Sashka Fanfic's

“Let’s live while doing things we like.” -Sehun

[Ficlet] Park

Leave a comment

tumblr_nb8xg0m7SV1sqy4rjo1_r2_500

Tittle : Park

Author : Sashka (@sashagani)

Length : Ficlet

Genre : Sad // Hurt // Romance // Mystery

Cast : Park Chanyeol // Moon Sora

Rate : PG-17

Disclaimer : Cerita milik saya. Cast milik Tuhan yang maha esa, kecuali OC hasil pemikiran saja sendiri saya. No Plagiat!


Aku tidak tahu apa yang terjadi pada kehidupanku. Semua nya terjadi begitu saja. Cepat, dan tak terduga. Bagaikan berada di dalam mimpi.

Aku berusaha untuk keluar dari ini semua, tapi aku malah terperangkap lebih dalam. Aku menjerumuskan diriku sendiri lebih dalam. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya diam bagaikan orang bodoh. Tersenyum bagaikan orang idiot.

Aku memandangi nya yang sedang menggerak kan tubuh nya dengan keren nya. Menghibur siapa pun orang yang melihat nya. Senyuman nya menular. Paras nya yang tampan, membuat para kaum wanita ternganga dibuat nya, dan yang membuatku kesal adalah, aku tidak suka dengan tatapan para wanita ini.

Tapi, aku bisa apa? Aku bukan siapa-siapa nya. Aku hanya seorang yang dikenal sebagai.. mantan. Orang yang pernah ada di masa lalu nya. Hanya itu. Tidak lebih.

—-

Dengan langkah yang cepat, Sora masuk ke dalam gedung kantor nya. Ia tidak telat. Hanya saja ia ingin memastikan kalau benda keramat nya berada di meja kerja nya, atau yang terpenting berada disekitar meja kerja nya. Nafas nya tergesah-gesah saat berada di meja kerja nya.

Ia menaruh tas jinjing nya di meja kerja, lalu mulai mencari benda keramat nya yang tertinggal entah dimana. Ia berjongkok untuk mencari benda nya yang mungkin saja jatuh ke bawah. Tapi hasilnya nihil. Benda keramat nya tak ada dimana pun.

Ia menghela nafas nya kasar, dan duduk dikursi nya. Ia menutup wajah nya frustasi. Kita tidak tahu seberapa besar penting nya benda keramat nya itu. Tapi, baginya itu sangat amat penting. Hanya benda itu satu-satu nya yang tertinggal. Ada ada lagi selain benda itu. Maka nya ia begitu frustasi saat benda keramat itu hilang. Ia tidak tahu harus apa, dan melakukan apa, selain mencari nya.

Bingo!

Ia mengingat sesuatu. Kemarin hari, ia melemparnya asal karena ia kesal setengah mati, dan ia melempar benda itu di taman Apartement nya. Harus kah sekarang ia kembali ke Apartement? Itu tidak mungkin. Tapi jika sepulang kerja nanti lebih tidak mungkin, karena ia sendiri pulang sore hari. Ia mengigit kuku jari nya dengan gelisah. Ia hanya sedang berfikir bagaimana cara nya ia mencari nya.

Ia berjalan ke ruangan atasan. Mungkin dengan beralasan ingin mengambil dokumen yang tertinggal ia akan mendapatkan izin dari atasan nya. Ia mengetuk pintu atasan nya dengan perlahan. Saat ia diizinkan untuk masuk, ia masuk ke dalam dengan raut wajah yang tak dapat dimengerti.

“Ada apa, Sora?” Tanya atasan nya tanpa sekali pun menoleh pada nya. Sibuk dengan berkas-berkas yang berada diatas meja kerja nya. Membuat Sora sedikit lega, karena kemungkinan atasan nya tidak dapat membaca raut wajah nya. “Aku hanya ingin meminta izin untuk pulang ke Apartement, karena ada dokumen yang ketinggalan.”

Atasan nya pun mengangkat kepala nya, menatap nya dengan tatapan yang–datar? Tak lama, atasan nya itu malah tersenyum layaknya orang bodoh. Ia bangkit dari kursi nya, berjalan mendekati Sora. Dengan gerakan yang cepat, atasan nya itu memukul kepala Sora dengan koran yang sudah digulung menjadi panjang. “Aishh! Kenapa memukul ku, Minjoon?!” Geram Sora menatap Kai tajam. Ya, atasan nya ini adalah sahabat nya. Sahabat baik.

Minjoon terkekeh, “Mau membohongiku, Sora? Ck! Kau tidak bisa!” Ejek nya dengan seringaian yang menurut Sora menjijikkan, tapi tidak bagi wanita-wanita diluar sana. “Kau kehilangan BENDA KERAMATmu itu lagi, Sora?” Tanya nya sedikit penekanan pada kata ‘Benda Keramat’.

Sora mendengus kesal, “Ya, kau benar. Aku kehilangan benda itu.” Ujar Sora dengan nada yang kesal. Melihat itu, Minjoon hanya tertawa. “Apa menyebab nya sama seperti kemarin-kemarin, Sora?” Goda Minjoon menunjukkan senyuman bodoh nya.

“Sudah! Izin kan aku pergi ke Apartement. Aku melemparnya ditaman Apartement.” Dengan kesal, Sora mendudukan diri di sofa terdekat. “Katanya ingin pergi, tapi malah duduk? Mau mu tuh apa, Ra?”

Sora mendengus sebal, memutar dua buah bola mata nya jengah. “Aku lelah, Joon. Ini tak adil. Sungguh.” Minjoon pun ikut mendudukan diri nya di sebelah Sora. Duduk nya sedikit menyamping, agar dapat melihat wajah Sora. “Aku tahu perasaan mu, Sora. Tapi, bukankah ini keputusan kalian? Kau harus menerima nya. Mau kau bahagia atau tidak, kau harus menerima nya, bukan?”

“Tapi, ini menyiksa ku, Joon. Aku harus bagaimana?” Sora menutup wajah nya dengan kedua tangannya. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukam sekarang. Menyesal, atau tetap mejalani ini semua seperti kemarin?
“Sabar. Ini sudah takdirmu, Sora. Kau harus kuat. Hey! Kau bukan Sora yang ku kenal, Sora yang ku kenal adalah wanita yang kuat, yang tangguh, dan tak cenggeng.” Minjoon menggerakan tangan nya mengusap buliran air mata yang membasahi kedua pipi Sora dengan lembut. Jika dilihat, memang terlihat seperti sepasang kekasih yang dilanda kasmara, tapi kalian salah. Mereka menganggap ini semua adalah perhatian seorang adik–kakak. Tidak lebih. Dan ini membuat mereka saling nyaman.

“Cepat cari benda keramat itu. Jangan sampai hilang, aku takut kau jadi stress lalu gila karena benda keramat itu.”

_______

Sora tersenyum lebar saat itu menemukan benda keramatnya yang hilang di taman Apartement. Ia bangun, lalu berjalan ke bangku taman yang tidak tidak begitu jauh. Ia duduk disana, sembari memperhatikan benda keramat nya senang. Malah amat senang. Tak tahu jadinya jika ia harus kehilangan benda ini.

“Kukira kau hilang. Bagaimana kalau kau hilang? Kau ingin aku gila?” Ia memejamkan mata nya, mengenggam benda keramat itu, dan menempatkan nya didepan dada nya. Menghirup udara segar yang mungkin sewaktu-waktu tak dapat ia hirup lagi.

Setetes demi tetes air bening mengalir turun dari mata nya. Satu tetes air memiliki makna penting bagi nya. Ada rasa sakit, cinta, menyesal, bodoh, kesal, dan.. rindu yang bercampur menjadi satu. Membiarkan air mata itu turun dengan deras. Tak ada niatan untuk berhenti, karena memang ia tidak ingin berhenti.

“Menangislah di depanku. Jangan menangis dibelakangku. Maaf..”

Isakkan Sora makin jelas terdengar. Ia mengingat dimana pria itu memarahi nya. Tangan nya terkepal menyentuh didepan dada nya. Sesak dan sakit rasanya. “Maaf.. maafkan aku. Kembalilah.. kumohon. Hiks.. aku ingin kau kembali. Kumohon..”

“Jangan menangis lagi, Ra. Ini didepan umum. Kau tak malu?” Tenang Minjoon yang sudah mendekap Sora dengan erat. Minjoon tak akan pernah membiarka Sora mencari benda itu sendiri, karena ia tahu kalau akhirnya pasti berakhir dengan tangisan pilu nya. “Tenanglah.. tak ada yang perlu kau sesali lagi.”

“Aku hanya ingin ia kembali.. Tapi, semuanya sudah terlambat. Apa yang harus aku lakukan?”

“Suatu saat nanti, kalian pasti akan kembali bersama lagi. Aku yakin. Sangat yakin.”

_____

Flashback

Seorang namja mengenggam tangan mungil seorang yeoja yang kini duduk berhadapan dengannya. Ia membelai pipi sang yeoja dengan lembut. “Kenapa menangis, hm? Kau tak senang jika sebentar lagi aku debut?” Yeoja itu menggeleng lemah mendengar pertanyaan sang namja. Malah tangisan nya makin terdengar jelas ditelinga sang namja.

“Aku hanya tak percaya saja, kalau sebentar lagi kau akan debut. Pasti nanti kau lupa padaku, dan nanti aku akan sangat sering merindukanmu.” Namja itu tersenyum lebar sembari membelai pipi yeoja itu dengan lembut. “Hey! Dengarkan aku! Kau ingat kalung ini?” Namja itu menunjuk kearah kalung perak yang bertengger manis dileher sang yeoja. “Jika kau merindukanku, ingat dengan kalung itu, genggam kalung itu dengan erat. Ku yakin, rasa rindu mu pasti terobati.” Dengan kesal, yeoja itu memukul bahu sang namja lalu tertawa.

“Jangan lupa juga untuk menyebut namaku tiga kali, Ra.” Bisik nya tepat ditelinga sang yeoja. “Mau janji padaku?” Yeoja itu mengangguk dengan mata yang merah basah akibat menangis. “Jika aku sudah terkenal, jangan lupa untuk mendukungku terus, karena aku sangat butuh dukunganmu.”

“Bagaimana jika kau melupakan aku?” Tanya yeoja itu menatap sang namja dengan tatapan yang sendu. Namja itu hanya diam, tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut nya. Tiba-tiba ia tersenyum lebar, menarik pergelangan tangan sang yeoja, mendekapnya dengan erat. Mengusap rambut yeoja itu dengan lembut. “Kumohon, sebentar saja seperti ini. Aku membutuhkanmu. Sangat.”

“Aku mencintaimu, Park Chanyeol..” Yeoja itu semakin erat mengalungkan tangan nya di pinggang namja itu, mata nya terpejam merasakan nyaman nya dekapan namja ini. “Maafkan aku, Sora..” Lirih sang namja tak terdengar oleh sang yeoja yang kini sudah tertidur didalam dekapan nya.

Flashback END

.

Disaat para yeoja-yeoja berteriak histeris memanggil nama idolanya, yeoja ini hanya diam memandang lurus kearah panggung. Matanya sudah berkaca-kaca sejak tadi. Tak lupa, ditangan kanan nya sudah ada lightstick yang siap menyemangati sang idola.

Ia hanya diam, tak seperti yang lain. Malah mata nya kini terpejam bersamaan kristal bening mengalir dari mata nya. Terua mengalir, dan mengalir.

Seharusnya ia mendengarkan apa kata Minjoon. Tak datang kemari untuk mendukung nya. Daripada ujung-ujungnya ia menangis seperti sebelum-sebelum nya. Mendekap mulutnya dengan tangan kanan nya. Tak kuasa melihat nya lebih lama, ia berbalik, berniat untuk pulang kerumah–walaupun ia tak tahu akan bisa pulang atau tidak.

Dulu, ia adalah gadis bodoh. Sangat bodoh. Karena ia begitu percaya pada pria sepertinya. Seharusnya sejak awal ia tahu, kalau seorang calon artis tidak diperbolehkan memiliki seorang kekasih. Dan bodohnya ia tidak tahu itu. Dengan berat hati, ia meninggalkan tempat itu, sekaligus berusaha melupakan semuanya. Karena sudah tak ada yang perlu ia ingat lagi. Semua nya telah usai. Dengan segala pertimbangan Sora, ia memutuskan untuk menyimpan kalung itu–benda keramat didalan kotak kecil, lalu menyimpan nya didalam lemari pakaian. Menaruh ditempat yang jarang ia tuju. Semuanya ia lakukan agar ia bisa melupakan semua. Kenangan pahitnya. Selamat tinggal..

.

.

.

FIN

—-

Note: maaf banget, karena ff ini gajelas. Tadinya ga pengen kaya gini, tapi dapet ide dari teman karibku haha. Lagi cerita tentang mantan gitu, dan keinget barang yang dia kasih. Dan di bilang, “aku bakalan sayang sama kau, selamanya.” Eh taunya baru-baru ini dia jadian lagi dan lagi, sebenernya sih putusnya udah satu tahun yang lalu setelah anniv yang ke satu tahun;'( curhat banget aku-,- kasih ucapan dong buat aku, tepat tanggal 25 nanti aku failed anniv yang kedua tahun, flashback banget-_- udahudah.

Makasih yang mau meluangkan waktunya untuk baca ini. 😉

Advertisements

Author: Sashka

Jongin's wife. Teleporters // Whirlwinds // Pyromaniac.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s