan kepala nya. Ia sendiri juga bingung, kenapa ia senang sekali melihat bintang. Bukan kah ini membosankan? Dan ia juga tidak tahu kenapa ia menyukai bintang? Sejak kapan pun ia tidak tahu. Ia benar-benar sudah gila.

“Anggap saja salah satu dari bintang tersebut adalah kita.” Ujar nya menirukan suara khas seorang wanita. Ia juag mencibir tidak jelas, dan kembali menenguk cokelat panas nya.

“Aku suka dirimu.” Cibirnya lagi sembari menirukan suara seorang wanita. Ia mendengus kesal. “Sialan kau!” Umpat nya menaruh cangkir nya diatas meja yang berada di sebelah kiri nya. Ia bangkit dan berjalan mendekati pinggir balkon. Ia memandangi orang-orang yang berlalu lalang di depan rumah nya. Ada yang sedang lari malam, ada yang sedang mabuk, ada yang sedang berjalan bersama kekasih nya, dan masih banyak lagi.

Seharusnya komplek rumah nya sepi, dan tak ramai seperti ini. Tapi orang-orang yang berlalu lalang itu juga tinggal di komplek ini, jadi mau bagaimana lagi? Lagi pula mereka tidak menganggu. Dan malah membuat komplek ini ramai, serasa amat nyaman tinggal disini. Karena Sehun juga ingin sekali-kali mendengarkan suara gaduh atau ramai.

Ia berbalik mengambil cangkir nya lalu masuk ke dalam kamar. Menutup pintu balkon, dan duduk di tepi tempat tidur. Tangan kiri nya masih setia memegang cangkir. “Aku merindukan mu..” Gumam nya sembari memandangi bingkai foto yang berada diatas meja nakas nya dengan sendu. “Tapi aku lelah menunggumu. Haruskah aku mengalah dan pergi?”

FLASHBACK

Sehun berjalan dengan terburu-buru menuju kelas mata kuliah nya hari ini. Ia sudah telat masuk ke dalam kelas karena jalanan yang macet. Dengan beberapa tumpukkan buku-buku ditangannya, ia berjalan dengan cepat.

Sampai didepan kelas mata kuliah nya, ia membuka pintu dan lalu mengendap-ngendap untuk duduk dibangku paling belakang agar tidak tahuan oleh dosen nya. Dan ia benar-benar beruntung, karena dosen nya tidak tahu kalau ia terlambat masuk pada saat mata kuliah nya.

Dengan serius nya, ia memperhatikan apa yang di sampai kan oleh sang dosen. Mencatat beberapa materi yang di sampai kan. “Mata kuliah hari ini sampai di sini saja. Selamat belajar semua nya!” Ujar sang dosen mengakhiri mata kuliah nya hari ini. Lantas Sehun merapihkan buku-buku nya dan memasukkan nya ke dalam tas nya.

Sehun keluar dari kelas nya dengan gaya nya yang… mempesona? Mimik wajah yang ditunjukkan nya hanya mimik wajah datar. Tapi dari wajah datar nya itu membuat para wanita mengangumi nya.

Ia berjalan seorang diri menyusuri koridor kampus nya dengan tas yang berada di punggung kiri nya. Tujuan nya adalah taman kampus. Taman kampus yang berada di selatan. Taman yang jarang sekali mahasiswa ke sana. Maka dari itu ia menyukai taman itu.

Dengan ke dua tangan berada di dalam saku celana. Ia berjalan ke taman kampus yang berada di selatan. Sesampai nya di sana, ia duduk di bangku yang tepat berada di samping pohon sembari mengeluarkan iPod nya dan headset.

Menyendiri dan mendengarkan musik adalah kegiatan yang paling ia sukai. Ia juga menghayati musik yang ia dengar sambil memejam kan mata nya. Kedua tangan nya di lipat di dada nya.

“Akhhh!” Terdengar suara rintihan dari balik semak-semak. Sehun pun juga tidak mendengar nya. Ia tetap mendengar kan musik sambil memejam kan mata nya dengan kedua tangan di lipat di dada nya. “Akhh!” Kedua kalinya suara itu terdengar dari balik semak-semak. Merasa kan sesuatu yang aneh, Sehun mengernyitkan dahi nya heran.

BUGH!

Sehun yang mendengar suara aneh pun melepaskan headset nya. Lalu mulai mencari sumber suara tersebut. Ia bangkit dari bangku taman, berjalan mendekati semak-semak, dimana sumber suara tersebut. “Hikss.. hikss..” Kini suara tangisan seorang wanita tertangkap oleh telinga Sehun. Membuat nya tambah heran.

“Sialan kau! KATAKAN, EUNSA!!” Teriak seorang wanita. Diam-diam, Sehun bersembunyi di balik batang pohon besar yang tak jauh dari sana. “A-akku t.. t-tidakk.. tahu..” Jawab nya dengan suara lemah. Dari penglihatan Sehun, wanita itu sudah babak belur. Wajah nya lebam, sudut bibir nya pun juga mengeluarkan darah. Benar-benar mengenaskan, dan itu membuat Sehun, sebagai seorang pria kesal. Bagaimana mungkin seorang wanita di perlakukan seperti itu.

Sehun menghampiri ke enam wanita itu. Dengan tatapan tajam nan dingin nya, Sehun menatap ke lima wanita yang kini juga menatap ke arah nya takut. “Apa yang kalian lakukan?” Tanya Sehum di ikuti aura gelap disekitar nya. Ke lima wanita itu hanya diam, sedang seorang wanita yang kini terduduk lemas hanya bisa menundukkan wajah nya sembari menangis dalam diam.

“Pergi kalian.” Perintah nya, dan langsung ke lima wanita itu pergi meninggalkan nya dengan wanita yang terduduk lemas ditanah. “Apa kau baik-baik saja?” Tanya Sehun tanpa mendekati wanita itu. Yang di tanya hanya diam tak menjawab. “Ck! Seharusnya kau melawan mereka. Jangan mau kalah dan di injak-injak oleh mereka. Cepat bangun, ku antar kau ke UKS.”

Wanita itu mengadahkan kepala nya menatap wajah Sehun. Senyuman manis mengembang di wajah nya, walaupun wajah nya babak belur ditambah darah yang berada di pelipis nya dan sudut bibir nya. “Terima kasih. Kau pahlawanku.” Lirih nya.

FLASHBACK END

Sehun mengusap wajah nya frustasi. Ia mengerang kesal, lalu melemparkan vas bunga yang berada di atas meja. Ia menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya. Buliran air bening mengalir membasahi kedua pipi putih nya. Ia tak sanggup. Sungguh tak sanggup. Tapi disisi lain, ia harus sanggup menghadapi ini semua. Karena ini belum seberapa. Akan ada lagi yang akan membuat nya lebih sakit.

Sehun merebahkan tubuh nya di kasur empuk nya dengan posisi yang menurut nya nyaman. Ia memejam kan mata nya, walaupun buliran air bening masih setia mengalir membasahi pipi nya, lalu turun membasahi bantal yang ia gunakan.

Mungkin malam ini ia akan kembali menangis. Seperti hari-hari sebelum nya. Menangisi gadis itu. Gadis nya. Milik nya. Wanita nya. Dan hanya untuk nya.

______

Deringan ponsel menggema di ruangan milik petinggi di perusahaan besar ini. Tapi pemilik ponsel hanya diam menatap kosong ke luar jendela. Mata nya memandangi kota Seoul dengan kosong.

Sesekali ia tersadar, lalu mengubah posisi nya dan kembali seperti semula. Deringan ponsel kembali terdengar, tapi sang pemilik ponsel hanya diam. Tidak tahu memang tidak mendengar atau memang sengaja mendiamkan nya. Kita tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran nya.

Dia tersadar kembali, lalu ia dengan tergesa-gesa meraih ponsel nya. Nomor yang menghubungi nya tidak di kenal. Dan itu membuat nya mengernyitkan dahi nya heran. Tidak mau memikir kan nya, ia pun mengangkat panggilan itu. “Halo, selamat siang..”

“……….”

“Ne?”

“……….”

Beep

Sehun dengan tergesa-gesa mengambil jas nya dan tas kantor nya. Berlari keluar dari ruangan nya. Dia berlari dengan sangat kencang. Nafas nya terengah-engah saat sampai di Lobby gedung. Mobil beserta supir nya sudah senantiasa menunggu nya pun langsung membuka kan pintu belakang. “Tidak, kau pulang naik taksi saja. Biarkan aku menyetir sendiri.” Perintah nya yang tak bisa terbantah oleh sang supir.

Ia mengemudikan mobil nya dengan kecepatan penuh. Bagaikan dalam sebuah arena balapan mobil. Seperti tak ada rasa takut yang di rasa kan nya.

.

Sehun menyandarkan tubuh nya di pintu mobil sembari memasukkan kedua tangan nya di dalam saku celana. Ia hanya diam memandangi rumah kecil yang sebenarnya sudah tidak bisa dikatakan rumah lagi. Menunggu sang pemilik rumah itu datang. Sesekali dia melirik ke arloji nya untuk mengetahui sudah berapa lama ia berada disana.

Mungkin, karena terlalu lama menunggu, ia pun hendak untuk kembali ke kantor. Tapi ia urungkan saat mendengar suara pintu dibuka, lalu kembali ditutup. Ya, asal suara itu berasal dari rumah kecil itu. Dengan perasaan yang tak bisa tergambar kan. Ia berjalan menghampiri rumah itu, lalu mengetuk pintu rumah beberapa kali.

Clekk.. Seorang wanita dengan dress berwarna biru keluar, lalu menatap wajah Sehun heran. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” Tanya sang wanita yang sudah berdiri tepat di hadapan Sehun. “Aa.. Bukan kah ini rumah milik seorang wanita bernama, Kim Eunsa?” Bukan nya menjawab, Sehun malah kembali nanya pada sang wanita.

Tampak wanita itu sedang berfikir-fikir untuk mengingat-ngingat. “Oh! Nona Kim? Dia sudah pindah dari rumah ini.” Jawab nya. “Pindah kemana kalau saya boleh tahu?”

“Maaf Tuan, soal pindah nya saya hanya tahu ia akan ke Busan, tapi soal alamat saya tidak tahu.”

“Kalau begitu, terima kasih. Maaf menganggu..” Pamit Sehun membalikkan tubuh nya. Ia fikir hari ini ia akan kembali bertemu dengan wanita itu. Ya, dia adalah Kim Eunsa. Wanita yang mampu membuat hati nya bergetar. Hanya dia, dan dia. Karena tak ada seorang wanita yang bisa menaklukan hati seorang Oh Sehun, selain Kim Eunsa.

______

“Aww.. sakit..”

“Tahan, sedikit lagi ini selesai.”

“Kumohon ini sakit, Sehun-ssi.”

“Ini juga karena salah mu. Seharus nya kau melawan mereka, bukan nya hanya diam saat di pukuli.”

“Mereka terlalu banyak, Sehun-ssi..”

“Dan salah satu orang tua mereka adalah atasan ayah ku. Aku takut mereka akan memecat ayah ku.”

“Tenang. Ada aku disini..”

“Sekali lagi, terima kasih..”

____

Nafas nya tersengal-sengal. Baju nya basah akan keringat. Mata nya bergerak gelisah. Sehun mengambil gelas yang berisi air mineral di atas nakas, lalu menenguknya sampai habis. Ia menaruh kembali gelas itu di atas meja nakas. Mengusap wajah nya dengan frustasi.

Bayangan kejadian itu terus menghantui nya. Ini semua menganggu nya. Ia harus secepat nya mencari wanita nya. Tak mau tahu, ia harus mencari wanita itu dan tak akan pernah melepaskan nya. Karena ia mencintai wanita itu, ia merindukan wanita itu, ia membutuh kan wanita itu, dan wanita itu adalah milik nya.

Ia bangkit dari atas tempat tidur. Berjalan masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar tidur nya. Ia memandangi pantulan wajah nya dari cermin. Rambut nya acak-acakan, muka nya terlihat sangat lelah, baju nya basah akan keringat, dan ia sering terjadi oleh nya sejak kehilangan wanita itu.

“Mau sampai kapan kau meninggalkan ku, Eunsa-ya? Sampai kau melihat ku mati, lalu baru kau temui aku? Kau benar-benar, Eunsa.”

Kebiasaan nya saat memimpi kan wanita itu, yaitu ia akan bicara sendiri di dalam kamar mandi sembari memandangi pantulan wajah nya di cermin. Ia menundukkan kepala nya, memandangi lantai kamar mandi. Ia tak bisa seperti ini terus. “Secepatnya! Ya, secepatnya!”

_____

Seorang wanita mengekor di belakang tubuh besar milik seorang pria. Ia hanya mengikuti nya, tak berniat untuk menyapa sang pria. Membuat sang pria merasa risih, dan akhirnya pun ia berbalik menatap wanita itu dengan tajam. “Pergilah!” Perintah nya, lalu berbalik lagi seperti semula.

Walaupun sudah diperintah untuk pergi, ia tidak mendengarkan perintah itu. Masih terus mengikuti sang pria kemana pun. Menjadi pusat perhatian mahasiswa yang ada di sekitar mereka.

Kesal karena diikuti terus. Akhir ia berhenti, lalu berbalik menatap wanita itu dengan kesal. “Ada apa?!” Geram nya menahan marah yang memuncak. Sedangkan wanita itu tersenyum manis pada nya. Menyodorkan sekotak bekal pada sang pria. “Aku hanya ingin memberikan mu ini, Sehun-ssi. Sebagai ucapan terima kasih.” Ujar nya dengan nada riang.

Sehun hanya diam memandangi kotak bekal yang disodorkan oleh wanita yang berada dihadapan nya ini. “Ini ambil, Sehun-ssi.” Ujar wanita itu menyuruh Sehun mengambil nya. “Kalau begitu, aku pamit dahulu. Bye!” Wanita itu pun pergi meninggalkan Sehun sendirian di sana bersama dengan kotak bekal yang di beri nya.

Tanpa Sehun sadari. Ia tersenyum memandang kotak bekal tersebut. Sudah lama sekali, semenjak ibu nya pergi meninggalkan dunia ini, tak ada satu pun orang yang membuat kan nya bekal. Jung Ahjumma pun juga tidak pernah membuat nya bekal. “Terima kasih..”

______

Sehun baru saja selesai rapat bersama karyawan-karyawan nya pun masih setia duduk di ruang rapat sendirian. Sesekali ia memijit pelipis nya. Ia hanya terlalu lelah saja.

Sehun bangkit dari kursi kebesaran nya di ruang rapat. Sebelum ia benar-benar keluar dari ruang rapat, ia menangkap sosok yang tidak jelas berada di samping kanan kursi yang baru saja ia duduk. Ia hanya menggeleng kan kepala nya, membuang jauh-jauh pikiran negatif nya.

Beberapa karyawan yang melewati nya pun membungkuk hormat pada nya, sedangkan dia hanya mengacuhkan nya dan terus saja berjalan. Rasa nya ia ingin sekali melampiaskan rasa lelah nya ini pada karyawan-karyawan nya di kantor. Masa bodoh jika ia di bilang bos yang galak. Ia hanya ingin melampiaskam rasa lelah nya saja.

Saat ia sudah ingin melampiaskan rasa lelah nya, ia malah terdiam saat menangkap sosok yang tak asing bagi nya. Ia berbalik, dan mengikuti sosok tersebut sampai ia tak menyadari jika sudah berada di taman kantor nya. Sosok itu berhenti di depan bangku taman yang berada tepat di bawah pohon. Sehun yang penasaran pun mendekat, lalu menyentuh pundak sosok tersebut. “Permi–”

Hanya khayalan mu saja, Hun. Batin nya.

“Maaf, salah orang.” Ujar nya berbalik kembali masuk ke dalam kantor. Ia mencari keberadaan sekretaris nya, untuk menanyakan jadwal nya hari ini. Ia pun merogoh saku celana, mengambil benda berbentuk pergi panjang berwarna hitam tersebut. Ia menekan beberapa digit nomor, lalu menempelkan nya di telinga kanan nya.

Hal–

“Apa jadwal ku setelah ini?” Potong Sehun dengan nada dingin.

Tak ada. Hanya saja, nanti malam sajangnim harus datang ke kencan buta yang didaftarkan oleh tuan Kim.

“Sialan!” Desis Sehun, lalu mematikan panggilan sepihak. Kai memang selalu bertindak seenak nya. Sehun kembali menekan beberapa digit angka di ponsel nya. Menghubungi seseorang yang mendaftarkan nya di kencan buta sialan itu.

Ada apa, Hun? Tumben sekali kau menelpon ku.

“Sialan kau, Kai! Apa maksud mu mendaftarkan ku di kencan buta itu?!” Hanya Kai, Luhan, Hyena, dan Jung Ahjumma saja yang masih bisa merasakan sifat asli dari Oh Sehun. Walaupun terkesan dingin di luar nya. Oh Sehun tipekal orang yang cerewet dan menyebalkan jika bersama orang terdekat. Tapi, sifat itu sudah jarang ia tunjukan. Dan tidak ada yang tahu apa penyebab nya, selain kehilangan wanita itu.

Hun, kau sudah tua. Carilah wanita. Jangan menunggu nya terus. Ia tidak akan pernah datang lagi.

“Dia akan datang, Kai. Kalau begitu, aku tidak mau datang! Kau saja yang datang ke kencan buta itu.”

Ayolah, sobat. Kali ini saja, aku janji ini yang terakhir kali nya. Jadi, mau ya? Kasihan Hyena, Hun. Dia yang sudah menyiapkan ini semua.

“Kalau sudah soal Hyena, aku menyerah. Baiklah, kali ini aku datang. Katakan pada istrimu itu, terima kasih atas kencan buta nya.”

Hahaha. Pasti ku sampaikan. Selamat menikmati kencan buta sialan itu, Oh Sehun.

Beep

Sehun mendesah, lalu menaruh kembali ponsel nya ke dalam saku celana. Tak ada yang salah jika ia mencoba kencan buta sesekali. Apalagi yang mendaftarkan nya bukan lah Kai, melainkan istrinya, Park Hyena. Kai dan Hyena adalah sahabat nya, sekaligus sepasang suami istri yang berbahagia. Kai yang bersahabat sejak mereka masih di sekolah dasar. Sedangkan Hyena, ia bersahabat sejak Hyena dan Kai menjalin hubungan. Dan ia juga sudah menganggap Hyena seperti Noona sendiri.

“Maafkan aku, Eunsa.”

______

Hyena membantu Sehun merapihkan rambut nya, lalu jas nya. Hyena tersenyum senang saat Sehun sudah dirasa pas dengan gaya nya. “Hye, aku tidak yakin akan pergi.” Ujar Sehun menatap Hyena dari pantulan cermin. Hyena hanya tersenyum sembari membenarkan letak dasi Sehun.

“Kau harus pergi, Hun. Ini keinginan anak ku. Kau tak ingin keponakan mu jadi ileran, bukan?” Tanya Hyena. “Tidak. Tentu saja tidak, Hye. Aku hanya belum siap memulai cinta yang baru. Aku.. masih belum bisa melupakan nya.”

“Tak usah kau lupakan dia, Hun. Dia adalah bagian dari masa lalu mu. Kau tak boleh melupakan masa lalu mu. Anggap saja sebagai pembelajaran di masa yang akan datang nanti.”

“Ck! Tak salah jika Kai menikahi mu, Hye. Kau benar-benar wanita yang baik.” Sehun tertawa saat melihat Hyena mengerucutkan bibir nya.

“Cepat sana pergi! Kai sudah menunggu mu di mobil! Sana!” Hyena mendorong tubuh Sehun keluar dari kamar sampai ke depan pintu utama. Sudah ada Kai yang bersiap mengantar Sehun untuk ke kencan buta nya tersebut. “Semoga berhasil kencan buta mu tersebut, Hun.” Ujar Hyena melambaikan tangan nya.

“Maafkan aku, Eunsa. Maaf, sungguh aku minta maaf.”

.

Sehun sudah sampai di restaurant tempat nya akan bertemu dengan kencan buta nya. Kai sudah kembali ke rumah nya, meninggalkan nya sendirian bagaikan orang bodoh.

Sehun masuk ke dalam restaurant, dan langsung di sambut oleh pelayan restaurant. “Aku sudah memesan ruangan VVIP atas nama Park Hyena.” Ujar Sehun pada sang pelayan. “Kalau begitu, mari saya antar.” Sehun pun mengekor di belakang sang pelayan yang akan mengantar nya ke ruang VVIP.

Pelayan itu menggeser pintu ruangan, lalu mempersilahkan Sehun untuk masuk. “Terima kasih.” Ujar Sehun, dan masuk ke dalam ruangan.

Ia tidak sendiri. Sudah ada seorang wanita yang duduk membelakangi nya. Dengan rambut sebahu lebih, dengan dress berwarna biru elegan. Tidak tahu kenapa, jantung nya berdebar dengan cepat seiring ia berjalan untuk duduk di hadapan wanita itu.

Walaupun ia sudah duduk, wanita itu masih saja menundukkan kepala nya. Sehun pun berdehem untuk menyadarkan wanita itu kalau ia sudah datang. Wanita itu mengangkat kepala nya, menatap Sehun dengan tatapan sendu milik nya.

Deg

“Hai.”

.

.

.

.

TBC

—-

Note : Yes, tepat sekali tbc nya. Haha, maaf yaa posting nya lama. Emang harus ada beberapa kata yang di edit, tapi kalau masih ada yang aneh, yaaa maklumi saja lah. Maaf ini pendek, emang rencana nya di part 2 itu panjang. Dan ini bakalan ada flashback kenangan Sehun dan wanita nya terus menerus.

Buat ff Histoire D’amour, itu aku gatau bakalan di posting kapan, soalnya emang lagi males nulis. Buat different lagi tahapan penulisan bersamaan sama i’m not sure. The erratic? Itu juga sedikit-sedikit aku tulis. Jadi yang nagihin aku ff yang belum selesai, mohon untuk bersabar aja ya. Pasti aku lanjutin kok, tapi gatau kapan bakalan aku tulis dan postingnya.

Yang sabar ya nunggu nya. Maaf..

Advertisements

Author: Sashka

Jongin's wife. Teleporters // Whirlwinds // Pyromaniac.

4 thoughts on “[Twoshoot] Gone Not Around Any Longer {Part 1}

  1. Sebenernya apa hubungan sehun ama eunsa? Apa mereka seorang kekasih? Kayaknya sehun kehilangan banget ama sosok eunsa…

  2. Yeyeyyy seru bangettt
    Itu ceweknya eunsa ya?? Huhu
    Akhirnya sehun ketemu lagi sama diaa huhuyy
    Aku tunggu next chapternya ya
    Fighting!
    Btw ff yang juga aku tunggu tuh lanjutannya keep writing!^^*

  3. Yeyeyyy seru bangettt
    Itu ceweknya eunsa ya?? Huhu
    Akhirnya sehun ketemu lagi sama diaa huhuyy
    Aku tunggu next chapternya ya
    Fighting!
    Btw ff yang lain juga aku tunggu tuh lanjutannya keep writing!^^*

  4. ada apa dengan masa lalu sehun dan eunsa sebenarnya yang bikin mereka pisah
    moga aja gadis yang dikencan buta itu eunsa ya kasian sehun dah frustasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s