Sashka Fanfic's

“Let’s live while doing things we like.” -Sehun

Fille #Lonely Man {Chapter 2} –by Sashka

3 Comments

fille

Tittle : Fille // Author : Sashka (@sashagani) // Genre : Romance, Sad // Cast : Park Chanyeol (EXO) , Choi Sora (OC) // Length : Chaptered // Rate : PG-17

Disclaimer : Cerita milik saya. Cast milik Tuhan yang maha esa, kecuali OC hasil pemikiran saja sendiri saya. No Plagiat!

Summary : Pertemuan kita bukanlah sebuah kesengajaan, tapi pertemuan kita adalah… TAKDIR.

A/N :Cerita ini terinspirasi dari sebuah novel. 


 

Sejak tadi tak henti-hentinya Sora menggerutu tak jelas. Ia kesal. Sangat kesal. Karena ia hanya menjatuhkan satu pot tanaman dan ia juga berjanji akan mengganti nya dijalan tadi. Tapi apa sekarang, ia malah dibawa ke kantor polisi.

Dan disinilah dia bersama dengan pria dingin bagaikan gunung es berjalan, walaupun pria tersebut tampan. “Aku tetap ingin kalian memenjarakan gadis ini.” Ujar nya dingin seraya melirik sekilas kearah Sora.

Sora akui ia memang salah karena masuk ke rumah orang tanpa permisi dan juga telah menghancurkan salah satu tanaman nya. Tapi mereka bisa kan menyelesaikan nya dengan kepala dingin. Tidak harus ke kantor polisi seperti ini juga. “Baik. Kami putuskan Nona Sora kami tahan selama satu malam.” Sora membulatkan matanya terkejut.

“Ta-ta..tapiii saya bbbe-berjanji akan mengganti rugi.” Sahut nya memelas.

“Jika salah, ya salah saja nona. Masih beruntung hanya satu malam, bagaimana jika bertahun-tahun.” Cibir pira dingin disampingnya ini seraya meliriknya sekilas. Sora memincingkan matanya kesal. Biarpun tampan tapi pria ini… Lupakan!

Tatapan matanya kembali beralih ke para petugas polisi di sektor sekitar. “Tapi ini hanya masalah sepele, pak. Kumohon jangan penjarakan saya.” Dikeluarkan nya puppy eyes handalan miliknya.

“Maaf nona Choi. Sesuai permintaan tuan Park, kami akan memenjarakan anda satu malam saja… Besok pagi anda pasti sudah keluar dari jeruji besi.” Ujar salah satu petugas polisi menyakinkan Sora bahwa ia hanya akan ditahan selama satu malam tak lebih.

Sedangkan Chanyeol, pria itu tengah tersenyum kemenangan karena gadis ya g kini duduk disamping nya tengah mengerutui diri nya dengan memukul kepalanya sendiri. Tanpa Chanyeol sadari, ia tertawa kecil meilihat tingkah gadis itu yang kelewat bodoh.

“Sekarang tuan Park boleh kembali. Dan nona Sora bisa ikut kami.” Chanyeol bangkit lalu membungkukan badan nya sembilan puluh derajat dan berlalu dari sana meninggalkan seorang gadis yang menatapnya penuh kekesalan.

“Dasar pria tampan sialan! Untung saja tampan, kalau tidak sudah ku pukul. Cih!” Cibir Sora menatap punggung besar Chanyeol yang kian menghilang dari pandangan nya.

_________

Chanyeol duduk di bangku penumpang dalam diam. Esok ia harus bertemu dengan Ayahnya. Ia harus menggagalkan proyek yang baru saja ditanda tangani oleh ayahnya. Apa ayahnya bodoh? Kenapa ia menanda tangani asal proyek tersebut.

Hari ini benar-benar hari yang sangat.. Ahh.. Menyebalkan. Dua orang wanita menganggu hidupnya. Yang pertama Jung Minhye, wanita yang menganggu nya terus menerus. Bermaksud untuk mengajaknya makan siang bersama lah atau mengajaknya membicarakan proyek mereka berdua. Itu adalah cara yang Chanyeol benci.

Kedua, wanita yang menghancurkam tanaman hiasnya. Bagaimana bida wanita itu masuk ke dalam rumahnya? Apa para penjaga bodoh sampai tak tau kalau ada penyusup masuk ke dalam rumah.

Ketika sampai rumah Chanyeol benar-benar akan membunuh para penjaga itu agar lebih ketat lagi penjagaan nya. “Tuan, kita sudah sampai.”

“Terima kasih, Ahjussi.” Ujarnya sebelum benar-benar keluar dari dalam mobil.

Semua para pelayan membungkuk hormat padanya. Sebelum itu ia berhenti dihadapan kepala pelayan. “Aku ingin kau mengumpulkan para penjaga di halaman belakang. 10 menit lagi mereka sudah harus ada disana semua.” Lalu ia pergi ke kamarnya begitu saja membuat para pelayan menghembuskan napasnya lega. Chanyeol benar-benar tidak tau apa yang ada dipikiran para pelayan nya.

Chanyeol masuk ke dalam kamar lalu menghempaskan tubuh nya diatas ranjang sembari menatap langit-langit kamar nya dalam diam. Tambah masalah baru hari ini. Pertama ia harus menyingkirkan wanita genit, Jung Minhye, lalu masalah tentang ayahnya.

Kenapa bisa Chanyeol memiliki ayah seperti itu, eoh? Tak pernah berpikir sebelum bertindak. Bodoh.

TOK TOKK

“Masuk.”

Kepala pelayan masuk ke dalam kamar Chanyeol lalu membungkuk hormat. “Tuan, para penjaga sudah berkumpul di halaman belakang.” Chanyeol bergumam dan menyuruh kepala pelayan untuk cepat-cepat pergi dari kamarnya.

.

“KALIAN SEMUA KUBAYAR UNTUK MENJAGA RUMAH! BUKAN BERSANTAI-SANTAI, BODOH!!” Bentak Chanyeol pada para penjaga yang kini berdiri tegap walaupun jantung mereka berdetak dengan cepat.

“Maafkan kami, Tuan. Tapi kami semua sudah berpatroli ke semua penjuru rumah dan tidak ada tanda-tanda penyusup masuk.” Ujar salah satu penjaga yang berada di barisan paling depan.

Chanyeol menatapnya dingin. “Tidak ada tanda-tanda?” Penjaga itu mengangguk membenarkan ucapan Chanyeol.

Di pukul wajah penjaga itu sampai terjatuh diatas tanah lalu kembali bangkit dan berdiri seperti semula. “Kau bodoh atau apa? Tentu saja tak ada tanda-tanda karena ia penyusup. Bukan penyusup namanya jika ada tanda-tanda kedatangannya!”

Chanyeol menatap satu per satu penjaga nya sengit. “Aku tak ingin kejadian ini terjadi lagi. Apalagi sampai ada yang masuk ke dalam rumah kaca ku dan menghancurkan tamanan hiasku! Dengarkan itu baik-baik atau aku pecat kalian semua!” Chanyeol berbalik dan masuk ke dalam rumah dengan emosi yang memuncak. Tak pernah bisa menahan emosi nya kalau soal rumah kaca dan tanaman hiasnya.

“Tuan Han!”

Ne?”

“Tolong siapkan aku mobil sekarang.”

Ne, akan saya siapkan sekarang.”

“Terima kasih.”

______________

Sora menatap para petugas polisi dari dalam sel penjara dengan wajah yang ditekuk kesal. “Ahjussi, apa aku tak bisa pulang sekarang? Ini sudah pukul 2 pagi.” Nada memelas dikeluarkan oleh Sora pada petugas polisi yang tak jauh dari sel penjara nya.

Petugas yang tak jauh dari sel penjara nya hanya memandangnya sekilas dan kembali berkutat dengan pekerjaan nya. “Tinggal 4 jam lagi masa tahananmu, nona.” Ujarnya acuh.

Sora mengacak rambutnya frustasi. “Percuma tampan kalau memperlakukan wanita seperti ini.” Cibir nya menyandarkan diri di dinding.

.

Luhan datang ke kantor polisi secepat mungkin saat ia mendapat panggilan dari Sora kalau ia ditahan. Luhan datang untuk membebaskan Sora karena kebetulan keluarga Luhan disegani dikalangan para polisi. “Maaf saya tidak tahu kalau nona Choi ini termasuk keluarga besar anda, Tuan.”

Dengan sombong nya, Luhan mengangkat dagu nya tinggi seolah-olah menantang polisi yang umurnya lebih tua darinya. “Hmm.. Saya maafkan. Kalau begitu kami pergi sekarang.” Luhan menarik tangan Sora berniat untuk meninggalkan kantor polisi. “Tunggu.. Bisa kau katakan kepada orang yang berani menahan adikku ini untuk tidak macam-macam atau berurusan dengan kami lain kali? Terima kasih.”

Kali ini Luhan dan Sora benar-benar meninggalkan kantor polisi dengan Sora yang memandang Luhan tajam.

“Yak! Bagaimana bisa kau masuk kantor polisi, eoh?” Tanya Luhan memandang wajah Sora. Sora hanya mengangkat bahu nya tidak tahu. “Aku sendiri pun tidak tahu kenapa aku bisa ditahan di kantor polisi.”

Luhan berdecak kesal. “Tidak mungkim kau tidak tahu, Sora. Ayo katakan siapa orang itu biar ku hajar dia.”

“Ini bukan masalah serius. Percayalah. Ini hanya salah paham saja.”

“Baiklah.” Luhan menghela napasnya berat. “Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang sekarang.” Lanjutnya seraya mengenggam tangan Sora menuju motor diparkirkan.

Sora sekarang bisa bernapas lega karena ia sudah keluar dari tempat itu. Beruntung ia mempunyai sahabat seperti Luhan, bagaimana jika tidak Luhan ia pasti baru pulang pukul 6 pagi.

Tapi satu hal yang sejak tadi membuat pikiran Sora tertuju pada hal itu saja. Siapa sebenarnya pria tampan itu? Seharusnya sebelum pria itu pergi, Sora berkenalan lalu menanyai siapa nama pria tersebut sehingga ia tidak sepenasaran seperti ini. Ahh.. Bodoh sekali dirinya ini.

Luhan memandang Sora aneh. Kenapa wanita itu berbicara sendiri? Mungkin, akibat masuk penjara jadi seperti ini. Ya, Luhan harus memaklumi teman nya ini yang baru saja keluar dari penjara. “Berhenti berbicara sendiri dan pakai helm mu ini!” Sora berdecak sebal dan mengambil helm dari tangan Luhan lalu memakainya ke kepala.

Dengan kecepatan yang penuh. Mereka berdua pergi meninggalkan pekarangan kantor polisi. “Jangan mengebut, Luhan!!”

Bukan nya mengurangi kecepatan nya, Luhan malah menambah kecepatan. Membuat Sora berteriak kencang. “LUHAN!!!!”
____________

Chanyeol memberhentikan mobilnya di dekat sungai Han lalu memejamkam matanya lelah. Awalnya, Chanyeol ini pergi ke club malam tapi semua nya gagal ketika ia bertemu dengan wanita hama, Jung Minhye. Wanita itu malah menggoda nya secara terang-terangan. Menjijikkan.

Sekarang lihat. Wanita itu mengikutinya sampai kemari. Apa sebegitu tergila nya wanita itu pada dirinya? Yaampun murahan sekali wanita itu.

Drrt Drtt

Chanyeol melirik kearah ponselnya di bangku sebelah dengan malas.

Park Jaehyun Calling…

“Jaehyun?” Gumam nya heran lalu mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan tersebut. “Ada apa kau menelponku?” Tak ada ucapan formal diawal pembicaraan nya dengan sang penelpon.

“………………”

“Maksudmu?”

“…..………………..”

“Arraseo..”

Bip.

Chanyeol melempar ponselnya ke dashboard asal. Adiknya, Park Jaehyun menghubungi nya setelah dua tahun tak pernah menghubungi nya lagi. Datang hanya jika ada butuh nya saja. Apa pantas disebut dengan adik atau keluarga? Chanyeol rasa dia tak pantas disebut adik atau pun keluarga.

“Sialan!” Umpatnya kesal lalu memukul kemudi stir emosi. Rasanya Chanyeol ingin meluapkan semua yang ada di dalam hati ini. Tapi ia tidak bisa. Dan ini membuat nya benar-benar merasa gila. Ayolah, siapa pun tolong dia.

Di ambil lagi ponselnya lalu dipandang nya wallpaper ponselnya sendu. Wajah ibunya terpanpang jelas disana. Foto dimana ia dan ibunya sehabis mengurusi tanaman kesayangan ibunya.

FLASHBACK

Chanyeol kecil berjalan dengan pot digenggaman nya kearah sang ibu yang kini berjongkok seraya memotong tanaman nya yang layu. “Eomma, tanaman ini layu. Harus kah Chan membuangnya?” Tanya nya dengan wajah yang polos.

Sang ibu tersenyum hanya. “Tidak perlu kau buang, Chan. Cukup kau siram dengan teratur dan rawat dengan benar, ia pasti kembali tumbuh dengan baik.” Chanyeol kecil mengangguk-nganggukan kepala nua mengerti.

“Eomma.. Apa Eomma baik-baik saja?” Tanya Chanyeol kecil khawatir melihat ibunya memegang kepalanya. Terlihat jelas kalau ibunya ini menahan rasa sakit. Dengan senyum yang dipaksakan, sang ibu tersenyum kearah Chanyeol dan mengenggam tangan Chanyeol kecil erat.

“Chan sudah besar ya sekarang. Eomma baik-baik saja, Chan.” Chanyeol kecil tersenyum manis. “Mau berjanji sesuatu dengan Eomma?” Chanyeol kecil menganggukkan kepalanya yakin.

“Ketika Chan sudah dewasa nanti, Chan harus menjadi pria yang baik. Tak boleh jahat dengan seorang wanita, harus menjunjung tinggi seorang wanita. Chan harus menjaga Jae jika Eomma tak ada lagi dan juga Appa. Chan harus menjaga Jae dan juga Ap—“

“Chan tak mau menjaga Appa. Appa tak pernah ada untuk kita. Appa selalu sibuk dengan pekerjaan nya.”

“Chan tidak boleh seperti itu. Appa sibuk juga untuk mencari uang lalu uang nya untuk biaya hidup Chan dan juga membelikan Chan mainan.” Chanyeol kecil menganggukan kepala nya paham.

Sang ibu melepas sapu tangan nya lalu mengelus rambut Chanyeol lembut. “Dan juga, Chan mau kan menjaga tanaman Eomma?” Chanyeol kecil kembali mengangguk. “Rawat tanaman Eomma sampai Chan dapat seorang wanita yang setia dengan Chan. Setelah bertemu dengan wanita itu, Chan boleh berhenti merawat tanaman Eomma. Chan mengerti, kan?”

“Ne, Eomma.”

FLASHBACK END

“Hah…”

Dinyalakan mobil lalu melajukan nya tak tahu kemana. Yang terpenting, malam ini Chanyeol tak berada di rumah nya. Mungkin, ia akan memilih pergi ke perusahaan dan tidur diruangan khusus nya. Ya, itu lebih baik.

_______________

Sora benar-benar ingin mati rasanya jika seperti ini terus. Pulang kuliah ia harus bekerja paruh waktu untuk ke kehidupan nya dan juga hutang Ayahnya. Ini sangat menyiksa nya.

Ia mendongakkan wajah nya sangat mendengar suara yang sangat tak asing baginya. “Berikan aku bubble tea. Cepat aku haus!” Pesan seorang pria yang lebih bisa dikatakan memerintah Sora untuk cepat membawa pesanan nya. “Apa yang kau lihat, Sora? Aku cepat aku haus.. Kau tenang saja aku akan membayar nya.” Sora ingat ia harus membawa pesanan pelanggan nya. Tapi, siapa pria itu?

Sesekali Sora melirik pria tersebut curiga. Jangan-jangan pria itu memata-matai nya selama ini. Atau jangan-jangan ia ingin berbuat jahat. Lagi pula dari mana pria itu tahu nama nya?

Sora menyerahkan bubble tea yang di pesan pria tersebut. “Ini uang dan tips untukmu. Terima kasih, nona.” Ujar pria tersebut dan pergi begitu saja. Sora memandang pria tersebut curiga. “Siapa dia?” Gumam nya.

“Siapa?”

“Yak!” Sora memukul punggung Luhan kesal. Selalu saja mengejutkan dirinya. “Untuk apa kau disini?” Tanya nya kesal.

“Tentu saja bertemu denganmu, nona cantik.” Jawab Luhan mengedipkan mata nya nakal kearah Sora dan mencubit pipi Sora gemas. “Jadi… Kapan kerja paruh waktu mu selesai?” Sora melirik kearah jam dinding lalu kembali menatap Luhan. “Tepat 10 menit lagi, kenapa?”

Luhan menjentikkan jari nya senang. “Kalau begitu, selesai paruh waktu kau ikut denganku, ya?”

“Kemana?”

“Ke mall. Kita mencari baju pesta. Lusa ada acara teman bisnis Baba, tapi Baba dan Mama sedang di Jepang. Jadi aku dan kau yang pergi menggantikan mereka?”

“Kita?” Luhan menganggukkan kepala mengiyakan pertanyaan Sora. “Apa kau lupa kejadian beberapa bulan yang lalu? Kita membuat acara teman bisnis Baba mu hancur. Lalu sekarang kita akan membuat hancur pesta teman bisnis Baba mu lagi?” Luhan mengedikkan bahu nya acuh.

“Ayolah.. Kubelikan kau album EXO, bagaimana?”

“Kau pikir aku wanita bayaran? Tidak!” Luhan menampilkan wajah murung nya tepat di hadapan Sora, tapi tak membuat Sora menerima ajakkan Luhan. “Kalau begitu aku akan bilang ke Baba kalau Sora tak mau menemani anak nya yang manis ini.” Luhan berkata dengan nada manja lalu mejulurkan lidah nya ke Sora.

“Arraseo! Aku ikut aku ikut!”

CUP

“Yey kau memang yang terbaik, Sora sayangku!! Aku menyanyangimu. Sangat! Kalau begitu ku tunggu kau dimotor.”

.

Sora dan Luhan berhenti di depan butik yang menjual gaun indah didalam nya. Sora yang mengekor di belakang tubuh Luhan pun berhenti ketika tiba-tiba Luhan berbelok masuk ke dalam butik. Dengan pasrah Sora mengikuti Luhan masuk ke dalam butik. “Ada perlu saya bantu, Tuan?” Ujar salah satu pelayan butik saat Luhan masuk dan melihat gaun yang terpajang disana.

Seolah sadar kalau ia kemari untuk membeli gaun lantas ia menoleh kearah pelayan tersebut. “Hmm.. Aku ingin kau mencari gaun yang bagus dan pas untuk gadis yang ini.” Unjuk nya pada Sora. Pelayan tersebut mengangguk dan segera pergi mencari gaun yang bagus dan pas untuk Sora.

Sora menghampiri Luhan yang kini melihat-lihat gaun yang berada di sekitarnya. “Ya! Kenapa kau membeli gaun disini?! Kau tahu kan disini terkenal gaun nya yang mahal?”

Luhan mengangguk. “Tentu aku tahu, cantik. Aku tahu kalau ini butik mahal.” Ujarnya acuh dan kembali melihat-lihat gaun.

“Aku tak punya uang yang banyak, Luhan!” Geramnya menatap Luhan marah.

“Kau tenang saja, cantik. Kita akan memakai kartu kredit Baba. Jadi.. Kau tidak perlu khawatir.”

Setidaknya Sora bisa bernapas lega kalau mereka memakai kartu kredit pemberian dari Baba nya Luhan. Tunggu.. Bukannya Baba nya sedang menghukumnya tak boleh menggunakan kartu kredit mana pun? Dia benar-benar pria nakal.

Dipukul kepala Luhan dengan keras. “Kau berbohong padaku!” Teriak Sora marah.

Luhan meringis kesakita seraya memandang Sora bingung. “Apa? Bohong apa?” Tanya Luhan tak mengerti.

“Kau mencuri kartu kredit Baba mu! Baba tidak memberimu kartu kredit itu, kan?”

Luhan mencubit kedua pipi Sora gemas. “Gadis cantik.. Kau memang pintar. Aku memang mencuri kartu kredit Baba.” Sora menatap Luhan marah. “Tapi.. Kalau aku bilang ke Baba kartu kreditnya ku pergunakan untuk Sora tersayang pasti tak apa. Lagipula sekaligus aku ingin membeli CD palystation yang baru.” Lanjutnya memelas.

“Kau memakai namaku untuk menjadikan nya sebuah alasan? Dasar pria genit!” Diinjaknya kaki Luhan kesal. “Kuadukan kau pada Baba mu, kalau kau pernah ke club malam.” Sora menjulurkan lidah nya dan melangkah keluar meninggalkan Luhan yang meringis kesakitan.

“Kumohon sayang jangan adukan aku pada Baba.. Kau tau apa yang akan dilakukan Baba padaku jika tau aku pergi ke tempat itu. Sora!” Sora hanya tersenyum jahil saat mendengar teriak Luhan dari dalam butik. Mati kau, Luhan. Batin Sora.

.

Luhan dan Sora sudah siap dengan pakaian formal mereka masing-masing. Sora memakai dress berwarna hitam yang panjang nya sampai menutupi kaki cantik nya. Luhan, ia memakai jas hitam dengan dasi hitam juga. Terlihat imut dan tampan dalam waktu yang sama.

Mereka berdua terlihat serius sekali memasangkan dasi di leher Luhan. “Kenapa aku lupa cara memasang dasi?” Gumam Sora yang kembali membuka ikatan dasi Luhan dan memulainya dari awal. “Cantik, sebenarnya kau bisa memasang dasi atau tidak, eoh?” Tanya Luhan mencubit hidung Sora gemas.

Ditarik dasi tersebut kesal oleh Sora. “Kau pasang sendiri saja! Aku kesal!” Umpatnya lalu berdiri di depan cermin dan memulai memakai anting ditelinga kanan nya. Luhan mengerucutkan bibir nya dan memasang dasi nya sendiri. “Bagaimana jika kau punya suami nanti sayang? Suami pasti akan mati tercekik dasi karena istri tercinta nya tak bisa memakai dasi.” Sindir nya melirik Sora sekilas. “Oh aku lupa. Aku akan jadi suamimu kelak. Berarti aku akan mati karena tercekik dasi. Omo! Aku tidak mau itu terjadi!”

“YAK! BERHENTI ATAU KU GIGIT KAU!”

“Gigit saja kalau bisa.” Tantang Luhan meremehkan Sora. Sora yang mendengar itu pun kesal lalu menarik tangan Luhan dan menggigit nya sekuat tenaga. “AAAAAAWWW!”

“RASAKAN ITU!!”

.

Luhan merangkul pinggang Sora erat tangan kanan nya mengenggam tangan kiri Sora erat. Kini mereka berdua sedang berada di lantai dansa. Mereka tidak tahu apapun ketika datang kemari. Tiba-tiba seseorang menarik tangan Sora dan Luhan untuk bergabung ke lantai dansa bersama-sama.

Sora mendekatkan wajah nya ke telinga Luhan. “Aku tak mau berdansa. Bisa kita keluar dari lantai dansa ini?” Bisik Sora memelas.

Luhan menggeleng. “Aku juga ingin keluar dari lantai dansa ini. Tapi kita tidak bisa.” Bisik Luhan. “Bagaimana kalau kita ke pinggir lalu keluar? Secara perlahan-lahan?” Sora mengangguk kan kepala nya sejutu.

Mereka berdua berdansa yang lama ke lamaan berdansa ke pinggir. Sudah dipinggir mereka berdua dengan senang keluar tanpa melihat ke depan mereka sehingga Sora menabrak seseorang yang mengakibatkan minuman orang tersebut tumpah. Sora berkali-kali membungkuk minta maaf. “Maaf. Maaf, saya tidak sengaja.” Ucap nya berkali-kali.

Orang yang di tabraknya hanya berdecak lalu pergi begitu saja. Sebelum nya Sora belum sempat membelalakkan mata nya pria tersebut sudah pergi. “Pria itu..” Gumam nya menatap punggung pria tersebut.

Luhan memandang tubuh Sora dari atas sampai bawah. “Kau baik-baik saja kan?” Sora mengangguk walaupun mata nya tetap pada punggung pria tersebut. “Ya! Kau kenapa?” Tanya Luhan khawatir.

“Pria itu.. Pria tampan, Lu. Aku bertemu pria tampan untuk yang kedua kali.”

Luhan memandang Sora aneh lalu tersenyum nakal. “Maksudmu aku? Yampun Sora setiap hari juga kita bertemu.”

Sora mengibaskan tangan nya berkali-kali. “Bukan. Aku menyukai pria tamp–” Luhan menahan tawa nya sebisa mungkin. “Jadi.. Soraku sedang jatuh cinta? HA HA HA..”

“Apa yang kau tertawakan?”

“Kau adalah gadis yang sulit jatuh cinta. Hanya ketemu dua kali dan kau langsung jatuh cinta itu adalah hal yang menarik. Adik cantikku sudah besar.” Luhan memasang wajah sedihnya. “Pasti kita tak memiliki waktu banyak lagi. Kau akan lebih sering dengan pria itu. Aku pasti akan merindukan ke gilaan kita.” Luhan mencubit hidung Sora lalu kedua pipi Sora.

______________

Chanyeol mendobrak pintu ruangan khusus petinggi perusahaan Park Corp dengan keras. Menatap tajam pada pria paruh baya yang duduk di kursi kebesaran nya yang memandang wajah nya meremahkan.

Chanyeol berjalan mendekati meja tersebut. “KAU BODOH ATAU APA, HAH?!” Tanya nya to-the-point. Pria paruh baya tersebut hanya memandang datar kearah nya.

Pria paruh baya itu bangkit lalu bertepuk tangan bangga. “Suatu penghargaan CEO Lights Company bisa datang kemari. Ada yang bisa saya bantu?”

Chanyeol jenggah dengan pria dihadapan nya ini. “Apa kau tak berpikir dulu sebelum menanda tangani proyek itu? Apa kau bodoh?”

Pria paruh baya itu mendengus kesal. “Kau datang hanya untuk itu? Cih! Ini proyekku! Bukan proyekmu! Jadi.. Jangan ikut campur!”

Benar, seharusnya Chanyeol tak ikut campur karena memang ini bukan proyeknya. Tapi tetap saja, proyek ini tak boleh berjalan. Proyek ini salah. Semua nya salah. Terutama pria paruh baya yang ada dihadapan nya.

“Kau tahu?” Chanyeol menghela nafasnya lelah. “Kau.. Melakukan proyek saja gagal, tak becus, bodoh. Pantas saja keluargamu membencimu. Kau pantas mendapatkan kebencian itu! Karena apa? Karena kau sumbar masalahnya! Kau tak becus! Kau bodoh! Yang kau pikiran hanya uang, uang, dan perusahaan. Tak ada keluarga diotakmu! Kau sungguh menjijikkan!”

“PARK CHANYEOL! JAGA BICARAMU PADA APPAMU!”

Chanyeol memandang pria paruh baya dihadapannya ini meremehkan. “Appa? Apa kau pantas mendapatkan panggilan itu sedangkan kau sendiri tak pernah ada untuk keluarga mu! Kau penyebab Eomma meninggal! Kau penyebab Jaehyun menjadi seorang mafia! KAU PENYEBAB SEMUA MASALAH!”

Geram karena perkataan Chanyeol, pria paruh baya ini lantas menampar wajah Chanyeol penuh kekesalan. “APA APPA TAK PERNAH MENGAJAR KAN MU SOPAN SANTUN?!”

“TIDAK! KARENA MEMANG KAU TAK PERNAH ADA UNTUKKU, EOMMA, DAN JAEHYUN.”

“Karena keegoisanmu, Eomma sakit! Eomma pergi meninggalkan aku dan Jaehyun. Orang yang selalu ada untukku dan Jaehyun pergi. Kami membutuhkan sandaran saat itu. Tapi.. dimana kau saat itu, eoh? Kau bahkan tak peduli dengan Eomma begitu juga dengan kami. Hari pemakaman Eomma dan hari dimana ia meninggal, kau tak datang. Kau tak ada!” Chanyeol menatap pria paruh baya itu sendu. “Apa kau tau sebelum Eomma meninggal, aku melihat dengan kepala mataku sendiri kalau Eomma memohon denganmu untuk jangan pergi. Eomma meminta kita semua, sekeluarga untuk pergi bersama untuk yang terakhir kalinya, tapi kau seolah tak mendengarnya dan pergi begitu saja.”

Park Minjoon menatap anak sulung nya datar. Walaupun ia tak pernah ada untuk anak pertama nya ini, ia tahu betul bagaimana perasaan anak pertama nya. Sungguh, ia menyesal telah merubah anaknya sendiri menjadi orang asing. Anaknya berubah. Dan itu karena ulah nya sendiri.

.

Chanyeol memasang dasi berwarna biru dongker dikerah kemeja nya. Menambah kesan tampan pada dirinya. Setelah itu ia memakai jas hitam nya dan bersiap-siap untuk pergin ke acara kolega bisnis nyaa.

Sebenarnya Chanyeol tak mau daang kemari dan sudah jelas alasan nya apa. Jung Minhye, wanita itu pasti juga ada disana. Pasti sangat membosankan disana. Haruskah Chanyeol datang? Tapi kalau Chanyeol tak datang ia tak enak dengan kolega bisnis nya itu. Mau tak mau ia harus datang.

Diparkirkan mobil dengan hati-hati. Tak terasa ia sudah sampai di salah satu hotel bintang lima dikawasan Seoul. Chanyeol memijit pelipisnya disaat Jung Minhye menangkap dirinya di dalam mobil lalu melambaikan tangan nya dan menghampiri mobilnya. Ini menyeballkan.

Dengan sangat terpaksa, Chanyeol membuka kaca mobil nya. “Selamat malam, Tuan Park. Saya kira anda takkan datang ke acara ini.” Ujarnya dengan nada yang dibuat manja. Menjijikkan. Batin Chanyeol.

“Selamat malam, Nona Jung.” Balas Chanyeol membuka pintu mobilnya. “Mau masuk bersama, Tuan Park?” Tawar Minhye. Dalam hati wanita itu sangat senang dengan karena Chanyeol mau membalas ucapan nya, biasanya pria ini hanya acuh saja pada nya.

Secara tidak langsung, Chanyeol menolak. “Saya ingin menelpon seseorang dahulu. Kalau mau Nona Jung bisa masuk terlebih dahulu.”

Dengan perasaan sedih, Minhye pamit untuk masuk terlebih dahulu. Sepeninggal nya Minhye, Chanyeol mengeluarkan ponsel nya dari dalam saku celana lalu menatap layar ponsel nya sendu. “Tak mungkin dia kan, Eomma?”

.

Chanyeol berniat untuk pergi ke toilet setelah bertemu dengan beberapa kolega bisnisnya sebelum seorang wanita menabrak tubuh nya dan menyebabkan minuman nya tumpah ke jas.

Wanita itu berkali-kali membungkuk minta maaf karena menumpahkan minuman Chanyeol. Awalnya Chanyeol ingin marah tapi setelah melihat siluet tubuh wanita ini, ia terdiam. Bukankah wanita ini yang beberapa waktu lalu ia masukkan ke dalam penjara.

Tapi ia seolah tak peduli, ia pergi tak memikirkan apapun lagi. Karena yang ingin ia lakukan sekarang pergi ke kamar mandi, bertemu kolega bisnis nya lagi lalu pergi dari sini. Entah itu kemana, yang terpenting ia pergi dari sini dahulu.

“Sialan!” Umpatnya kesal saat terpaksa harus membuka jas nya di toilet. Jas nya kotor dan ia akan terlihat jelek dengan jas kotor ini sehingga ia memilih untuk melampirkannya dipundak. Sekarang ia harus kembali ke keluar, bertemu kolega bisnis nya dan pergi.

Saat keluar dari toilet, semua tatapan para wanita mengarah pada diri nya. Chanyeol benci ini. Ia benci disaat semua tatapan mengarah padanya. Apalagi tatapan kagum dari wanita. Tidak tahu penyebabnya apa, yang pasti tatapan itu mengingatkan pada sosok ibunya.

Ibunya yang selalu menatapnya dengan penuh kekaguman. Disaat ia melalukan sesuatu untuk ibunya, ibunya akan menatapnya kagum.

“Hey!”

Chanyeol menoleh ke belakang saat seseorang menepuk pundak nya yang ternyata adalah sahabatnya, Kim Jongin. “Kau datang, Hyung?” Chanyeol hanya menganggukkan kepala nya saja. “Kenapa?” Chanyeol menaiki satu alisnya heran. “Ah.. Maksudku kenapa tumben sekali kau mau datang.”

Chanyeol mengedikkan bahu nya tidak tahu. “Aku hanya ingin.”

“Kalau begitu aku pamit pulang, Hyung. Tak apa kan kalau kau ku tinggal, Hyung?” Tanya Jongin memastikan kalau Chanyeol takkan mati kebosanan disini. Chanyeol mengangguk. “Baiklah. Aku pergi.”

Tinggal lah Chanyeol sendiri disini. Tak ada yang seumuran dengan nya disni, kecuali tadi Kim Jongin walaupun ia lebih muda dua tahun dari nya. Ia melirik ke arah arloji nya. Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Chanyeol akan pulang sekarang juga.

Ia berjalan menuju ke parkiran seorang diri. Kenapa diluar sangatlah sepi seperti tak ada kehidupan? Apalagi sekarang Chanyeol merasakan hawa aneh. Seperti ada seseorang yang mengikuti nya. Sesekali juga ia menengok ke belakang untuk melihat siapa orang tersebut. Tapi nihil.

“Apa yang terjadi dengan diriku?” Gumamnya pada saat di dalam mobil. Karena tak mau lebih lama disana, Chanyeol melajukan mobilnya menuju salah satu club malam langganan nya dan para sahabatnya.

Semoga pikirannya menjadi lebih tenang setelah meminum sedikit.

________________

“Luhan, aku ingin mengikuti pria tampan itu. Aku ingin mengenalnya lebih dekat.” Luhan mengernyitkan dahi nya heran. “Jadi kau belum tahu siapa dia?” Sora menggelengkan kelapanya. Luhan mengusap wajah nya frustasi.

“Kukira kau sudah tahu siapa identitasnya. Kalau begitu dekati dia agar kau tahu dia orang baik atau jahat. Kalau baik, lanjutkan rencanamu itu. Tapi kalau jahat, jangan harap kau bisa berdekatan dengannya cantik.” Sora mengacungkan jempolnya bangga.

“Siap, kapten! Aku sayang padamu, Luhan.”

CUP

“Kalau begitu aku harus kejar dia sekarang. Bye, Luhan. Aku pergi lebih dahulu.” Luhan melambaikan tangan nya pada Sora. “Hati-hati ini sudah malam, cantik.”

“Ne!” Dengan dress hitam panjangnya Sora sedikit berlari ke lobby mengejar pria tampan nya. Ia mengedarkan pandangan nya ke seluruh penjuru lobby. Ia menangkap siluet pria tampan entah siapa nama nya itu. “Kau tak bisa pergi dariku, tampan!”

Sora mengikuti langkah pria tampan nya, Chanyeol, dari jarak yang cukup jauh. Ini pertama kali nya Sora mengikuti seseorang secara diam-diam. “Ini benar-benar gila kau tahu?”. Sesekali Chanyeol menoleh ke belakang. Apa ia ketahuan mengikutinya?

Sora memberhentikan salah satu taksi dan menyuruhnya mengikuti mobil Chanyeol. Sora tak habis pikir kenapa ia sampai mengikuti pria itu. Bahkan sekarang mobil itu berhenti di depan club malam. “Nona, apa anda akan berhenti disini?”

Haruskah Sora turun dan mengikuti pria itu sekarang? Yaampun, kenapa sekarang ia menjadi bimbang seperti. Bukan kah ia ingin mengenal lebih dekat dengan pria tersebut?

“Ne, saya berhenti disini. Terima kasih, Ahjussi.”

Sora memberikan beberapa lembar won lalu keluar dari dalam taksi. Ia sempat memandang club malam tersebut ragu. “Masuk? Atau tidak?” Sora menatap ragu pintu club malam tersebut. Apalagi beberapa orang yang masuk ke dalam club. “Masuk!”

Dengan yakin ia masuk ke dalam club malam seraya mengedarkan pandangan nya. “Dimana pria itu?” Gumam nya melirik kearah kanan dan kiri mencari keberadaan Chanyeol.

Sora berhenti mengedarkan pandangan nya disaat ia menangkap siluet tubuh Chanyeol yang duduk di bar dengan segelas wine ditangan. Secara diam-diam Sora mendekati tempat duduk Chanyeol.

Ternyata seperti ini yang namanya club malam. Pantas saja Luhan senang kemari. Katanya disini banyak wanita cantik dan juga minuman enak. Dasar pria genit. Sora malah terkekeh sendiri disaat ia mengingat Baba Luhan memarahi nya karena memandang dada seorang pelayan wanita baru ketika mereka semua sedang menikmati makan malam.

Sora duduk di ketiga bangku ke kanan dari bangku Chanyeol. Tak ada orang duduk di samping Chanyeol mau pun dirinya sehingga ia bisa memandang Chanyeol dengan leluasa. Ia menompang dagu nya dan mata nya tak se senti pun mau lepas memandang Chanyeol. “Tolong, wine lagi!” Racau Chanyeol mengangkat gelas nya.

“Dia sudah mabuk?” Gumam Sora bangkit lalu duduk disebelah Chanyeol. Ketika Chanyeol ingin menenguk wine nya, Sora memberhentikan nya. “Berhentilah. Kau sudah mabuk.” Larang Sora menatap khawatir pada Chanyeol. Chanyeol tersenyum sinis kearah Sora. “Kau peduli padaku, nona?”

Sora menganggukkan kepala nya. “Terima kasih sudah peduli padaku.” Lirih Chanyeol menundukkan kepala nya sendu. Chanyeol kembali mengangkat wajah nya lalu memandang wajah Sora dan tersenyum yang sangat mempesona bagi Sora. Dia mabuk Sora, dia sedang mabuk. Batin nya.

Chanyeol menatap wajah Sora sendu. “Eomma..” Lirih nya tetap menatap wajah Sora.

“Ne?”

“Eomma, Chan merindukan Eomma.” Ujar Chanyeol lalu merengkuh tubuh Sora ke dalam pelukan hangat nya. “Tuan, anda mabuk. Kumohon jangan peluk aku!” Ucapan Sora sama sekali tak di dengar oleh Chanyeol. Malah sekarang Sora mendengar suara tangisan dari Chanyeol. “Tuan, anda kenapa?”

Chanyeol tak menjawab dan malah menyandarkan kepala nya dia antara ceruk leher Sora. “Eomma, kenapa baru kembali sekarang?”

Dia benar-benar mabuk. Batin Sora.

“Maafkan Eomma baru bisa datang sekarang.” Oke sekarang Sora mulai berbohong dan memulai peran baru nya. Lumayan ia bisa lebih dekat dengan pria ini. “Eomma, aku benar-benar merindukanmu. Sangat.” Chanyeol merangkul pinggul Sora erat. Sora hanya diam. Memang kemana ibunya sampai ia menangis seperti ini.

“Eomma.. Jaehyun menelponku beberapa waktu yang lalu. Ia bilang, ia akan pulang dari China dan memintaku untuk menemani nya pergi ke pemakaman. Hah.. Jaehyun, dia sekarang sudah besar Eomma. Dia menjadi pria yang nakal. Apa yang harus aku lakukan?”

“Eomma. Kembalilah.. Aku membutuhkanmu untuk menjadi sandaranku. Aku tak bisa menemukan orang lain seperti yang Eomma katakan. Aku tak bisa menemukan pengganti Eomma.” Dielus rambut Chanyeol oleh Sora. Sekarang ia mengerti. Ia tahu kemana ibunya pergi. Jika seperti ini ia ingin menangis juga. Ia teringat ibunya dan juga keluarga nya.

“Eomma, apa eomma akan pergi lagi?” Chanyeol kembali duduk tegak sembari menatap wajah Sora sendu. Mata nya berair merah. “Eomma aku janji aku akan menemukan pengganti Eomma dan Eomma boleh datang dan pergi sesuka hati. Tapi saat hari itu tiba. Eomma harus datang. Eomma harus melihat hari besarku. Eomma janji?” Chanyeol mengangkat jari kelingking nya ke hadapan Sora.

“Janji?”

“Janji.”

Chanyeol kembali merengkuh tubuh Sora ke dalam pelukkan nya. “Jangan memelukku! Jangan! Yaaaa!” Chanyeol tak memindahkan tangannya se senti pun di pinggul Sora. “Yaa!” Chanyeol diam.

“Kau tidur, Tuan? Baiklah. Kau boleh tidur sesuka hatimu dan aku dengan suka rela akan mengantarmu pulang nanti.”

Sora tersenyum sembari memandang wajah Chanyeol yang terlelap. Akan kah ia bisa mendapat kan hati pria ini? Bisakah ia masuk ke dalam kehidupan pria ini? Bolehkah ia mengganti kan sosok Eomma nya? Boleh kah?

.
.
.
.
.

-TBC-

Maaf karena lama yaa posting nya. Ada sedikit masalah beberapa hari yang lalu.

Makasih juga atas respon kalian sama ff baruku ini. Tapi aku juga sedih soalnya yang baca banyak tapi kok yang commnet segini aja? Siders nya terlalu banyak banget loh.. Aku ga boong. Heol! Kalian kenapa?-..-

Buat chapter aku gatau bisa di posting kapan. Paling lama sebulan aja yaa. Jadi palingan kalo ga seminggu dari sekarang yaa palingan 2-3 mingguan. Tapi paling lama itu 4 minggu. Jadi ditunggu aja yaa.

Buat disiders… Kalo kalian masih gamau comment atau like. Aku bakalan protect buat di next chapter sampe end. Aku pastiin susah banget buat dapetinnya.

Advertisements

Author: Sashka

Jongin's wife. Teleporters // Whirlwinds // Pyromaniac.

3 thoughts on “Fille #Lonely Man {Chapter 2} –by Sashka

  1. Kenapa sora agresif banget sih… Ngak takut di maki ama chanyeol ya… Bang chan kan galak…

  2. Si Sora love at first sight nih critanya… Kekekek~ 😀 Semoga Sora bisa cepet naklukin hati Chanyeol.. Haha~ Ditunggu next chapternya chingu. Fighting!! ♡♡

  3. greget, chan tampan wkwk
    next ^^
    fighting!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s