Sashka Fanfic's

“Let’s live while doing things we like.” -Sehun

Fille #Our Meeting {Chapter 1} –by Sashka

3 Comments

fille

 

Tittle : Fille // Author : Sashka (@sashagani) // Genre : Romance, Sad // Cast : Park Chanyeol (EXO) , Choi Sora (OC) // Length : Chaptered // Rate : PG-17

Disclaimer : Cerita milik saya. Cast milik Tuhan yang maha esa, kecuali OC hasil pemikiran saja sendiri saya. No Plagiat!

Summary : Pertemuan kita bukanlah sebuah kesengajaan, tapi pertemuan kita adalah… TAKDIR.

A/N : Cerita ini terinspirasi dari sebuah novel. 


Dengan langkah yang dibuat secepat mungkin. Ia, atau gadis dengan rambut sepanjang bahu itu berlari dengan sangat cepat. Kaki kecil nya melangkah dengan jarak yang jauh atau besar. Sesekali ia menoleh kebelakang, dan kembali berlari dengan cepat. merasakan dadanya berdebar keras dan keringat dingin mulai menetas.

Sungguh tak pernah terbayangkan oleh gadis ini , bahwa ia akan mengalami kejadian seperti ini. Dikejar-kejar oleh dua orang yang menyeramkan.

Satu orang pria menyeramkan dengan otot yang besar dilengan nya, rambut yang sudah habis dimakan usia. Berlari mengimbangi larian nya. Ia berdoa, semoga pria menyeramkan ini tersandung atau jatuh tak sengaja. Dan ia pasti akan bebas dan bisa menghirup oksigen dengan benar.

Satu orang pria lain nya, dengan tubuh nya sedikit lebih kecil dari pria yang pertama, ikut mengimbangi larian nya. Biarkan aku bebas kali ini.

Sore ini Choi Sora, atau kerap dipanggil Sora ingin pergi berkencan buta dengan seorang pria yang ia tidak ketahui asal usul nya. Tapi saat ia sudah berada di halte, ponsel dan dompet nya tertinggal. Mengharuskan nya untuk kembali ke flat kecil nya. Saat ia kembali, dua orang pria menyeramkan meneriakki nama nya dengan lantang. Membuatnya panik dan berlari dengan secepat mungkin.

Tentu saja ia tahu siapa pria-pria tersebut. Pria yang ingin menagih utang Appa nya. Dan karena itu juga ia berlari dengan sangat cepat berusaha untuk menghindar dari para pria menyeramkan itu.

“YAK! JANGAN LARI KAU!”

Ini saatnya untuk berlari lebih cepat. Karena ia tahu, para pria itu sudah lelah. Ketika ia gang kecil yang mungkin jarang dilewati, ia berlari ke sana dan bersembunyi diantara sampah-sampah pertokoan.

“SIALAN! KEMANA LARINYA GADIS ITU?!”

Terdengar ketukkan sepatu yang menjauh dari tempat persembunyian nya. Sora mendesah lega. Ia terbebas kali ini. Ia beranjak dari sana, dan merapihkan pakaian na yang sedikit berantakan. Lalu berjalan menjauhi tempat tersebut dan menuju ke kencan buta nya.

Ia menyunggingkan senyum bahagia karena ia terbebas. Duduk dihalte bus dan tersenyum konyol seorang diri. Terlihat seperti orang yang tidak waras memang. Tapi ia sedang senang sekarang. Malah kelewat senang sekali.

“Semangat, Choi Sora! Kali ini pasti berhasil.”

_____

Pria berusia 29 tahun itu berjalan dengan gagah memasukki gedung pencakar lanjit dikawasan Seoul, Korea Selatan. Malam ini ia harus datang ke gedung ini karena suatu masalah. Masalah yang menganggu waktu istirahat nya.

Dengan wajah tak bersahabat. Pria tersebut mempercepat langkah nya menuju ke ruang meeting. Didorong pintu berwarna coklat tua tersebut dengan kencang menimbulkan detuman yang kencang.

“BAGAIMANA INI BISA TERJADI, HUH!?!” Bentak nya dengan suara yang tegas sekaligus menyeramkan. Urat-urat nya sangat terlihat jelas.

“Ma.. Maa-maaf sa-jangnim.. Kami ta-tak tahu jika ada ada yang masuk ke da-dalam gedung setelah sajangnim pulang.” Ujar salah satu dari orang didalam ruangan tersebut dengen gugup, atau lebih dominan ketakutan.

“Bawa saja dia ke kantor polisi, dan dimana berkas nya?!” Perintah pria berusia 29 tahun tersebut dengan sangar.

Segera salah satu dari mereka memberi nya sebuah berkas-berkas penting. “Cepat bawa dia ke kantor polisi!” Semua yang ada diruangan tersebut berbondong-bondong keluar menyeret pelaku pencurian berkas penting ke kantor polisi.

Setelah ruangan sepi. Ia duduk disalah satu kursi yang ada disana. Menghembuskan napas panjang. Ia lelah. Sudah seminggu ini tak pernah tidak nyenyak karena mimpi yang tak menyenangkan.

Lantas ia beranjak dari sana dan menuju ke ruangan pribadi nya. Membawa sekaligus berkas-berkas tersebut ke tempat asalnya. Mau tidak mau. Ia tidur didalam ruangan pribadi nya malam ini.

Karena tak mungkin ia mengemudi dipukul tiga pagi ini. Jadi, tidur diruangan nya adalah satu-satu nya cara agar tidak terjadi kecelakaan.

Ia berjalan menuju kaca besar disana. Memandang suasana kota Seoul dimalam hari yang begitu indah. Dengan segelas air mineral digenggaman nya.

“Eomma.. Aku merindukanmu.”

Siapa yang tak kenal dengan Park Chanyeol? Hampir semua orang mengenal nya sebagai pembisnis terkaya di Korea Selatan. Hanya saja ia begitu tertutup sehingga jarang ada berita tentang nya.

Ia besar dikehidupan yang sangat berkecukupan. Mau ini, tinggal meminta. Mau itu, tinggal bilang. Ia selalu mendapatkan sesuatu dengan instan. Tak pernah berusaha dengan keras untuk memiliki sesuatu.

Seperti sekarang, ia memiliki semua nya hanya dengan membalikkan tangan. Ia pintar. Ia tampan. Ia juga kaya. Apa yang tak enak coba kehidupan nya? Sangat enak. Semua orang ingin seperti nya.

Tapi sayang, Chanyeol begitu tertutup. Kaku. Tidak pandai bergaul. Kurang update. Hanya itu poin minus nya. Kalau saja tak ada hal-hal kecil itu, Chanyeol pasti sangatlah sempurna.

Ya. Sangat sempurna.

_____

Hari ini, Sora berniat untuk mencari buku design diperpustakaan kampusnya. Sora yang awalnya hanya ingin ke perpustakaan pun berbelok ke kantin. Mencium harum masakan membuat perut nya berperang meminta diberi makananan, dan memang ia tak makan sejak tadi pagi.

Berbaris mengantri makanan, dan mencari tempat duduk untuk nya. Saat ia ingin memasukkan suapan ke dua, seseorang duduk dihadapan nya dengan membawa ramen cup. “Aku makan disini, ya?” Sora tersenyum dan menganggukan kepala nya.

Seseorang yang ada dihadapannya ini adalah teman satu-satunya yang dekat dengan nya disini. Luhan. Padahal mereka berdua beda jurusan. Sora yang mengambil jurusan design, dan Luhan yang mengambil jurusan bisnis.

“Apa pria-pria berbadan besar itu masih suka mendatangimu?” Tanya Luhan sembari menatap Sora. Berharap kali ini Sora menjawab pertanyaan nya. Yang ditanyai pun hanya bisa diam.

Dia bukan tidak mau menjawab pertanyaan Luhan, hanya saja ia tidak mau membawa Luhan ke dalam masalahnya. “Ayolah.. Kita sudah berteman sejak kita menengah pertama. Yang benar saja kau masih tidak mau mempercayaiku, Ra.” Luhan menahan lengan Sora. “Kau percaya padaku, kan?”

Sora menarik tangan nya dari genggaman Luhan dan menatapnya sendu. “Bukan seperti itu, Lu. Ini masalahku. Aku tak mau kau ikut ke dalam masalahku kali ini.” Sora berujar sendu.

“Kenapa?” Luhan merasa tak dianggap sebagai sahabat oleh gadis berambut hitam seleher itu.

“Maafkan aku, Lu. Biarkan aku menyelesaikan masalahku sendiri kali ini.”

“Baiklah.” Sora mengangkat wajahnya, menatap Luhan sendu sementara Luhan membalas tatapannya dengan tatapan berbinar. Mereka tertawa bersama. Menertawakan persahabatan mereka yang sedikit unik.

“Hari ini pulang bersama, ya? Aku tak membawa motor.” Sora menganggukan kepala nya cepat dan memakan makanan siang nya.

Luhan mengamati Sora, lantas tersenyum nakal. “Kau tampak cantik hari ini.”

“Apa?” Mata Sora membulat. “Hentikan jangan membuatku malu, Lu.” Sora bangkit dari duduknya dan berniat untuk meninggalkan Luhan disana sendirian.

Luhan tertawa. “Baiklah. Tapi, kalau kau mau kita bisa pergi ke catatan sipil. Kita bisa kesana sekarang juga kalau kau mau, cantik.” Dikedipkan satu mata nya. Menatap nakal punggung indah Sora.

Sora berbalik dan terlihat sanagt kesal, menghampiri Luhan seraya mengamatinya dari atas sampai ke bawah. “Apa katamu? Kau mencari mati, eoh?” Ucapnya tajam dan menarik tangan Luhan pergi meninggalkan kantin menuju ke taman belakang kampus. “Berhentilah menjadi pria genit, Luhan. Itu menjijikan.”

“Setidaknya itu membuatmu senang, cantik.” Luhan berujar seraya mengelus dagu Sora sesaat. Kali ini mereka kembali tertawa bersama.

Benar kata Luhan. Ini semua membuatnya senang. Coba bayangkan jika Luhan adalah pria dingin, ia pasti akan mati kutu tak tahu harus berbuat apa. Tapi jika Luhan pria genit, ia selalu dibuat senang dan dibuat tertawa terbahak-bahak oleh Luhan. Hanya Luhan, karena kebetulan ia hanya mempunyai teman yaitu Luhan saja.

Apalagi sebentar lagi mereka akan lulus. Lulus bersama-sama tapi berbeda jurusan. Sebenarnya Luhan seharusnya sudah lulus dua tahun yang lalu. Tapi ia sengaja memperlama agar Sora tak kesepian. Benar-benar sahabat yang setia.

“He! Choi Sora!” Panggil Luhan seraya menggerakkan tangan nya didepan wajah Sora. Berharap gadis ini menatap kearahnya. “Apa kau baik-baik saja?” Tanya Luhan menatap nya khawatir. Sora mengangguk. “Bukankah kau ingin ke perpustakaan?”

Sora tertegun. “Jam berapa sekarang, Lu?” Tanyanya dengan kedua mata yang membulat.

Luhan melirik ke arloji nya dan kembali melihat Sora. “Jam 2 siang. Kenapa?” Lantas dengan cepat Sora bangkt dan berlari meninggalkan Luhan sendirian. “Selalu saja ditinggalkan. Tinggalkan saja terus.” Gerutu Luhan bangkit dan mengikuti arah Sora berlari tadi.

______

Chanyeol, pria itu menatap tak bersahabat kearah para pelayan yang bekerja dirumah besarnya. Sebab, beberapa tanaman nya mati karena tak diurus dengan benar dan itu membuatnya sangat marah besar. “Jadi.. Apa tidak ada yang mau mengakui siapa yang telah membuat tanamanku mati?” Tanya nya menatap tajam satu per satu para pelayan nya.

Semuanya menunduk takut. “Maaf tuan, tapi pelayan yang bertugas untuk mengurus rumah kaca sedang sakit. Kami semua tak mendapat perintah dari tuan, jadi kami tidak berani untuk menggantikan nya.”

Chanyeol berjalan mendekati salah satu pelayan tersebut yang menurutnya paling berani karena mau membuka suara. “Jadi… Jika tidak diperintah, kalian tidak mengurus rumah kaca?” Pelayan itu menganggum pasti. Chanyeol tersenyum kecil.

PLAK

“KALIAN SEMUA BODOH ATAU APA, HAH?! TANAMAN ITU SANGAT BERARTI ITUKU. KALIAN SEMUA TAHU ITU, KAN?! SEHARUSNYA KALIAN BERPIKIR! DASAR TAK BECUS!” Bentak Chanyeol membuat seisi ruangan itu bersitegang.

Salah satu pelayan yang mendapat tamparan darinya hanya bisa menunduk dalam diam. Semuanya hanya bisa diam sekarang. Karena apa? Tuan mereka sudah marah besar. Dan sudah pasti tak ada yang bisa mereka lakukan selain hanya berdiam diri.

Chanyeol memijat pelipisnya lalu menatap pelayan itu lagi. “Aku harap ini terakhir kalinya kalian melakukan kesalahan. Jika terulang lagi tak segan-segan aku akan memecat kalian semua!”

Langkah kaki nya membuat dirinya menjauh dari sana. Membuat para pelayan dapat bernapas lega akhirnya tuan nya pergi juga. “Cih! Apa dia tak tahu kalau pipiku sakit ditampar?” Cibir pelayan yang mendapat tamparan dari sang majikan.

“Sudahlah. Dia hanya pria yang kesepian. Maklumi saja.” Mereka semua mengangguk-ngangguk dan kembali ke pekerjaan mereka semua.

Chanyeol mendorong pintu kamar nya dengan kencang. Membuka jas hitam berserta dasinya dengan cepat lalu mendudukkan bokong nya disofa yang terletak didalam kamarnya. Ia menghela napasnya kasar.

Mengusap rambutnya frustasi. Seharusnya ia tak seperti ini. Menjadi seorang pria yang mudah marah. Sensitif. “Arggghhhh!!”

Chanyeol bangkit dari sofa lalu masuk ke dalam kamar mandi pribadinya. Membuka satu per satu pakaian nya seraya menatap ke depan cermin. Tak ada ekspresi yang tergambarkan diwajahnya. Flat.

Selesai membuka pakaian nya. Ia melangkah sedikit ke depan untuk berdiri tepat dibawah shower. Diputar keran shower ke kanan dan turunlah air yang membasahi kepala sampai ke kakinya.

TOK TOKK

Chanyeol kembali memutar keran showernya ke kiri lalu mengambil handuk putih dan berjalan membuka pintu kamar mandi. “Maaf menganggu waktumu, sajangnim. Saya hanya ingin memberi tahu kalau nona Jung datang.” Ujar sekretarisnya saat ia membuka pintu kamar mandi.

“Suruh dia untuk menungguku sekitar 10 menit lagi.”

“Baik, sajangnim.”

“Aku sudah dibuat menunggu sangat lama, tuan Park.” Canda seorang wanita berpenampilan anggun dengan rambut coklat yang tergerai indah tapi tak dapat meluluhkan hati seorang Park Chanyeol. Chanyeol menghampiri wanita itu yang kini sudah bangkit dari sofa untuk menyambutnya.

“Maaf membuatmu lama, nona Jung.” Ujar Chanyeol dingin menatap tajam kearah wanita dihadapannya kini. Tak ada yang perlu mereka bicara. Tentang perusahaan mereka resmi bekerja sama. Sudha hanya itu lalu yang membuat Chanyeol heran kenapa ia datang ke rumah nya?

Jung Minhye, wanita itu menatap Chanyeol dengan mata yang berbinar walaupun sedikit ia sembunyikan. “Maaf nona Jung. Tapi, ada keperluan apa kau datang ke kerumah saya? Saya rasa tak yang perlu kita bicarakan lagi tentang kerjasama kita.” Ujar Chanyeol to-the-point membuat Minhye mati kutu tak bisa menjawab.

Chanyeol tahu jelas maksud wanita ini datang kediaman nya saat ini. Yaitu untuk bertemu dengan nya lalu berbasa-basi untuk membicarakan kerjasama perusahaan mereka dan mengajaknya untuk berjalan-jalan. Padahal wanita itu menganggapnya adalah sebuah kencan. Menjijikkan!

Minhye, wanita itu gelagapan tak tahu harus menjawab apa atas kedatangan nya kemari. Tapi dengan pintar juga ia menyembunyikan mimik wajahnya dan menjawab dengan setenang mungkin.

Chanyeol menautkan kedua alisnya heran. Biasanya wanita ini dapat langsung menjawab pertanyaan nya dengan tegas, tapi kenapa sekarang ia malah diam saja?

Ini bukan pertama kalinya wanita ini datang untuk maksud yang tidak jelas. Dulu, Chanyeol awalnya tidak tahu pun mengikuti apa yang dimau wanita ini lalu lama kelamaan ia tahu kalau wanita memiliki maksud yang lebih. Wanita ini menyukai dirinya.

“Saya datang kemari untuk mengajak tuan Park makan malam bersama diluar.”

Wanita ini benar-benar membuat Chanyeol kesal. Kenapa tak menyerah saja lalu pergi mencari pria lain. “Maaf nona Jung. Tapi hari ini saya akan istirahat, besok pagi saya akan pergi ke Busan…. Bukankah anda juga akan ke Busan juga besok?” Minhye, wanita itu mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Chanyeol.

“Kalau begitu saya pamit dahulu. Selamat malam, tuan Park.” Ujarnya dan berlalu meninggalkan kediaman Chanyeol.

Chanyeol menatap tajam sekretarisnya. “Besok-besok jangan memperbolehkan wanita itu masuk ke dalam pekarangan rumahku lagi!” Perintah nya tak terbantah kepada sang sekretaris yang langsung mengangguk patuh dan berlalu dari hadapan nya.

Chanyeol mendengys kesal. “Kembali bekerja!” Teriaknya dan langsunglah para pelayan dirumah nya gelagapan kembali bekerja. Chanyeol memilih untuk meninggalkan ruang tamu menuju ke taman belakang rumah nya, dimana ada rumah kaca disana.

Memeriksa tanaman hiasnya yang baru saja mati kemarin. Ia tersenyum seraya memperhatikan satu per satu tanaman hias yang dimilikinya. “Eomma, lihatlah. Tanaman hias mu kini makin banyak dan tumbuh dengan baik.”

Chanyeol mengambil salah satu pot yang berada dipaling tinggi diantara semua pot disana. “Eomma… apa kau tidak merindukanku?” Gumam nya pada tanaman yang berbeda dari tanaman yang ada disana.

“Aku menyanyangimu, Eomma…”

_____

Sora berlari dengan cepat. Hari ini ia telat untuk yang kesekian kalinya. Dan bodohnya, Luhan tak membangunkan nya seperti biasa nya. Sialnya lagi, ia harus mengejar bis lalu masih adakah kesialan yang menimpa dirinya?

Ia mendesah lega disaat jam mata kuliahnga sudah berakhir. Kini hanya dirinya seorang diri didalam kelas. Tak lama lagi ia akan lulus dan itu adalah berita baik. Tapi ia tak tahu dapat membayar tagihan dari kampusnya dengan cepat atau tidak. Saat ini ia benar-benar sedang tak memiliki uang.

“Hey!” Sora telonjak kaget saat seseorang menepuk pundaknya dari bilang dan saat ia menoleh itu hanya lah Luhan sih pria genit. “Ada apa, sayang? Kenapa kau melamun?” Sora menggelengkan kepala nya bahwa ia tidak sedang melamun. “Lalu kau sedang apa?”

Sora menghembuskan napasnya. “Aku hanya terlalu senang sebentar lagi aku akan lulus.” Jawabnga diiringi dengan senyuman manis andalan nya.

Lantas Luhan duduk dihadapan Sora dengan tangan yang seolah-olah mengaruk dagunya. “Hmm.. Bagaimana jika hari ini kita bersenang-senang?” Sora menatap Luhan penuh minat. “Aku tahu kalau kau sedang dalam keadaan yang tidak baik. Jadi… Bagaimana kalau hari ini kita habiskan untuk bersenang-senang saja? Apa kau mau?”

Sora menganggukan kepalanya. “Kebetulan jam mata kuliahku sudah tidak ada. Jadi aku bebas sekarang.” Lantas Luhan mengarahkan tangan pada Sora meminta gadis itu untuk menerima uluran tangannya.

“Jadi.. kita akan kemana pria genit?” Tanya Sora menaikan sebelas alis nya menggoda Luhan yang disambut dengan tatapan menggoda juga. Luhan menyuruh Sora mengenggam tangan nya dan mereka berjalan bersama menuju motor Luhan.

.

“Kenapa kau mengajakku kemari?” Tanya Sora heran.

Luhan hanya tersenyum jahil. “Aku pernah diajak oleh temanku kemari dan disini sangat seru.” Ujar Luhan. Sora memandang heran kearah Luhan. Tempat seperti ini seru katanya? Dia bahkan sangat membenci tempat ini. Rumah hantu. “Kau tahu kan kalau aku takut gelap?” Luhan menganggukan kepalanya tahu. “Lalu kenapaku mengajak kemari?”

Luhan mengangkat bahunya tidak tahu. “Aku hanya ingin kemari saja. Lagipula kalau disini kau bisa berteriak sepuasnya.” Benar juga ia bisa berteriak sepuasnya. Tunggu, sepertinya Luhan mempermainkannya kali ini. “Kau sengaja kan mengajakku kemari untuk berbalas dendam karena aku mengajakmu menaiki rollercoaster, kan?”

Luhan menatap sengit kearah Sira. “Ya, kau benar! Aku ingin balas dendam, sekarang ikut aku!” Ditarik pergelangan tangan Sora mengikuti langkah kaki nya ke dalam rumah hantu. “Kau akan mati setelah ini, Luhan!”

Seolah meremehkan, Luhan malah terkekeh kecil dan kembali menarik pergelangan tangan Sora memasuki rumah hantu lebih dalam.

“AAAAA! KAU BENAR-BENAR AKAN MATI SETELAH INI, LUHAN! AKU TIDK MAIN-MAIN KALI INI!”

.

Luhan memberikan sebotol air mineral pada Sora yang kini terlihat pucat. “Kau memang pria yang menyebalkan! Sangat amat menyebalkan!”

Bukannya takut atau apapun, Luhan malah mengacak rambut Sora. “Cepat minum air itu lalu kita pulang, ini sudah malam.” Sora berdecak kesal dan meminum habis air mineral tersebut.

Dipandangnya Luhan kesal. “Kau!!” Dipukul kepala Luhan dengan kesak berkali-kali. “Kau tahu, aku hampir mati didalam sana. Kau benar-benar mencari mati! Rasakan!!” Luhan hanya bisa memohon ampun dan menghindar dari pukulan Sora.

.

“Sudah sampai sini saja.”

“Kau yakin mau berjalan dari halte sampai ke flat sendirian? Bagaimana kalau ada orang jahat?” Sora menunjukkan kepalan tangan ke hadapan Luhan. “Dia akan mendapatkan ini dariku.” Luhan berdecak.

“Lebih baik kutemani saja, eoh? Aku takut kau kenapa-kenapa.”

“Aku baik-baik saja. Lebih baik kau pulang, ini sudah malam anak nakal!”

Arasseo.” Luhan kembali memakai helm hitam nya, melambaikan tangan kearah Sora dan melaju meninggalkan Sora disana sendirian.

Sora berjalan seraya memegang tengkuk nya pegal. Ini benar-benar menyiksanya sekali. Semua tubuhnya terasa pegal. Tak lama lagi ia akan sampai ke flat kecilnya dan ia bisa bersantai tanpa ada gangguan apapu lagi.

Tapi tanpa Sora duga, kedua pria yang waktu itu kembali datang menunggu didepan pintu flat nya. Salah satu dari mereka bertatapan dengan Sora. “Yak! Itu orangnya!” Mereka berdua menuruni tangga dan menghampiri Sora.

Sora mengerti situasi ini, dengan cepat ia berlari menjauhi flat kecilnya. Entah kemana ia berlari sampai kakinya terluka seperti ini. Masih terus berusaha lari dari kejaran para pria seram tersebut. Sora menambah kecepatan larinya.

Sekarang, Sora harus mencari temoat bersembunyi yang sulit ditemukan oleh dua orang seram itu. Ia melihat ada dinding tinggi yang didekatnya ada sebuah pohon. Bagaimana kalau ia memanjat dari pohon dan loncat masuk ke dalam dinding tinggi tersebut.

Dengan tergesa-gesa, ia memanjat ke atas pohon dan meloncat ke dalam pekarangan rumah yang besar. Sejenak ia menatap kagum tempat ini sampai ia ingat maksud dan tujuan ia sampai kesini. Ia berlari masuk ke dalam sebuah rumah kaca. Terlalu banyak tanaman disini dan betapa cantiknya tanaman disini.

Tak sengaja Sora menyengol salah satu pot awalnya ia ingin membersihkannya tapi setelah mendengar suara kedua pria tersebut ia masuk lebih dalam ke rumah kaca tersebut dan bersembunyi disalah satu pot yang besar.

CLEEKK

Sora menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Apa itu kedua oranv yang tadi? Heol.. Selamatkan dirinya. Ia masih ingin hidup. Tolong jangan sekarang.

“SIAPA YANG MENJATUHKAN TANAMAN INI!!??!”

Sora terkejut disaat mendengar suara seorang pria berteriak marah. Ia mengintip dari sini seorang pria tampan sedikit berjongkok membersihkan tanamannya yang hancur. Tapi tiba-tiba tatapan mereka berdua bertemu membuat Sora kembali bersembunyi.

“Siapa kau?! Apa yang kau lakukan disini?!” Nada nya terdengar sekali kalau ia sangat marah.

Dengan memberanikan diri, Sira menunjukkan dirinya. “Enghh– itt–itu ah.. Maksudku..” Sora tak bisa bicara. Ia terlalu takut dengan pria yang ada dihadapannya ini.

Dihampirinya Sora. “Aku tak bermaksud apa-apa. Tad–”

“Ikut aku ke kantor polisi sekarang juga!” Sela nya seraya menarik pergelangan tangan Sora kencang. Matilah dirimu, Sora. Tak membantah atau apapun Sora hanya dia mengikuti pria ini menarik pergelangan tangannya.

Pria ini terlalu tampan dan akan sia-sia jadinya jika ia tidak menikmati pemandangan ini. Biarlah masalahnya di selesaikan dikantor polisi. Yang terpenting hari ini ia bertemu pria tampan. Benar-benar sial dan beruntung dirimu Sora.

TBC

Advertisements

Author: Sashka

Jongin's wife. Teleporters // Whirlwinds // Pyromaniac.

3 thoughts on “Fille #Our Meeting {Chapter 1} –by Sashka

  1. Ini seru banget critanyaaa~ Ditunggu next’nya ya chingu… Fighting!! ♡♡

  2. Kenapa harus kantor polisi… Padahal kan cuma mecahin pot aja… Terlalu kaku sih si yeol…

  3. Ditunggu next nya,,, seru seru chanyeolnya juga keren kali ya kalo sifatnya beneran dingin gitu,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s