Sashka Fanfic's

“Let’s live while doing things we like.” -Sehun

Fille #Fate? {Chapter 3} –by Sashka

3 Comments

fille

Tittle : Fille // Author : Sashka (@sashagani) // Genre : Romance, Sad // Cast : Park Chanyeol (EXO) , Choi Sora (OC) // Length : Chaptered // Rate : PG-17

Disclaimer : Cerita milik saya. Cast milik Tuhan yang maha esa, kecuali OC hasil pemikiran saja sendiri saya. Maaf jika ada kesalahan kata disini. No Plagiat!

Summary : Pertemuan kita bukanlah sebuah kesengajaan, tapi pertemuan kita adalah… TAKDIR.

A/N :Cerita ini terinspirasi dari sebuah novel. 


 

 

Sora membompong tubuh Chanyeol yang lebih besar dari tubuh nya ini ke halte bus. Masuk lalu menempelkan kartu bus nya untuk dua orang dan mencari temat duduk terdekat.

Nafas nya tersengal-sengal. “Demi kau, tampan. Aku rela membompong tubuh besarmu ini sampai ke rumah mu nanti dengan selamat.” Tatapan Sora berhenti pada bibir Chanyeol lalu kembali ke mata Chanyeol yang tertutup rapat. “Aku bisa gila kalau begini.”

“Tuan, ternyata kau sangat memperhatinkan, yaa. Sama seperti ku.”

.

“Tuan, kau berat sekali.” Gerutu Sora berusaha membompong tubuh Chanyeol berjalan. Sudah berat, bau alkohol lagi. Sudah tahu Sora benci dengan bau alkohol tapi ia malah harus mencium bau ini lebih lama lagi karena Tuan tampan ini berat sekali. Walaupun rumah nya sudah didepan mata, tapi tetap terasa jauh.

Benar, Sora sudah tak kuat lagi dan tak punya tenaga lagi untuk membawa Tuan tampan ini sampai ke rumah nya. Dengan terpaksa Sora mendudukkan tubuh Chanyeol di bawah pohon dan ia pun ikut duduk disamping Chanyeol seraya mengatur nafas nya. “Tuan.. Aku istirahat sebentar ya.. Aku lelah membawa tubuhmu yang berat ini?” Sora tersenyum kearah Chanyeol saat pria itu menjatuhkan kepala nya di pundak Sora. “Haruskah ku telepon Luhan untuk membantuku membawa tubuhmu ini?”

“Tidak perlu. Tinggal beberapa langkah lagi aku sampai.” Ujar Sora menyemangati dirinya dan berusaha membompong tubuh Chanyeol lagi.

Sora sampai di depan rumah Chanyeol. Sora menekan bel kediaman Chanyeol berkali-kali. Kenapa lama sekali di buka kan? Tidak tahu kah kalau tangan dan badan ini remuk?

“Haloo! Apa ada orang!?”

Seseorang menghampiri Sora menatap Sora dengam curiga tapi setelah melihat orang yang berada di samping Sora, orang itu lantas membuka kan pintu. “Tuan muda..” Lirih pria tua tersebut dan memindahkan tubuh Chanyeol dan membawa nya masuk ke dalam.

Sora hanya mengekor dibelakang tubuh pria tua tersebut seraya menatap takjub isi rumah besar ini. Rumah yang bagus. Batin Sora takjud akan rumah Chanyeol.

Heol! Kenapa aku udik sekali? Bukan kah rumah nya tak jauh beda dengan rumah Luhan. Batin nya lagi.

Tak terasa Sora sudah berada di depan pintu kamar Chanyeol tapi ketika pria tua tersebut membawa Chanyeol ke dalam, Sora tak ikut masuk. Bukan karena tidak diperbolehkan masuk, hanya saja masuk ke dalam kamar pria itu tak boleh.

Pria tua tersebut menidurkan tubuh Chanyeol ke ranjang king size nya lalu beralih menatap Sora datar. Ia membungkuk hormat kepada Sora. “Terima kasih telah membawa Tuan muda pulang dengan selamat, nona.” Ujar pria tua tersebut membuat Sora kikuk menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.

“Apa anda ingin minum teh dahulu bersama saya?”

“Apakah boleh?” Tanya Sora.

“Tentu saja, nona. Mari ikut dengan saya.”

Sebelum itu Sora memandang Chanyeol dan barulah ia mengikuti pria tua tersebut sampai ke ruang tengah. Pria tua tersebut menuangkan teh hijau ke cangkir Sora dengan perlahan. Wajah nya terkadang menampilkan datar dan terkadang juga tersenyum lebar dan ramah. Menyeramkan.

“Kalau boleh saya tahu, nona siapa nya Tuan muda? Setahu saya Tuan muda tak memiliki teman wanita.”

“Hmm.. Saya wanita yang tempo hari menyusup ke dalam rumah ini.” Jawab Sora tersenyum kikuk.

Pria tua tersebut tersenyum ramah. “Begitu. Pertama, perkenalkan nama saya Han Goong Hun. Anda bisa memanggil saya pelayan Han.”

“Ne.”

“Siapa nama anda, nona?”

“Namaku? Namaku Choi Sora.” Pria tua tersebut mengernyitkan dahi nya. “Choi Sora?” Sora mengangguk pasti. “Nama yang bagus.”

“Apa anda tahu siapa pria tadi, nona?” Sora menggeleng dengan cepat. “Dia pemilik rumah ini. Nama nya Park Chanyeol. Tapi dirumah ini memanggil nya dengan Sajangnim, Tuan atau Tuan muda yang sudah lama berkerja dengannya.”

Sora hanya mengangguk-nganggukkan kepala nya saja. “Hmm.. Tuan ini sudah sangat larut. Saya izin pamit dahulu ya..”

“Perlu saya antar?” Sora menggeleng. “Tapi bahaya jika seorang wanita pulang sendiri ditengah malam seperti ini, nona.”

“Tak apa. Aku sudah biasa pulang malam.”

“Tapi saya memaksa, nona.”

“Baiklah. Tapi boleh aku pergi ke kamar Tuan Park sebentar? Aku ingin meninggalkan pesan padanya.” Pinta Sora memohon dengan tatapannya.

“Tentu saja boleh, nona.”

Pelayan Han mengantar sampai ke depan pintu kamar Chanyeol dan mempersilahkan Sora untuk masuk tentu nya masih dalam pengawasan pelayan Han. “Tuan Han, boleh aku minjan kertas polos dan spidol?” Pelayan Han mengangguk dan mengambil kertas polos beserta spidol hitam dari dalam laci meja Chanyeol.

Sora tersenyum jahil mendapatkan kertas tersebut. Ia menuliskan kalimat yang pelayan Han tidak ketahui apa itu. Dengan wajah senang Sora berjalan menghampiri ranjang Chanyeol. “Tuan, saat bangun jangan lupa baca ini, ya?” Ujar nya sambil menempelkan kertas tersebut di kening Chanyeol kencang. Membuat pelayan Han menatap khawatir. Takut tuan nya akan bangun dan marah.

Nyata nya Chanyeol hanya melenguh sembari mengubah posisi tidur nya saja. Sora berbalik menatap pelayan Han. “Ayo kita pulang sekarang!” Ajak Sora bersemangat.

_______________

Chanyeol memegang tangan adik satu-satu nya dengan erat. Ia memandang sendu kearah bingkai foto yang menampilkan wajah Ibu nya. Sang adik hanya bisa menangis sejak tadi di samping. Ia pun juga begitu. Hanya saja ia tak boleh menangis karena akan membuat adik nya makin bersedih. “Jae, berhenti menangis. Hyung ada disini.”

Park Jaehyun, adik Chanyeol hanya menggelengkan kepala nya pelan dan tetap menangis membuat Chanyeol bingung harus apa ia. “Jae, kalau Jae terus menangis, Eomma pasti marah dengan Jae. Begitu juga dengan Hyung karena membuat Jae menangis.” Ujar Chanyeol menenangkan Jae yang tak mau henti-henti nya menangis.

Jaehyun mengusap kedua mata nya. “Jae takkan menangis lagi, Hyung. Jae tidak mau Eomma marah.” Chanyeol mengusap rambut adik nya dengan penuh kasih sayang. “Kita harus kuat, Jae. Demi Eomma kita.”

“Jae tidak akan pernah menangis lagi, Hyung.”

Drrt Drtt

Chanyeol bangun dengan nafas yang terengah-engah seperti habis berlari berkilo-kilo meter jauh nya. Kemeja nya sudah basah dibanjiri dengan peluh keringat. Ia menatap ke ke samping nya dimana ponsel nya berbunyi dan penyebab tidur nya terganggu.

Tunggu… Ada yang aneh dengan penglihatan nya. Lantas ditarik kertas putih tersebut dari keningnya dengan kasar lalu dibaca dengan perasaan yang kesal.

BERTERIMA KASIHLAH DENGAKU, TUAN PARK. SEMOGA KITA BERTEMU LAGI NANTI.

“SIAPA YANG BERANI MENEMPELKAN KERTAS INI PADAKU?!!” Geram nya membuat para pelayan yang sedang beraktifitas terkejut sekaligus was-was terkena amukan dari sang majikan.

Chanyeol menatap horror kearah kertas tersebut sambil meremasnya kesal. Ia memijat pelipis nya frustasi. Seingat nya, ia sedang berada di club malam lalu sekarang ia terbangun di dalam kamar nya dengan pakaian yang sama.

Pasti pelayan Han yang membawa nya pulang ke rumah. Kalau bukan pelayan Han siapa lagi yang mau membawa nya pulang kerumah. Lantas Chanyeol beranjak dari ranjang king size nya sembari membuka satu per satu baju yang melekat di tubuh nya sampai ia toples lalu membuka ikat pinggang nya berserta celana nya sehingga kini hanya menyisakan boxer saja.

Barulah ia masuk ke dalam kamar mandi. Menyegarkan pikiran nya yang paling penting sekarang. Mimpi itu kembali disaat Jaehyun datang begitu juga saat ia bertemu dengan Ayah nya. Ia kembali memimpikan sesuatu yang sudah lama tak pernah ia mimpikan.

Membuat pikiran nya semakin sakit saja.

.

“Pelayan Han terima kasih telah membawa ku pulang tadi malam.” Ujar Chanyeol saat berada di meja makan. Pelayan Han yang berdiri di belakang Chanyeol hanya bisa terkejut. Ia kira Tuan muda nya ini tak bangun. “Siapa lagi kalau bukan Pelayan Han yang membawaku pulang.” Lanjut Chanyeol mengharuskan pelayan Han menjelaskan semua nya.

Lantas pelayan Han berdeham. “Maaf Tuan muda, tapi bukan saya yang membawa anda pulang.” Chanyeol menoleh kebelakang menaikkan satu alis nya heran. “Apa maksud mu, Tuan Han?”

“Tadi malam ada seorang wanita yang menekan bel berkali-kali dan saya kira itu hanya orang mabuk yang salah rumah. Ternyata saat saya lihat itu adalah seorang wanita dengan Tuan berada dirangkulan nya.”

“Kau tahu siapa wanita itu?”

Pelayan Han mengangguk ragu. “Ia bilang kalau ia adalah orang yang tempo hari lalu yang meyusup ke dalam rumah, Tuan.” Chanyeol menaikkan satu alis nya berpikir lalu mengangguk-ngangggukkan kepala nya tahu.

“Jadi wanita itu.. Dan kertas itu Tuan Han, siapa yang nempelkan nya di keningku?”

“Wanita itu juga, Tuan.”

Chanyeol mengangguk mengerti dan beranjak dari sana. Sebelum itu ia berterima kasih pada Pelayan Han dan juga meminta Pelayan Han menyiapkan mobil untuk nya berangkat. “Terima kasih, Tuan Han. Dan tolong siapkan mobil untukku berangkat sekarang.”

“Akan kusiapkan sekarang, Tuan muda.” Ujar nya membungkuk hormat saat Chanyeol berjalan melewati nya.

Chanyeol kembali masuk ke dalam kamar nya. Mengambil dari berwarna merah dari dalam laci khusus dasi dan berdiri di depan cermin.

Wanita itu. Jadi wanita itu yang membawa nya pulang. Tapi bagaimana bisa wanita itu tahu ia ada di club malam? Apa wanita itu bekerja disana atau apa? Chanyeol tidak mau memperpanjang masalah. Tapi ia ingin bertemu dengan wanita itu, mengucapkan kata terima kasih pada nya.

Walaupun sikap nya seperti ini setidak nya Chanyeol masih punya tata krama yang baik. Jadi ia pasti akan mengucapkan terima kasih pada wanita itu jika mereka bertemu lagi. Tapi Chanyeol tidak mau bertemu dengan orang yang menyusup ke dalam rumah nya. Tapi mau bagaimana lagi wanita itu telah menolong nya sampai ke rumah nya walau sempat membuat nya kesal.

___________________

Sora berdiri di meja kasir sembari menompang dagu nya bosan. Hari ini pengunjung cafe tidak begitu ramai sehingga ia bisa bersantai seperti. Seseorang masuk ke dalam cafe membuat Sora menegakkan tubuh nya dan menyapa nya dengan sopan. “Selamat datang di Coffe Bay Cafe.” Seru Sora tersenyum ramah.

“Cappuccino. Aku pesan cappuccino satu.”

“Segera, Tuan.” Sahut Sora berbalik menyiapkan apa yang di pesan oleh pria yang ada di hadapan nya ini. Ia meringis saat mendengar suara yang tak asing. Ia mengenal pria tersebut.

Sesekali Sora menoleh ke belakang menatap pria tersebut penasaran. “Luhan? Itu Luhan bukan?” Gumam nya pada diri sendiri. Ia berdecak saat tahu kalau ia sedang di bodohi oleh Luhan.

Ia kembali ke meja kasir sembari membawa cappuccino dan menyerahkan nya pada pelanggan. “Terima kasih, Tuan Lu.” Ujar Sora membulatkan mata nya kesal.

Luhan menaruh jari telunjuk nya di depan bibir nya. Menyuruh Sora untuk berdiam. “Sttt.. Jangan berisik. Nanti anak buah Baba tahu aku disini.”

Sora mengenyitkan dahi nya heran lalu tersenyum jahil. “Jangan, Sora. Kumohon Baba pasti marah besar karena aku pergi ke club malam.”

“Baba tahu?” Luhan mengangguk dengan mimik wajah yang memelas. “YAA! LUHAN ADA DISINI!” Teriak Sora membuat para anak buah Baba Luhan mendekati meja kasir.

Semua anak buah tersebut membungkuk hormat pada Sora dan juga Luhan. Tak lupa Sora juga ikut membungkuk kan tubuh nya karena jelas para anak buah Baba nya Luhan ini lebih tua dari nya. “Terima kasih, Nona muda.”

Sora tersenyum lebar. “Cepat bawa anak nakal ini ke Baba dan sampaikam salamku pada Mama dan Baba.” Para anak buah tersebut mengangguk bersamaan dan membawa Luhan keluar dari dalam cafe. Sebelum itu Luhan menatap tajam kearah Sora yang dibalas dengan juluran lidah oleh Sora.

Luhan. Kalau lihat Luhan pergi dari rumah nya, ia jadi ingat bagaimana dulu ia bertemu dengan Luhan. Sedikit lucu dan menyebalkan memang.

Dulu, rumah Sora tak begitu jauh dari rumah Luhan hanya saja ukuran nya yang tak sama. Hari ini Sora sedang bermain di depan rumah seorang diri. Tapi saat itu ia melihat seorang pria kecil berlari ke arah nya dengan wajah yang memerah.

Saat itu pria kecil itu meminta tolong pada Sora untuk menyembunyikan nya dan jangan katakan dimana ia berada kalau ada yang mencari nya. Luhan pun bersembunyi didalam semak-semak sedangkan Sora menunggu ke datangan orang yang disebut-sebut oleh Luhan.

Tak selang berapa lama ada sekumpulan pria berpakaian jas hitam berlari sembari mengedarkan pandangan nya ke kanan dan kiri. Sora menoleh ke belakang memastikan kalau Luhan bersembunyi dengan baik.

Tapi sekumpulan pria tersebut menghampiri nya. “Hey gadis manis. Apa kau melihat pria kecil berlari kearah sini?” Sora menggeleng dengan wajah polos.

Pria tersebut tersenyum. “Gadis manis, berbohong itu tidak baik. Kau tahu, pria kecil tadi pergi dari rumah nya dan Ayah Ibu nya mencari-cari nya. Tolong, Ahjussi gadis manis atau Ahjussi akan di pecat dari pekerjaan Ahjussi.”

Sebenar pria tersebut tahu kalau Sora berbohong. Makanya ia memohon seperti itu. Sora menoleh ke belakang dan kembali memandang pria-pria tersebut. “DIA ADA DISEMAK-SEMAK!” Seru nya seraya menunjuk kearah semak-semak.

Para pria tersebut berlari ke arah semak-semak dan menangkap tubuh kecil Luhan dengan mudah. “Tuan muda, Tuan besar dan Ny. Besar menunggu anda dirumah.”

Luhan mendengus kesal. “Arraseo. Aku kalah lagi.”

Awal pertemuan yang menyebalkan memang. Setelah Sora mengatakan dimana Luhan bersembunyi Luhan terus menatap Sora tajam. Dan menggumamkan kata-kata yang membuat Sora terkekeh. “Kita lihat nanti, cantik.

Saat itu Sora berusia delapan tahun dan Luhan berusia dua belas tahun. Kebiasaan buruk Luhan adalah sering pergi dari rumah dan menginal dirumah Sora. Maka nya sekarang orang tua Luhan tidak begitu khawatir karena anak nya akan pergi ke rumah Sora. Tapi saat Sora berusia delapan belas tahun, keluarga Sora meninggalkan nya sendiri.

Mengharuskan Sora mencari rumah baru dan otomatis rumah nya dengan rumah Luhan berjauhan. Kedua orang tua Luhan juga menawari nya untuk tinggal di rumah mereka. Tapi Sira tidak enak hati karena terlalu sering merepotkan keluarga Lu.

Lamunan Sora buyar saat seorang pelanggan menggebrak meja kasir tidak terlalu keras tapi cukup membuat Sora terkejut. “Nona, aku pesan Hot Chocolate sejak tadi.”

Sora membungkuk hormat berkali-kali. “Mianhae.. Ditunggu pesanan nya, Tuan.”

.

Luhan mengacak rambut nya frustasi lalu beralih menatap Sora yang duduk disamping nya dengan wajah polos. “Kenapa kau memberitahu mereka, eoh?” Tanya Luhan frustasi membuat Sora terkekeh.

“Jadi.. Kali ini apa hukuman nya?”

Luhan memandang Sora kesal. “Tak boleh keluar rumah kecuali bersama Baba, Mama, Anak buah, dan Kau!” Sora tertawa terbahak-bahak lalu memukul kepala Luhan.

“Dasar anak nakal! Maka nya jangan berani ke tempat itu!”

“Disana banyak wanita yang.. Err.. Sora. Mereka tidak seperti mu..” Luhan memandang Sora dari atas ke bawah. “Bentuk tubuh mereka err.. Sedangkan kau? Ishh! Rata!” Ejek Luhan yang langsung mendapatkan pukulan keras dari Sora.

Sora menyeringai. “Aku akan katakan pada Baba kalau kau berani melihat tubuh seorang wanita.”

“Katakan! Tapi sebelum itu kupasti kan aku mendapatkan kecupan manis darimu.”

“Dasar pria genit!”

Luhan membungkam mulut Sora dengan tangan kiri nya. “Diam dan lihat yang disana.” Sora mengikuti arah tunjukkan Luhan dan ia hanya melihat seorang wanita dengan pakaian yang cukup.. Seksi? Sora menoleh kearah Luhan.

“Dia..” Luhan tersenyum konyol seraya menatap Sora berbinar-binar. “Dia bersinar, Sora.”

“Seksi maksudmu, Luhan?” Luhan menggeleng pelan sembari memejamkan mata nya tidak membenarkan ucapan Sora. “Dia bersinar, seperti bidadari jatuh dari surga. Kurasa aku jatuh cinta dengan wanita itu.” Ujar Luhan membuat Sora terdiam cukup lama.

Jadi, Luhan menyukai wanita itu? Padahal Luhan baru melihat nya sekali dan itu pun dari jauh seperti ini. “Tidak. Aku tahu apa yang ada dipikiran mu, cantik. Aku sudah bertemu dengan nya tiga kali dan aku sudah jatuh cinta dengan nya saat pertama kali.”

“Jadi kau jatuh cinta pada nya?” Luhan mengangguk walaupun tatapan nya tak pernah mau lepas dari wanita itu. Tiba-tiba wanita tersebut menoleh kearah mereka dan tersenyum ramah. Membuat Luhan salah tingkah seketika. “Dia menatap mu, Luhan.” Luhan mengangguk. Kali ini benar, wanita itu menatap nya dengan penasaran lalu bangkit dan menghampiri meja mereka berdua.

“Dia menghampiri meja kita, Luhan.”

Wanita tersebut berjalan menghampiri meja mereka berdua. Membuat jantung Luhan berdetak cepat. Wanita itu sampai dimeja mereka berdua lalu membungkuk hormat. “Selamat siang, Tuan Lu. Lama tidak bertemu.”

Luhan tersenyum kikuk lalu bangkit dari duduk nya dan membungkuk hormat pada wanita itu. “Benar, Nona Jung. Lama tidak bertemu. Sudah dua minggu kita tak bertemu.” Dalam hati Luhan bersorak gembira karena dapet mengendalikan diri nya dengan baik. Wanita itu beralih memandang ke belakang Luhan, yaitu Sora yang menatap mereka berdua datar.

Wanita tersebut tersenyum kepada Sora. “Siapa gadis ini, Tuan Lu? Apa dia kekasihmu?” Luhan menggeleng dengan cepat. Membuat Sora mendengus sebal.

Reaksi yang sangat cepat, Luhan. Batin Sora mencibir.

“Perkenalkan ini adikku, Choi Sora.” Sora bangkit lalu membungkuk hormat pada nona Jung. “Adik? Setahuku kau tidak mempunyai adik, Tuan Lu.”

“Dia sahabatku yang kuanggap adik, Nona Jung.”

Kalau dilihat wanita ini lumayan juga. Selera Luhan memang tidak begitu jelek walaupun gadis ini memakai pakaian yang sedikit.. Ketat?

Nona Jung melirik arloji nya lalu kembali memandang Luhan. “Tuan Ku, kurasa aku harus kembali bekerja. Maaf menganggu waktumu dan adikmu disini. Aku pamit, Tuan Lu.”

Luhan menghembuskan napas nya lega saat nona Jung itu pergi meninggalkan restaurant. “Kau bilang, kau tidak akan pernah jatuh cinta dengan wanita. Tahu nya kau sudah punya target sekarang.” Ujar Sora membuat Luhan terdiam.

“Itu dulu saat aku tidak normal, sayang! Sekarang aku sudah sembuh. Aku bukan penyuka sesama jenis lagi! Jadi.. Aku akan mendapatkan apa yang harus ku miliki!” Ujar Luhan menyemangati diri nya.

“Cantik, mari berjuang bersama untuk mendapatkan cinta kita!”

“Mari berjuang bersama! Fighting!”

______________

Disinilah Chanyeol berada sekarang. Dapur. Baru saja Jaehyun sampai ke Korea dan langsung datang ke rumah nya. Jaehyun meminta Chanyeol untuk membuatkan nya minuman kesukaan nya saat kecil. Yaitu susu coklat.

Chanyeol memberikan Jaehyun susu coklat nya dan duduk di hadapan Jaehyun. Hening. Tak ada yang mau memulai pembicaraan duluan. Jaehyun hanya diam sembari meminum susu coklatnya, sedangkan Chanyeol memandang Jaehyun yang sedang meminum susu coklat nya dalam diam juga.

“Kau tubuh dengan baik selama dua tahun ini, Jae.” Ujar Chanyeol membuka pembicaraan mereka. Jaehyun hanya tersenyum sekilas pada Chanyeol. “Kau juga tubuh dengan baik, Hyung.”

Dalam hati, Chanyeol sangat senang bisa bertemu dengan adik nya. Hanya saja ia tak bisa mengatakan nya. Ia ingin bertanya pada Jaehyun, apa dia baik-baik saja disana? Apa dia makan dengan baik? Apa Jaehyun tidur dengan baik? Ia ingin menanyakan itu semua dan banyak lagi, tapi ia tak bisa.

“Bagaimana keadaanmu, Hyung?”

“Aku baik. Bagaimana dirimu sendiri, Jae?” Akhirnya Chanyeol bisa menanyakan pertanyaan itu.

“Seperti yang kau lihat. Aku baik.”

Mereka kembali terdiam. Jaehyun lebih memilih meminum susu coklat nya ketimbang berbicara dengan Chanyeol. “Aku rindu dengan Eomma.”
“Aku merindukan Eomma juga, Jae.”

Jaehyun menaruh gelas nya sedikit keras agar menimbul detuman yang cukup keras juga. “Hyung..” Jaehyun menatap Chanyeol datar. “Kenapa.. Kenapa saat itu kau tidak mengatakan padaku kalau Eomma ingin k–”

“Apa kau lapar? Aku akan menyuruh Kim Ahjumma membuatkan mu makanan kalau kau mau.” Sela Chanyeol cepat. Terlihat jelas sekali kalau Chanyeol menghindari pertanyaan ini. Membuat Jaehyun hanya diam melihat tingkah laku Chanyeol yang aneh.

“Hyung, aku sudah dewasa untuk tahu masalah itu.”

Chanyeol hanya bisa menghela napasnya. Ia juga bimbang harus mengatakan nya pada Jaehyu atau tidak. Chanyeol menatap adiknya intens. “Tak ada masalah apapun. Kau tak perlu memikirkan hal itu, Jae.” Bohong kau Park Chanyeol! Sebenarnya Chanyeol hanya tak sanggup menceritakan apa yang sudah ia kubur.

Ia hanya tak ingin Ibu mereka bersedih karena mereka berdua masih membahas tentang masa lalu. “Apa perluku bunuh pria biadap itu?” Sahut Jaehyun sontak membuat Chanyeol membulatkan mata nya terkejut. Chanyeol memandang Jaehyun dengan amarah yang tertahan, sedangkan Jaehyu hanya membalas tatapan Chanyeol datar.

Mungkin bagi Jaehyun membunuh adalah hal yang biasa, tapi bagi Chanyeol sangat amat buruk walaupun ia pernah membunuh seseorang. Tapi itu dimasa lalu dan ia takkan pernah mau mengulanginya lagi. “Apa yang kau katakan, Jae?!”

“Apa perlu ku bunuh pria biadap itu, Hyung?” Ulang Jaehyun dengan wajah penasaran menunggu jawaban dari Chanyeol.

“Bunuh? Yaampun, Jaehyun! Sudah kukatakan berhenti membunuh orang! Kau!”

Bukan nya takut karena kakak nya marah, Jaehyun hanya bersikap biasa seolah-olah apa yang dikatakan nya hanyalah hal kecil. “Lalu kita harus apa?”

“Kita hanya perlu berdoa untuk Eomma. Itu sudah cukup!”

Sekarang mereka berdua hanya duduk berhadapan dalam diam. Tak ada lagi yang mau memulai pembicaraan kalau ujung-ujung nya salah satu dari mereka ada yang tak bisa menahan emosi nya. Jaehyun tentu ingin sekali mengobrol banyak dengan Chanyeol.

Sudah lama Jaehyun dan Chanyeol tak bertemu. Sejak ibu mereka meninggal dunia, hanya ada Chanyeol yang berada disamping nya. Ketika ia takut dengan kegelapan, Chanyeol dengan setia berada disamping nya sembari mengenggam tangan nya erat. Tentu Jaehyun takkan pernah melupakan kejadian itu. Takkan pernah.

Chanyeol hendak membuka mulut nya sebelum Jaehyun memulai bertanya pada nya. “Kapan kau menikah, Hyung?” Tentu nya Chanyeol terkejut dengan pertanyaan ini. Sebab terlalu banyak yang bertanya pada nya kapan ia akan ke jenjang yang serius. Karena ia selalu digosipkan tak pernah dekat dengan wanita mana pun.

“Aku belum menemukan wanita yang cocok denganku. Jadi aku masih tidak tahu kapan akan menikah.”

“Kau harus cepat-cepat menikah, Hyung. Umurmu sudah tak muda lagi.”
“Ya, umurmu sudah cukup matang untuk menikah, Hyung.”

.

Mereka berdua baru saja mengucapkan doa untuk ibu mereka berdua. Chanyeol hendak berdiri saat adik satu-satu nya mengucapkan kalimat yang membuatnya terkejut. “Eomma.. Jae datang kemari untuk meminta izin.” Chanyeol menaikki satu alis nya penasaran.

Jaehyun mengusap makam ibu nya dengan tatapan sendu. “Eomma.. Jae datang kemari sebenarnya ingin meminga restu. Sebulan lagi Jae ingin menikah. Tapi maaf, Jae tidak membawa calon wanita nya.”

“Kau akan menikah?” Jaehyun mengangguk. “Aku menghamili nya jadi mau tidak mau aku harus menikahi nya, Hyung.”

“Kau terpaksa?” Jaehyun menggeleng pelan. “Aku sengaja menghamili nya, Hyung. Aku mencintai nya tapi ia tidak.”

Chanyeol hanya mengangguk-nganggukan kepala nya paham. Adiknya mungkin tidak tahu cara apa yang harus ia pakai lagi agar wanita itu tak pergi jauh dari nya. Tapi cara itu salah dan itu juga salah Chanyeol karena sebagai kakak satu-satu nya yang dimiliki Jaehyun tak bisa mendidik nya yang baik.

Jaehyun menyematkan jari kelingking nya di jari kelingking Chanyeol. “Hyung, mari berjanjilah bersama.” Chanyeol menaikan satu alis nya tak mengerti. “Dikemudian hari, carilah wanita yang cocok denganmu dan juga buatlah keluarga mu sendiri dengan baik.” Kali ini Chanyeol mengangguk mengerti.

“Dihari pernikahanku, kau harus sudah membawa wanitamu. Berjanjilah, Hyung.” Betapa tersentuhnya Chanyeol saat ini lantas Chanyeol mengangguk sembari tersenyum tipis. Kali ini Chanyeol berjanji akan membawa wanita nya ke hari spesial adiknya. Ia takkan ingkar lagi pada adik tersayang nya.

_______________

Sora memandang takjub pada gedung dihadapan nya ini. Mulai hari ini, ia akan bekerja disini. Lumayan bisa untuk kebutuhan sehari-hari nya san juga untuk membayar hutang Ayah nya. Dengan perasaan yang sangat yakin Sora masuk ke dalam dan mendatangi meja repsesionis. “Selamat pagi, nona. Ada yang bisa saya bantu, nona?”

Sora tampak berfikir sebentar karena ia lupa harus mengatakan apa. “Engghh– saya ingin bertemu dengan Tuan Kim, saya sudah buat janji dengannya.” Wanita yang dihadapan nya ini mengerutkan alisnya lalu membolak-balikkan buku nya. “Nona Choi Sora?” Sora mengangguk.

Wanita itu tersenyum ramah. “Mari saya antar, nona.” Sora mengangguk dan mengekori wanita tersebut.

Kemarin sore Sora menemukan pekerjaan di koran. Dikatakan disana kalau mereka sedang mencari asisten. Gaji nya juga sangat lumayan bagi Sora. Jadi tanpa berfikir lagi Sora menghubungi nomor yang tertera disana dan ia dikatakan kalau besok sudah bisa mulai bekerja.

“Tunggu disini ya, nona. Nanti sajangnim akan datang kemari.” Kembali Sora mengangguk.

.

Sora memandang pria paruh baya dihadapan nya dengan senyuman lebar. Sejak pertama kali bertemu, pria paruh baya ini mengajak nya bicara terus menerus dan menceritakan kehidupan nya. Dia adalah pria yang hangat. Baru bertemu saja, pria paruh baya ini sudah sangat baik pada Sora.

Dua hari. Tiga hari. Empat hari. Sampai satu Minggu lebih sudah Sora berkerja disana. Dia dan atasan nya itu sudah seperti Ayah dan Anak saja. Pria paruh baya yang selalu disebut sajangnim itu meminta diri nya untuk memanggil pria paruh baya itu dengan sebutan Appa. Mereka berdua saling tahu masalah mereka satu sama lain. Seperti sudah mengenal bertahun-tahun saja.

Seperti sekarang, Sora tengah tertawa bersama dengan atasan nya ini karena menonton acara televisi komedi. “Sora, bukankah pria itu bodoh? Aku tak habis pikir.” Ujar atasannya seraya tertawa disela perkataan nya. Sora pun juga tertawa bahkan tak bisa menahan tawa nya karena memang benar-benar lucu.

Sora melirik jam dinding dan kembali menatap ke televisi. “Appa, aku akan pergi untuk membeli minuman untuk kita berdua dibawah.” Atasannya tersebut hanya mengangguk dan juga meliriknya sekilas. Sora beranjak dari sofa dan berjalan kearah pintu ruangan. Berniat untuk membeli coffe dan juga green tea untuknya.

Semua karyawan disini sudah mulai mengenalnya semua. Siapa yang tak mengenal Sora? Wanita pertama yang bisa dekat dengan atasan mereka semua. Mungkin pesona Sora sangatlah bagus sehingga atasan mereka mau dekat dengan Sora. Sora menekan petunjuk kebawah saat didepan lift sembari menunggu lift bersama dengan beberapa karyawan yang berniat turun juga.

Sora menghembuskan nafas nya berat. Sudah lima hari Sora dan Luahn tak bertemu membuatnya merindukan pria genit tersebut. Seharus memang seperti ini, karena ini memang rencana mereka berdua. Fokus untuk mendapatkan hati pasangan mereka. Tapi sayang, Sora tak punya waktu untuk berdekatan dengan pasangannya tersebut. Tuan Park Chanyeol yang tampan. Cukup sedih karena ia tak bisa bertemu dengan sih tampan.

Sora menyerahkan beberapa lembar won kepada pelayan cafe lalu membawa satu cup coffe dan yang satunya lagi green tea. Saat ini ingin berjalan kearah lift, tidak tahu apa ini hanya imajinasi nya saja karena tak bertemu dengan pria tampan nya atau nyata. Tapi saat ini pria tersebut juga sedang berjalan kearah lift.

“Tuan tampan? Omo! Aku harus satu lift dengannya.” Sora berjalan dengan tergesa-gesa diantara banyak nya karyawan yang ingin masuk ke dalam lift juga. “Permisi, aku membawa coffe untuk sajangnim. Aku tak ingin ia marah. Kumohon minggirlah.” Berhasil! Semuanya memberi nya jalan terlebih dahulu untuk masuk karena alasan yang bagus.

Diantara para karyawan didalam lift ini Tuan tampan tersebut berada ditengah dengan mimik wajah datar tapi tetap membuatnya terlihat tampan. “Nona Choi, kau ke lantai paling atas, bukan?” Tanya salah satu karyawan yang berdiri disamping Sora.
Lantas Sora mengangguk. “Ne!” Sahut Sora cepat. Jantungnya? Kenapa jantung nya berdetak cepat seperti ini? Apa karena pria tampan ini–ah ani! Tuan Park yang tampan ini? Bisa gila kalau begini terus, Sora.

Semua karyawan telah keluar, hanya tertinggal ia dan Tuan tampan atau kita sebut namanya Park Chanyeol. Sora hendak menekan angka paling atas saat tak sengaja Chanyeol juga ingin menekan angak tersebut. Chanyeol hanya menatap nya sekilas dan itupun bekerja dengan cepat pada jantung nya. Oksigen! Aku butuh oksigen! Batin nya bersorak.

Mereka berdua bersamaan keluar dari dalam lift. Sora berjalan dibelakang tubuh Chanyeol, membuat Chanye risih karena ia kira Sora mengikuti nya.
Bolehkah aku bersandar dipunggung lebar nya itu? Ini membuatku gila!

“Nona, berhenti mengikutiku!” Bentak Chanyeol karena merasa risih dengan kehadiran Sora. Sora hanya menundukkan kepala nya sembari mengangguk paham. “Ne.”

“Kubilang jangan mengikuti, Nona. Kau menganggu.” Ujar Chanyeol yang membuat Sora terdiam ditempat dan mengangguk-nganggukkan kepala nya mengerti.

Chanyeol berjalan dengan langkah yang lebar. Tak habis pikir dengan karyawan yang ada disini. Bagaimana bisa Ayahnya memperkerjakan wanita seperti itu yang kerjaan nya hanya bisa menguntit saja.

Chanyeol memandang pintu berwarna hitam dihadapan nya dengan perasaan kesal lantas ia mendobrak pintu hitam tersebut lalu menatap seorang pria paruh baya yang kini sedang memandang layar televisi tanpa berniat menoleh kearah Chanyeol. “KAU GILA!!!” Teriak Chanyeol marah pada pria paruh baya tersebut.

Sedangkan pria paruh baya itu hanya menatap Chanyeol sekilas dan kembali memandang layar televisi nya lalu tertawa. Membuat Chanyeol jengah karena pria tersebut tak mau mendengarkan nya. “PUTUSKAN KERJA SAMA MU ITU!! ATAU AKU AKA—”

“AKAN APA?! APA YANG AKAN KAU LAKUKAN ANAKKU?! MENJATUHKAN KU, BEGITU KAH?” Chanyeol terdiam. Ya betul, apa yang ingin ia lakukan jika pria dihadapan nya ini putuskan jera sama ini. Akan kah ia menjatuhkan pria ini atau apa? Diam?

“Sialan kau!” Geram Chanyeol menatap garang ayah nya.

“Jadi.. Apa yang kau inginkan anakku? Bermusuhan denganku kah?”

Chanyeol diam. Ia juga tidak tahu harus apa. Disaat seperti ini, ia malah menjadi lemah. Sebab, tatapan ayah nya membuat dirinya menjadi tak tega. Lemah. Dan Chanyeol tak ingin menjadi lemah. Ia membenci lemah. Jadi ia putuskan untuk menatap ayahnya garang. Begitu juga ayah nya, dia menatap Chanyeol garang tapi ada tatapan sendu dibalik tatapan garang tersebut.

Dilain sisi, Sora melihat kejadian itu semua. Membuatnya terdiam seribu bahasa. Jadi.. Tuan Tampan itu adalah anak dari Tuan Park Minjoon. Pria yang selama ini ia anggap Ayah? Jadi Chanyeol adalah anak yang selama ini Tuan Park ceritakan?

Kenapa ini rumit sekali? Bagaimana mana bisa ini kebetulan sekali? Apakah ini takdir? Takdir yang tidak ia ketahui?

-TBC-

Advertisements

Author: Sashka

Jongin's wife. Teleporters // Whirlwinds // Pyromaniac.

3 thoughts on “Fille #Fate? {Chapter 3} –by Sashka

  1. Wow… Keren keren… Makin seru critanya… Bener-bener kebetulan banget… 😀 Ditunggu next chapter’nya chingu… Fighting!! ♡♡

  2. Wiihhh makin penasaran sama ceritanya.. terutama bagian dimana tuan park cerita sama sora ttg anaknya?? Emg tuan park cerita apa?? Trus masa chanyeol ga inget siapa sora sebenernya -_-

  3. Walaupun jae brengsek,tapi dia bisa bersikap dewasa juga ya… Chanyeol beruntung juga punya adik kaya jae…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s