Sashka Fanfic's

“Let’s live while doing things we like.” -Sehun

[Twoshoot] Gone Not Around Any Longer {Part 2 END}

Leave a comment

gn

Tittle : Gone Not Around Any Longer // Author : Sashka (@sashagani) // Genre : Romance, Sad, Angst // Cast : Oh Sehun (EXO) , Kim Eunsa (OC) // Length : Twoshoot // Rate : PG-15

Disclaimer : Cerita milik saya. Cast milik Tuhan yang maha esa, kecuali OC hasil pemikiran saja sendiri saya. No Plagiat!

Sehun menatap seorang gadis di hadapan nya dalam diam. Tak berniat membuka pembicaraan pada nya. Karena ia memang muak untuk mengeluarkan suaranya, apalagi memandangi wajah gadis ini. Rasanya ia ingin pergi dari sini, tapi jika mengingat Hyena. Dia bisa apa? Dia tidak bisa menolak Hyena kali ini. Lagi pula hanya kencan malam ini saja. Besok-besok ia tidak akan pergi berkencan buta seperti ini lagi. Titik. “Bagaimana keadaanmu, Sehun-ssi?” Tanya gadis itu dengan senyuman menawan nya.

Melihat senyuman itu, Sehun rasanya ingin mencekik gadis ini. Terlalu banyak akting menurutnya. “Baik.” Hanya kata itu yang keluar dari bibirnya. Terlalu malas menghadapi gadis ini. “Kurasa kau tak berubah, Sehun-ssi. Masih sama seperti dulu.” Ujar gadis itu lebih seperti mengejek sikap Sehun, lalu menyesap wine nya dengan gaya nya elegan.

“Bagaimana keadaan nya? Sudah lama tak mendengar nama nya.”

Deg

Sehun berhenti mengunyah makanan nya, beralih menatap gadis yang kini menatap nya dengan tatapan licik nya. Dan setelah nya, gadis itu malah tertawa. “Bisa ku tebak, pasti dia meninggalkan mu kan, Sehun-ssi?” Sehun sedikit terpancing saat gadis ini membicarakan wanita nya. Tak ada yang boleh membicarakan wanita nya, selain dirinya. Kini gadis itu menatap Sehun dengan serius. “Aku tak tahu harus bilang apa, tapi melihatmu seperti ini, aku merasa iba.” Sehun menyeringai. “Iba? Ck!”

Gadis itu bangkit dari tempatnya. Mengeluarkan selembar kertas putih di dekat Sehun. “Ini untuk mu. Maaf kami..” Gadis itu, Jung Haneul pergi meninggalkan Sehun yang memandang punggung nya dengan terheran-heran. Apa maksud kertas putih ini? Tak ada apapun di kertas ini. Dengan malas, Sehun memasukkan kertas itu ke dalam saku jas nya, dan pergi meninggalkan restaurant tersebut.

Setelah ini, ia akan meminta penjelasan Kai dan Hyena, kenapa ia harus berkencan buta dengan gadis itu, Jung Haneul? Tak ada yang lain memang? Dengan bingung, Sehun melajukan mobilnya pulang ke rumah.

_____

“Sudah makan?” Tanya seorang wanita yang duduk dihadapan seorang pria yang kini menatapnya malas. “Jawab aku, Sehun.. Apa kau sudah makan? Jika belum, ayo makan bersamaku, aku bawa bekal.” Dengan segala usahanya wanita itu membujuk pria yang ada di hadapannya.

Dengan kesal, sang wanita menarik tangan sang pria ke taman yang sepi dari mahasiswa. Duduk dibawah pohon besar berdua. Lantas wanita itu membuka kota bekal nya, lalu mengambil sesendok dan berniat menyuapi pria yang duduk di sampingnya. “Aaa..” Pria itu hanya menggeleng tidak mau. “Ayo makan. Satu sendok saja, kumohon..” Bujuk sang wanita sengan segala cara nya. Sang pria pun juga tidak membuka mulutnya, dan memilih bungkam. “Baiklah jika kau tidak mau. Aku akan memberikan makanan ini pada Soeboemi saja.”

Saat sang wanita iu berniat untuk pergi, sang pria mengcekalnya. “Duduk. Aku akan memakan nya. Sini!” Dengan senyum 3 jari nya, sang wanita kembali duduk dan memberikan kotak bekal nya pada sang pria. “Kau harus tahu, cukup susah untukku membuat bekal itu. Susah juga untuk dapat membeli bahan-bahan itu. Jadi, kumohon hargai jerih payahku.” Senyuman tulus nya membuat sang pria bungkam terdiam. Ia tidak tahu kalau wanita ini harus berusaha mencari uang dulu untuk membuat bekal ini.

Ia berjanji. Tidak akan pernah menolak makanan dari wanita ini. Ia menyanyangi wanita ini, selamanya..

_____

Sehun memijat pelipis nya saat setumpuk lembaran menunggu nya untuk di tanda tangani. Ia lelah, dan butuh istirahat sejenak. Sebenarnya ia ingin pergi berlibur, hanya saja ia tidka ingin berlibur sendirian. Tapi, jika mengajak Kai dan Hyena tentunya ia tidak akan sendiri bukan? Dengan segera, ia meraih ponsel nya, dan menelpon Kai.

Tapi ia baru menyadari satu hal, kalau Hyena sedang hamil enam bulan. Mungkin bertanya lebih dahulu bisa. “Yeobseyo Kai..”

“Ada apa, Hun?”

“Hmm, aku hanya ingin menawarimu dan Hyena sesuatu.”

“Apa itu, tuan Oh?”

“Sialan, kau! Begini, aku berfikir ingin pergi berlibur. Tapi aku tak ingin berlibur sendirian, jadi aku ingin kau dan Hyena ikut bersamaku.”

“Kau salah untuk mengajakku dan Hyena, Hun. Aku terlalu takut membawa naik pesawat, takut mempengaruhi kandungan-nya. Jadi, aku maaf maaf saja yaa, Hun.”

“Baiklah. Terima kasih, Kai.”

Bip

Sehun mendesah sembari memijit pelipisnya lelah. “Mungkin memang takdirku untuk pergi sendiri kali ini.” Gumam nya bangkit dari kursi kebesaran nya. Keluar dari ruangan nya, dan berniat bertemu dengan sekretaris nya. Berjalan dengan memancarkan aura gelap nya. Tak lupa ia merogoh saku celana nya, mengambil ponselnya, lalu menelpon sekretaris nya. “Apa aku masih mempunyai jadwal?”

Hening. Tak ada jawaban dari sebrang sana. “Ada sajangnim.”

“Batalkan semuanya, beserta untuk satu minggu ke depan. Aku ingin pergi liburan ke Jeju.”

Bip

Sehun masuk ke dalam lift, lalu memasukkan kembali ponsel nya ke dalam saku celana nya. Hening. Tak ada suara apapun didalam lift. Sama seperti biasa, Sehun selalu diam dan diam. Tak berniat untuk berbicara sedikit pun. Ia menghela nafasnya saat ponsel nya bergetar menandakan ada panggilan yang masuk. Dengan cepat ia kembali merogoh saku celana nya, lalu mengangkatnya. “Hai..”

Deg

Sehun terdiam. Suara yang tak pernah ia dengar lagi, kembali terdengar di telinga nya. Hanya diam. Tak tahu harus berbuat apa. Dia terlalu syok atau terlalu bahagia? Mungkin kedua nya. “Hun, kata Kai kau mengajakku dan Kai pergi ke Jeju?” Salah. Bukan dia. Hanya khayalan Sehun saja. Dia pun mendesah. “Ya, Hye. Memang ada apa?” Tanya Sehun dengan suara yang lemah. Pintu lift pun terbuka, ia berjalan keluar mencari keberadaan supirnya. “Kau ingin ke Jeju?”

“Hm, ada apa, Hye? Kata Kai kau tak boleh ikut karena takut membahayakan kandunganmu. Jadi aku pergi sendiri.” Disebrang sana terdengar suara Hyena yang sedang sibuk dengan masakkan nya. “Begini, Hun. Aku hanya ingin saat kau kesana, datangilah suatu tempat. Aku sudah lama tak kesana. Kapan kau berangkat?”

“Mungkin besok pagi.” Jawab Sehun sekena nya sembari masuk ke dalam mobilnya. Lewat tatapan ia menyuruh supirnya untuk melajukan mobilnya menuju rumah. “Kalau begitu, besok pagi aku kirimkan alamatnya saja. Tapi kau datang kesana pada saat hari terakhir saja. Jangan lupa bawa mainan saat kesana, Hun. Terima kasih.”

“Sama-sama. Jaga kesehatanmu, Hye. Dan sampaikan salam ku pada keponakanku, sekaligus suami mu yang aneh itu. Annyeong.”

Bip

Sehun menghela nafasnya. Lalu pandangan nya beralih ke jendela mobil. Bertepatan saat mobil berhenti karena lampu merah, ia memandangi sepasang wanita dan pria bergandengan tangan. Tersenyum bersama. Tertawa bersama. Betapa romantisnya mereka. Tapi itu semua membuat Sehun iri. Iri akan kemesraan mereka. Membuatnya mengingat kenangan masa lalu nya yang indah. Yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.

Berharap kenangan itu kembali, tapi mau bagaimana lagi? Yang lalu, biarlah berlalu. Takkan pernah terulang lagi. Kesempatan untuknya sudah habis. Dan ia harus ikhlas dengan kesempatan nya itu. Walaupun tak ingin.

Sehun tersenyum kecut saat melihat kedua pasangan serasi itu saling menyatukan material lembut. Dengan cepat pula ia memalingkan wajahnya dari sana. Memilih memandang lurus ke depan. Tak ada yang pernah tahu, dan takkan tahu kalau seorang Oh Sehun yang dikenal dingin, menangisi seorang wanita yang sudah pergi meninggalkan nya.

________

“Oh Sehun!!” Seorang wanita terus memanggil nama seorang pria yang kini berjalan dengan pelan. Tak tahu mendengar atau sengaja, pria itu tidak berhenti dan tetap berjalan. Membuat wanita ini jengah dan rasanya ingin mengjenggut rambut sang pria. Dengan sisa tenaganya, ia berlari mengejar sang pria lalu memukul belakang kepalanya.

Yang dipukul pun terkesiap langsung melepaskan headset nya. Menatap wanita dihadapan nya dengan tajam. “Apa yang kau lakukan, bodob?!” Geram nya dengan tatapan menusuk. Wanita itu hanya terdiam sembari mengatur nafasnya. “Kau tuli atau bagaimana? Aku memanggilmh sejak tadi!” Balas sang wanita dengan tajam. “Memanggilku? Maaf, aku memakai headset.”

“Masa bodo dengan itu. Sekarang ikut aku. Aku ingin membicarakan sesuatu, tapi tidak disini, oke?” Tanpa meminta izin, wanita itu langsung menarik tangan pria, membawanya ke taman kampus yang cukup sepi. Karena disana hanya ada mereka berdua saja. “Katakan!” Dengan tidak sabar, sang pria membentaknya. Dan wanita itu? Dia diam memandangi sepatu flat nya. Dan itu cukup membuat sang pria bingung. “Sebenarnya..” Dia diam. Lalu beralih menatap ke sang pria. “Aku mencintaimu, Oh Sehun.”

Terkejut memang. Tapi buru-buru ia tertawa lepas. Menertawakan sang wanita yang dikira nya sedang bergurau. “Tidak lucu, Eunsa.” Dengan tatapan sendunya, seolah menunjukkan bahwa ia sedang tidak bercanda. “Aku serius, Oh Sehun. Maka dari itu, aku ingin hubungan kita bukan sekedar teman dekat, tapi… sepasang kekasih.” Ragu mengucapkan nya, tapi ia tak bisa menahan rasa cinta nya ini. Pria ini, Oh Sehun, tentunya terkejut. Kenapa dia berani sekali mengutarakan cinta pada seorang pria? Apa tak punya harga diri? Kenapa tak malu?

Sehun membenarkan duduknya, lalu menghadap wanita itu, Kim Eunsa, “Baiklah. Sekarang kita sepasang kekasih.” Dengan wajah yang berbinar, Eunsa memeluk Sehun dengan erat. “Sungguh, aku sangat mencintaimu, Oh Sehun.” Dengan ragu, Sehun membalas pelukan Eunsa. Ada rasa bahagia dihatinya, tapi ia selalu menyangkalnya. Selalu membuang rasa itu jauh-jauh.

_______

“Kau tahu Eunsa, aku malu saat itu. Kenapa harus kau duluan yang mengungkapkan perasaanmu? Kenapa tidak aku duluan? Pengecut sekali diriku!” Lirihnya, mata nya sudah berkaca-kaca. Jika ada cermin didepan nya, sangat dipastikan ia akan malu sekali. Buktinya saja sekarang ia malu sekali.

Sehun menarik handuk kuning nya dari dalam lemari, lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Membasuh tubuh lengketnya yang setiap hari harus berkutat dengan dokumen-dokumen penting. Ia menghembuskan nafasnya saat melihat sikat gigi berwarna hijau itu. “Bolehkah aku memakainya, Eunsa? Aku merindukan mu..” ia mengambil sikat gigi berwarna hijau itu, lalu menghadap ke cermin. Mengoleskan pasta gigi di atas sikat gigi. Beralih memandangi pantulan wajah nya di cermin. “Aku sudah berjanji takkan memakai sikat gigi pemberianmu ini, tapi aku tak bisa. Aku terlalu merindukanmu..”

Ia ingin sekali menangis. Tapi, seorang pria tak boleh menangis, tak boleh cengeng, begitulah kata orang-orang. Ia menggosok gigi nya dengan gerakkan perlahan. Selesai menggosok giginya, ia segera membuka semua pakaian nya. Dari mulai baju, celana, dan celana dalam nya. Berdiri di bawah guyuran air shower.

Guyuran air yang turun membasahi tubuhnya, membuat ia merasa lebih segar. Aroma mint menyebar di dalam kamar mandi saat ia mengusap tubuhnya dengan sabun mandi beraroma mint, khas seorang pria.

Bahkan disaat seperti ini, yang dipikirkan oleh Sehun hanyalah Eunsa. Kim Eunsa. Merenungkan apa yang sedang dilakukan oleh Eunsa? Dia bahagia atau tidak? Kalau dia bahagia, sayangnya ia tidak. Ia tidak bahagia, karena ia tak bisa hidup dengan Eunsa. “Shit!” Umpat Sehun saat ia bereksi ketika memikirkan Eunsa.

.

Sehun memakan sarapan pagi nya dalam diam. Mengunyah roti tawar nya sembari menatap ke atas piring dengan kosong. Besok, ya besok ia akan berangkat ke jeju. Sedikit saat mengingat ia akan pergi sendiri. Dimana semua orang akan pergi bersama orang lain, tapi ia hanya pergi sendiri. Benar-benar seperti pria yang kesepian. Sehun mengesap susu nya, lalu beranjak dari meja makan dan berangkat bekerja. Dengan enggan, ia masuk ke dalam mobil.

Saat ia akan pergi ke kantor, ia melewati kedai yang menjual es krim beraneka rasa. Ia jadi tersenyum sendiri saat mengingat pertama kali ia datang ke sana. Datang bersama orang yang spesial, yang sangat berarti untuk nya. Sekali lagi ia tersenyum kecut saat kilasan memori itu teringat kembali.

______

Eunsa terus menarik tangan Sehun agar mengikuti nya. Digenggam tangan Sehun dengan erat, sedangkan Sehun sangat terlihat pasrah saat tangan nya ditarik oleh Eunsa. Senyuman lebar tak luntur-luntur nya menghiasi wajah cantik Eunsa. Terkadang mereka menabrak orang-orang yang berjalan berlawan arah. Sering juga Eunsa meminta maaf. “Sehun, kenapa kau diam saja?” Tanya Eunsa saat itu menghentikan langkah nya membuat Sehun menabrak punggung nya dari belakang.

Sehun mendengus, “Aku masih mengantuk, Eunsa. Ini hari Minggu, hari dimana aku bermalas-malasan.” Eunsa berdecak sebal dan kembali melangkahkan kaki nya dengan tetap menarik tangan Sehun. Sehun mengerucutkan bibir nya menatap punggung Eunsa dari belakang. Tubuh mungil nya sangat tak sebanding dengan Sehun, tapi kekuatan gadis ini tidak bisa dibantah lagi. Buktinya, ia menarik tangan Sehun yang jelas-jelas melemaskan tubuh nya sehingga menjadi lebih berat. “Sehun!” Panggil Eunsa yang dibalas gumaman saja oleh Sehun. Eunsa menunjuk sebuah tempat pada Sehun. Dengan enggan Sehun mengikuti arah telunjuk Eunsa. Ia mengernyitkan dahi nya, “Kedai es krim?” Tanya Sehun terkejut, Eunsa mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Sehun. “Ya ampun Eunsa. Kau tahu, kau membangunkan ku hanya untuk memakan es krim. Kau keterlaluan.” Eunsa mencubit lengan atas Sehun dengan kencang. “Kau bilang akan mengabulkan apapun yang kuminta!” Teriak Eunsa menyipitkan mata nya pura-pura marah.

“Baiklah.” Kini giliran Sehun yang menarik tangan Eunsa menghampiri kedai es krim yang diinginkan Eunsa. Eunsa tersenyum-senyum sendiri saat Sehun menuruti keinginan nya. Tangan nya digenggam oleh Sehun dengan erat. Membuat jantung nya berdetak cepat. Wajah nya memanas karena gugup. Eunsa juga tidak tahu kenapa ia jadi gugup seperti ini. Sehun mengerutkan kening nya saat pertanyaan nya tak dijawab oleh Eunsa, dan malah melihat Eunsa yang tersenyum-senyum sendiri.

Sehun dan Eunsa duduk saling berhadapan sembari memakan es krim mereka. Eunsa dengan lahap memakan es krim nya, sedang kan Sehun hanya memandangi Eunsa. “Kau tak makan es krim mu, Sehun?” Sehun menggeleng. “Kalau begitu es krim mu kumakan ya?” Sehun mendorong mangkuk es krim nya mendekat ke Eunsa. Dengan senang, Eunsa langsung melahap nya ganas. Sehun tersenyum kecil saat melihat banyak sekali es krim yang berlumuran disekitar bibir Eunsa. Tangan nya bergerak dengan sendiri nya mengelap lumuran es krim disekitar bibir Eunsa. Eunsa terdiam lalu menundukkan kepala nya. “Kau membuatku gugup, Sehun.” Ujar Eunsa menyembunyikan wajah nya yang memerah.

Sehun terkekeh, “Gugup katamu? Sejak kapan kau bisa gugup, eoh? Kau kan bukan wanita.” Ejek Sehun diiringi tawa nya. Eunsa mengadahkan kepala nya menatap Sehun kesal. Eunsa bangkit dari duduk nya, menatap Sehun yang masih saja tertawa. Dengan perasaan nya yang kesal, ia pergi meninggalkan Sehun yang menatap nya bingung. Sehun yang menyadari kesalahan nya pun mengejar Eunsa. “Eunsa! Aku hanya bercanda!” Ditahan lengan Eunsa oleh Sehun. Terlihat sekali kalau Eunsa marah yang sangat enggan menatap wajah Sehun. “Maafkan aku, eoh? Aku bercanda.” Sehun terus berusaha membuat Eunsa luluh dan memaafkan nya. Ia sangat tahu kalau ia keterlaluan sekali. Dirasanya Eunsa yang tak mau memaafkan nya, Sehun menangkup wajah Eunsa dan mencium bibir Eunsa lembut.

Sehun melepaskan ciuman nya dengan tangan yang masih menangkup wajah Eunsa. “Jangan marah. Aku minta maaf.” Entah dorongan darimana, Eunsa langsung menganggukkan kepala nya. Membuat Sehun tersenyum lebar, dan kembali mencium bibir Eunsa. Lihatlah, mereka menjadi pusat perhatian dari orang-orang sekitar. Tapi mereka seperti tak memperdulikan semua nya. Dan tetap melanjutkan nya.

_____

Sehun mengetuk-ngetukkan bolpoint nya diatas meja sembari mengusap bibir bawah nya. Tatapan nya kosong. Hanya ia berfikir untuk tidak jadi liburan ke Jeju. Ia ingin pergi ke Busan. Tidak tahu kenapa, ia ingin sekali ke sana. Padahal disana ia tak mempunyai saudara atau teman yang tinggal disana. Tapi ia seperti mendapat kilasan untuk pergi Busan sendiri.

Akhir nya peperangan yang terjadi diotak nya pun selesai. Ia akan memilih untuk pergi ke Busan besok. Dilempar bolpoint nya sembarangan. Ia sekarang tahu kenapa ia ingin ke Busan. Disana ada Eunsa. Sehun menjentikkan jari nya dan beranjak keluar dari ruangan nya.

Semua orang membungkuk hormat pada nya, dengan raut yang datar Sehun tetap berjalan tanpa memperdulikan mereka semua. Yang ada difikiran nya hanya satu, Kim Eunsa. Ia akan bertemu dengan Eunsa sebentar lagi. Sehun yakin itu! Feeling nya mengatakan kalau ia pasti bertemu dengan Eunsa. “Kau pasti bertemu dengan nya!” Gumam nya berjalan keluar dari gedung, dan masuk ke dalam mobil nya yang senantiasa menunggu nya.

“Besok kita ke Busan!” Perintah nya tak terbantah, sang supir hanya mengangguk patuh dan menjalan kan mobil nya pulang ke rumah.

.

Jung Ahjumma membantu Sehun memasuk kan beberapa pakaian nya ke dalam koper besar nya. “Berapa lama kau disana, Hun?” Tanya Jung Ahjumma sembari memasuk kan pakaian Sehun ke dalam koper. “Hmm.. Mungkin seminggu, atau sampai aku menemukan nya Ahjumma.” Jung Ahjumma menutup koper Sehun lalu menghadap Sehun. Menatap nya dengan tatapan sendu. “Ahjumma doakan semoga kau bertemu dengan nya..” Sehun tersenyum kecil.

“Terima kasih, Ahjumma. Aku mencintaimu.” Dipeluk Jung Ahjumma oleh Sehun dengan erat. Jung Ahjumma menangis dipelukkan Sehun. Jung Ahjumma hanya berdoa semoga Tuan nya ini menemukan kebahagian nya.

“Kalau begitu ahjumma pergi dahulu.” Jung Ahjumma meninggalkan Sehun sendirian di dalam kamar nya. Sehun menghela napas nya kasar. Kali ini Sehun pasti tidak salah lagi. Sehun tersenyum kecil saat mengingat kilasan memori nya bersama gadis nya.

____

Sehun mendekap tubuh gadis nya dengan erat. Menghirup aroma khas rasa strawberry yang berasal dari tubuh gadis nya. Mereka duduk di sofa kamar Sehun. Menikmati waktu kebersamaan mereka, seperti mereka tak punya hari esok. “Sehun..” Panggil gadis nya mengadahkan kepala nya mencoba menatap wajah Sehun.

Sehun hanya membalas dengan gumaman nya saja tanpa menatap gadis nya. Gadis nya pun memainkan kancing kemeja dan tetap mengadahkan kepala nya menatap wajah Sehun. “Bagaimana..” Jeda nya saat itu. “Jika suatu saat nanti aku pergi meninggalkanmu?” Lantas Sehun membuka kedua kelopak mata nya, dan menatap wajah gadis nya.

“Apa yang kau bicarakan, eoh?” Sehun mencubit hidung gadis nya gemas. Sedangkan gadis nya hanya mengerucutkan bibirnya kesal. Sehun mengelus rambut gadis nya dengan lembut, meletakkan dagu nya diatas kepala gadis nya. Lalu sekali lagi ia menghirup aroma khas strawberry gadis nya. “Apa aku harus menjawab nya?” Gadis nya mengangguk dengan pasti.

“Jika kau meninggalkan ku..” Ditatap wajah gadis nya dari dekat. “Akan kupastikan hidupmu tak akan pernah tenang. Karena, kau membuat pria tampan seperti ku menjadi gila.” Gadis nya terkekeh, lalu mencubit perut Sehun gemas. “Aku serius!” Ujar gadis nya penuh penekanan disetiap kata nya. Sehun memberengut kesal, lalu mengelus pipi putih yang berisi itu dengan perlahan.

“Baiklah putriku, aku akan terus berusaha mencari mu. Bahkan sampai ke ujung dunia pasti aku cari kau. Karena kau tahu?” Gadis nya menggelengkan kepala nya tidak tahu. “Karena kau adalah milikku. Hanya milikku.” Hati nya berdesir. Ia tersenyum kecil saat mendengar Sehun mengatakan nya. Gadis nya pun beranjak dari dekapan Sehun. “Mau kemana?” Tanya Sehun saat melihat gadisnya ingin keluar dari kamar. “Mau makan. Apa kau juga mau makan?” Sehun tersenyum dan menganggukkan kepala nya. Ia pun juga beranjak dari sana mengikuti gadis nya.

______

Sehun mengeluarkan kaos hitam miliknya dari dalam koper nya. Kini ia sedang berada di dalam kamar hotel yang kebetulan punya rekan kerja nya, sehingga ia diberikan kamar dengan cuma-cuma. Sehun mengenakan kaos hitam beserta celana pendek berwarna cream kecoklatan.

Sehun berencana untuk pergi jalan-jalan disekitar hotel. Sebelum itu ia menghubungi Hyena, kalau ia sudah sampai di Busan. Dan seperti nya calon Ibu itu menginginkan nya untuk membeli ikan di pasar Jagalchi. Soal itu pun Kai sudah meminta maaf karena merepotkan nya. Tapi untungnya Sehun mengerti kalau Hyena sedang mengandung.

Sehun pun juga tidak tahu harus kemana pun akhirnya memilih untuk kembali ke kamar hotel. Memandangi pemandangan Busan dari balkon kamar hotel nya. Kedua lengan nya bersanggah di pagar balkon. Sehun sudah lama tak bersantai seperti ini. Ia lama sekali.

“Eunsa, kemana kau sebenar nya, eoh?” Lirih Sehun memejamkan mata nya. Benar-benar seperti pria yang sangat frustasi. Diacak rambut nya dengan frustasi. Sehun pun memilih untuk membasuh tubuh nya. Mungkin jika ia membasuh tubuh nya, pikiran nya akan sedikit lebih tenang.

Diputar kran shower nya oleh Sehun, sehingga buliran-buliran air itu berjatuhan turun membasahi kepala sampai ke kaki nya. Tanpa kalian sadari, buliran air mata ikut turun, seperti ingin ikut membasahi tubuh nya. Jika kau melihat nya secara langsung, betapa lemah nya Oh Sehun ini.

Menangis dibawah guyuran air shower?

Memang terlihat lemah, tapi Sehun tidak lemah. Ia menangis karena masih mempunyai hati dan perasaan. Ia hanya tidak percaya untuk yang kedua kali nya, ia kehilangan wanita yang disayangi nya. Sangat disayangi nya dan juga dicintai nya.

.

Hari ke lima Sehun di Busan snagatlah membosankan. Ia kira akan sangat menyenangkan disini, tahu nya tidak. Ia menghabis kan hari-hari nya di Busan sama saja seperti ia menghabis kan hari-hari nya di Seoul. Hanya berdiam diri di dalam kamar hotel.

Hari ini Sehun berniat ke pasar Jagalchi untuk membelikan ikan yang diminta oleh Hyena. Ia akan pulang besok. Percuma jika tak melakukan apa-apa disini. Lebih baik ia di Seoul menghabis kan waktu nya di dalam ruang kerja.

Ketika Sehun sedang memperhatikan ikan apa yang harus ia beli, tatapan nya terhenti pada sebuah objek yang tak asing bagi nya. “K-kim E.. E-eunsa?” Lirih Sehun dengan terbata-bata. Dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, dan tanpa babibu lagi ia segera berlari menghampiri wanita yang ia kira adalah Kim Eunsa.

“Eunsa!!” Panggil nya dengan suara yang lantang. Orang yang dipanggil nya pun menoleh dan membulatkan mata nya terkejut sama hal nya dengan Sehun. Bahkan sebulir air mata turun mengalir dipipi nya.

“Eunsa jangan lari!!!!” Teriak nya saat melihat wanita itu berlari seperti menghindari nya. Dengan sekuat tenaga, Sehun berusaha mempercepat lari nya sehingga ia tepat berada di belakang wanita itu.

Dengan kasar ia tarik pergelangan tangan wanita itu. “KAU MAU KEMANA, EUNSAA!?!” Bentak nya dengan wajah yang memerah, napas nya tersengal-sengal sehabis berlari. Ditatap wajah wanita yang berada di hadapan nya ini dengan sendu. Tapi beberapa saat kemudian tatapan Sehun berubah menjadi tajam, “KAU MAU MENINGGALKAN KU LAGI, EUNSA?!” Wanita itu menggelang kan kepala nya sembari menundukkan wajah nya.

Beberapa saat kemudian tatapan Sehun kembali berubah sendu, “Lalu kenapa kau berlari, Eunsa?” Lantas Eunsa mengadahkan wajah untuk menatap wajah Sehun yang lebih tinggi dari nya. Dihentakkan tangan nya dari pengangan Sehun. Ditatap wajah Sehun dengan tatapan tajam nya walaupun mata nya memerah karena menangis.

“Pergi! Jangan temui aku lagi, brengsek!!!”

“Apa kau sebegitu benci nya kah pada ku? Tidak bisa kah kau melupakan nya, dan memaafkan ku?” Pinta Sehun memelas. Kedua orang itu sama-sama berkaca-kaca mengingat kejadian terdahulu mereka.

______

“Sehun..” Panggil Eunsa yang mengembulkan kepala nya dari balik pintu ruang pribadi Sehun. Sehun yang merasa nama nya dipanggil pun menoleh kearah sumber suara tersebut. 

Dengan perlahan, Eunsa menghampiri Sehun yang sedang berdiri menghadap ke keluar jendela dengan satu tangan mengenggam kaleng soda dan tangan satu nya lagi di dalam saku celana. Eunsa berjalan mendekati Sehun dengan perlahan-lahan seraya menundukkan kepala nya.

Ketika Eunsa baru saja ingin mengeluarkan suara nya, Sehun terlebih dahulu mengeluarkan suara nya. “Ada apa? Jika tidak penting, bisa kah kau tinggal kan aku sendirian?” Eunsa menghembuskan napasnya kasar.

Eunsa tersenyum pahit. Seperti nya ia sudah tak berarti lagi.

“Katakan lah!”

“Aku hamil.”

Dengan gerakkan yang spontan, Sehun membalikkan badan nya memandang Eunsa dengan wajah datar. Ia kembali ke posisi awal nya menghadap keluar jendela. “Aku tahu.”

B-bagaimana bisa?”

Sehun berjalan menuju sebuah lemari dan mengambil sebuah amplop dari sana lalu melemparkan nya kepada Sehun. “Lihat dan baca dengan baik.” Ujar nya dan kembali lagi ke posisi awal nya.

Eunsa pun berjongkok untuk mengambil amplop tersebut yang tergeletak diatas lantai yang dingin. Sedikit gugup dan ragu untuk melihat isi amplop tersebut, tapi dengan percaya diri ia membuka nya.

Demi apapun Eunsa tak percaya ini. Sehun sudah mengetahui kandungan nya sebelum ia mengetahui nya. Mata nya berkaca-kaca. Dibalik surat dari rumah sakit, ada sebuah surat perjanjian. Dimana Eunsa harus menggugurkan kandungan nya.

“Menggugurkan kandunganku? Kenapa?” Lirih Eunsa dengan mata yang berkaca-kaca. “Karena anak itu hadir di waktu yang tidak tepat dan pada hubungan yang salah.” Eunsa menutup mulutnya, menahan isakkan tangisan nya.

Ia tidak percaya kalau Sehun seperti ini. Sungguh ia tak percaya. Ia sangat senang saat dinyatakan hamil. Karena, Sehun pasti menikahkan nya dan mereka akan menjadi keluara yang harmonis. Tapi apa ini? Malah ini yang ia dapatkan.

“Bagaimana kalau aku tidak mau?” Pertanyaan itu spontan keluar dari mulut Eunsa.

“Aku akan memaksa.”

Lagi-lagi Eunsa dibuat terkejut. Kenapa dan kenapa Sehun menjadi seperti ini. Hanya ada kata kenapa dipikiran nya sekarang. Eunsa bangkit dan memandangi punggung Sehun dengan tatapan sendu.

“Baiklah! Aku akan menuruti apa katamu. Tapi..” Eunsa memberi jeda sebentar, “Ku pastikan kau takkan pernah melihatku lagi.”

Seiring kepergian Eunsa dari ruangan nya. Sebutir air kristal mengalir dari sudut kedua mata Sehun. “Maafkan aku, Eunsa. Maaf.. Sungguh aku minta maaf.” Lirih nya.

.

Eunsa sedikit mempercepat langkah nya melewati halaman belakang. Kenapa ia harus lewat halaman belakang? Alasan nya hanya satu, Sehun sedang memandang ke keluar jendela. Otomatis Sehun akan mengetahui nya. Tanpa memakai alas kaki, Eunsa berjalan diatas rerumputan. Memanjat ke atas dinding.

Eunsa berhasil. Segera ia mempercepat lari nya menjauhi rumah besar tersebut. Eunsa berjanji, ia tidak akan pernah mau masuk ke rumah itu. Rumah yang membuat semua nya menjadi hancur. Ia hancur, hati pun juga hancur.

Ia berhenti disebuah taman dengan kedua tangan bertumpu dikedua lutut kaki nya. Nafas nya tersengal-sengal. Eunsa tak kuasa untuk menahan tangis nya. Ia membekap mulut nya dengan mata yang berair. Kenyataan ini sungguh tak bisa ia terima. Semua nya seolah-olah berbelok begitu saja. Yang awal nya bahagia, sekarang berakhir menjadi seperti ini.

“Aku mencintaimu. Tapi aku tak bisa. Aku tak bisa diperlakukan seperti. Aku merasa seperti sampah. Aku kecewa padamu, Hun. Aku sangat mencintaimu.” Eunsa kembali terisak. “Jika kita memang ditakdirkan untuk bersama, kita pasti akan bertemu lagi, Hun. Aku mencintaimu.” Kalimat terakhirnya setelah ia kembali berlari menjauhi kawasan tersebut. Entah kemana ia akan pergi. Ia juga tidak tahu.

______

Sehun mengenggam tangan Eunsa dengan erat. Sangat erat sampai Eunsa sempat meringis kesakitan. Kini, mereka berdua sedang berjalan berdua menuju ke tempat tinggal Eunsa. Sebenarnya ini terjadi begitu saja.

Beberapa menit yang lalu, Sehun mengatakan kalau ia ingin kembali bersama dengan nya. Lalu dengan polos nya, ia menganggukan kepala nya. Bagi nya tak ada yang salah selagi ia masih mencintai Sehun. Tak henti-henti nya Sehun menyunggingkan senyuman lebar nya. Sesekali ia memperlibat kedua tangan mereka pada orang-orang yang menatap mereka berdua iri.

Sehun menatap sebuah rumah kecil yang seperti nya tak pantas untuk ditinggali. Eunsa berjalan lebih dahulu dan membuka pintu tersebut dengan kunci yang ia keluarkan dari dalam tas nya. “Jadi.. Kau tinggal disini?” Tanya Sehun dengan tatapan sendu nya yang dijawab anggukan oleh Eunsa tanpa menoleh.

“Masuklah..” Eunsa pun masuk lebih dahulu dan memberikan ruang untuk Sehun. “Kau duduk saja disana, aku ingin bertemu dengan Hyunjae.” Ujar Eunsa setelah ia pergi keluar rumah. Menghilang begitu saja.

Hampir Sehun menunggu sekitar satu jam. Dan ia beerpikir kalau Eunsa pergi meninggalkan nya. Sampai dimana ia sadar. Bahwa kini semua nya hanya khayalan nya saja. Tidak ada Eunsa yang kembali. Tidak ada Hyunjae.

 

Karna,

 

Sehun sadar bahwa mereka telah pergi untuk selamanya.

 

-End-

A/N: Wkwk yang mau marah boleh kok. Ini sebenarnya tinggal post aja cuman aku selalu lupa buat post. Udah selesai dari kapan tau. Dan maaf kalau kecewa tapi disini aku mau jelasin. Sebenernya Sehun itu delusi. Dia selalu nganggep Eunsa masih hidup pdhl Eunsa itu udh mati karena kecelakaan bareng dia. Dan.. Sehun gaterima. Maf mencewakan kalian semua hehhe. Ditunggu cerita lain nya ya!

Advertisements

Author: Sashka

Jongin's wife. Teleporters // Whirlwinds // Pyromaniac.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s